Ekspor dan Investasi Pertanian Meningkat

INDOPOS.CO.ID – Indonesia pernah tercatat menjadi negara dengan inflasi terendah dalam sejarah. Menteri Pertanian Amran Sulaiman membeberkan capaian yang dilakukan jajarannya selama 4 tahun.

Dari 2014 lalu, dikatakan Amran Sulaiman, saat serah terima jabatan sampai saat ini atau memasuki tahun ke lima untuk inflasi sempat berada di 8 persen. Saat ini di 2018-2019, inflasi 3,15 persen.

“Tapi di sektor pertanian inflasi untuk pangan. Kita lihat pada 2014 itu diangka 10,5 persen,  saat ini turun menjadi 1,2 persen. Menurunkan 0,5 persen saja begitu sulitnya. Ini turun 8,8 persen, kurang lebih 90 persen turun inflasi pangan. Itu menunjukan produksi pangan kita meningkat,” ujarnya saat di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (14/1/2019).

Yang menarik, kata dia,  inflasi turun tapi kesejahteraan petani naik. Sebab, itu dipastikan dapat terjadi bila memotong rantai pasok. Menurutnya, keberhasilan menekan inflasi ada kontribusi dari Kementerian Desa, yang membangun jalan-jalan desa. 

“Yang mendapat keuntungan 100-300 persen, kita perkecil disparitas (perbedaan) harga dari kebun ke konsumen,” beber Amran. “Kita sudah menempatkan posisi inflasi pangan posisi terbaik 1,26 persen,” jelas Amran.

Lebih lanjut, dia mengatakan, ada 460 komoditas yang perlu dijaga. Tidak hanya padi, misalnya  cabai yang jenisnya ada 5 macam. Adapun ekspor sektor pertanian, juga  naik 29 persen. Tidak hanya itu, dia juga menyebutkan, ekspor juga mengalami kenaikan seperti Sawit naik 24 persen.  Kemudian kakao, karet dan  kopi.

“Ini tidak boleh bermasalah. Satu bermasalah kita dihujat, harga turun dan naik kita  dihujat. Harus kita jaga,” beber Amran.

Sementara impor sejumlah komoditas justru mengalami penurunan. Amran mengatakan, suatu negara ingin tumbuh dengan baik, sehingga Presiden Jokowi berpesan mendorong ekspor dan investasi.  “Itu kita lakukan,” tegasnya.

Menurutnya, nilai  investasi pertanian meningkat. Pada 2013, investasi sektor pertanian Rp 29 triliun. Pada 2014 mencapai Rp 44 triliun. Sedangkan, 2018 naik seratus persen dibandingkan 2013. Meningkatnya jumlah investasi, disebabkan pihaknya mencabut 291 Permentan yang menghambat investasi.

“Kemudian dulu kalau mau ekspor butuh waktu 3 bulan. Terakhir ini 13 hari. Ada OSS butuh 3 jam. Sekarang kalau mau ekspor kita siapkan karpet merah buat mereka. Tidak ada pungli, kalau ada langsung kita sanksi,” jelasnya.

Amran menambahkan, untuk PDB pertanian sekitar Rp 994 triliun. Saat ini, diakhir masa jabatan sekitar Rp 1.400 triliun. Tentunya ada kenaikan yang mencapai Rp 500 triliun dengan  Akumulasi Rp 1.300 triliun, atau sekitar separuh dari APBN.

“Kemudian, pertama dalam sejarah, pengelolaan keuangan Kementerian Pertanian mendapatkan WTP, moga-moga tahun ini WTP lagi. Mudah-mudahan jadi kenyataan. Kami terima laporan dari Irjen, bahwa relatif tidak ada masalah,” jelas Amran.

Di sisi lain, pengaruhnya tidak secara langsung atas kinerja positif yakni, dengan melakukan transformasi dari pertanian tradisional menuju pertanian modern. Dengan memanfaatkan teknologi, dapat menurunkan biaya produksi serta meningkatkan produktifitas pertanian. Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Edy Prabowo mengapresiasi kinerja Kementan.

“Kami selalu mendorong supaya terealisasi cita-cita sektor pertanian kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” pungkasnya.(dai)

Komentar telah ditutup.