Ingin Anaknya Pulang, Bawa Makanan Ringan hingga Jengkol

INDOPOS.CO.ID – Para penerima manfaat di panti sosial karya wanita Mulya Jaya Jakarta adalah ekspekerja seks komersial. Mereka selama enam bulan menerima bimbingan mental, keterampilan hingga konseling.

Jam besuk di panti sosial ini dibuka untuk umum pada Senin dan Kamis. Sejak pagi, petugas sudah sibuk menyiapkan buku daftar keluarga dari penerima manfaat di panti sosial. Sebelum masuk, keluarga wajib melapor di bagian pendaftaran.

Para keluarga datang berkelompok. Dari orangtua hingga kerabat lainnya. Mereka harus menunggu hingga jam makan siang tiba. Karena, para penerima manfaat wajib mengikuti program bimbingan.

Beberapa program bimbingan sudah terjadwal. Dari bimbingan kerohanian hingga bimbingan keterampilan. Dengan serius mereka mengikuti petunjuk instruktur. Dari membuat pola, memotong pola hingga menjahit pola.

Baca Juga :

“Coba, kalian sesuaikan pola dengan bahan yang sudah ada,” ucap instruktur diikuti para penerima manfaat memasang pola pada bahan. Bimbingan keterampilan setiap hari diberikan kepada penerima manfaat selama 1,5 jam.

Selain itu, sejak pagi sudah mengikuti bimbingan kerohanian. Setelah selesai mereka bergegas menuju aula. Mereka masih mengenakan pakaian training lengkap dengan kerudung merah. Tangis pun pecah, saat keluarga bertemu dengan para penerima manfaat. Mereka saling rangkul dan berpelukan. Para penerima manfaat di panti tersebut adalah eks perempuan pekerja seksual. Salah satunya kasus prostitusi berkedok kawin kontrak di Cisarua, Bogor.

Baca Juga :

Mengintip Tips Cantik Ala Dhini Aminarti

Sembari berbincang-bincang, keluarga yang membawa bekal makan siang mengajak makan siang. Suasana sangat akrab terlihat hingga makan siang selesai. “Nggak mau pulang, mau sama mama,” renggek seorang anak saat berpamitan dengan ibunya yang menjadi salah satu penerima manfaat di panti itu.

Salah satu keluarga penerima manfaat yang besuk siang itu Ema, 53. Perempuan setengah abad ini datang bersama keluarga untuk membesuk Nia, 30. Ditemui INDOPOS, Ema mengaku sangat terharu bertemu dengan anaknya. Ia mengatakan, anaknya sudah menjadi penerima manfaat sejak sebulan lalu.“Alhamdulillah, dia sekarang kelihatan cerah dan segar. Nggak kayak dulu, mukanya pucat,” ungkap Ema kepada INDOPOS, Kamis (17/1/2019).

Perempuan yang mengaku tinggal di Sukabumi ini menyebutkan, datang membesuk putrinya dengan membawa makanan kesukaannya. “Tadi kita bawa makanan ringan dan makanan kesukaan Nia, yakni jengkol,” katanya.

Ema berharap, anaknya bisa kembali ke pangkuan keluarga, setelah menjalani bimbingan di panti sosial. “Kita pingin Nia mau pulang ke rumah. Karena bapaknya sakit-sakitan menanyakan dia terus,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Layanan Rehabilitasi Sosial Mulya Jaya Jakarta Edy Santoso mengatakan, yang menjadi kesulitan membimbing penerima manfaat di panti sosial adalah mengubah mindset dan pola pikir. Salah satu teknik yang dilakukan dengan memberikan penguatan motivasi dan menanamkannya di dalam hati.

“Kalau bimbingan fisik ya untuk kesehatan bagi penerima manfaa. Sementara itu, untuk psikososialnya agar mereka bisa menadiri menjalankan peran sosialnya di masyarakat,” terang Edy Santoso.

Pria lulusan program pascasarjana (S2) di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menuturkan, selama menjadi penerima manfaat di dalam panti, mereka mendapatkan bimbingan keterampilan dasar. Dalam satu tahun ada dua semester bimbingan yang wajib diikuti para penerima manfaat.“Kita juga melakukan penjangkuan ke masyarakat. Ini untuk memberikan bimbingan secara langsung kepada ekstuna susila,” katanya.

Edy mengatakan, penjangkuan ini melibatkan petugas Satpol PP dan kepolisian. Pada setiap penemuan kasus oleh Satpol PP, pihaknya langsung melakukan penjangkuan dengan memberikan bimbingan secara langsung di tempat atau membawanya ke panti. “Ya syaratnya penerima manfaat mau diajak ke panti. Bila tidak ya kita berikan bimbingan di tempat,” katanya.

Lebih jauh, pria lulusan program sarjana (S1) di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung ini mengungkapkan, bimbingan yang diperoleh para penerima manfaat di panti dari terapi fisik, mental, psikososial, dan bimbingan keterampilan. “Target kami tahun lalu 160 orang,” bebernya.

Dalam enam bulan, menurut Edy, para penerima manfaat menerima bimbingan kesehatan atau terapi fisik seperti olahraga dan kedisiplinan. Kemudian bimbingan mental dengan memberikan bimbingan kerohanian dengan melibatkan ulama dan pemuka agama. ‘Kami ajarkan mengaji dan perbaikan akidah,” ucapnya.

Untuk bimbingan psikososial, masih ujar Edy, bimbingan berupa terapi jiwa dan kegiatan sosial, untuk memberikan penguatan dan motivasi bagi para penerima manfaat saat kembali ke masyarakat. “Bimbingan semua sudah terjadwal. Seminggu 2 kali, untuk teknis setiap hari. Kecuali yang sifatnya khusus atau kasuistik dengan bimbingan konseling,” ungkapnya.   

Pria yang dikaruniai dua orang anak dari perkawinannya dengan Maryati, 45, mengatakan, selama empat bulan para penerima manfaat menerima bimbingan keterampilan tata rias rambut dan kulit, tata rias pengantin, keterampilan kuliner, ketrampilan pengolahan pangan, handicraft, dan menjahit.

“Selama 4 bulan, lebih besar praktik, teorinya hanya 20 persen. Selesai bimbingan kita berikan peralatan yang menunjang ketrampilan, misal ketrampilan menjahit kita berikan mesin jahit,” ungkapnya.

Beberapa kasus, dikatakan Edy, para penerima manfaat kembali menjadi pekerja seks lagi. Pada kasus yang terjadi pada 2018 sebagian besar karena faktor ekonomi dan lingkungan. Jumlahnya pun kecil, hanya 10 persen. “Bimbingan kami di panti sifatnya hanya mengubah perilaku dan sikap. Tentu selesai dari panti, kami tetap melakukan kontrol. Bila mereka kembali ke jalan, itu karena mental,” katanya.

Untuk meningkatkan program bimbingan, masih ujar Edy, pihaknya memberikan layanan bertahap, yakni dua minggu, dua bulan dan empat bulan. Pada tahap dua minggu, menurut Edi, setiap penerima manfaat akan dikelompokkan. Tujuannya agar pemberian bimbingan tepat sasaran.“Kalau dalam 2 minggu penerima manfaat diketahui mengidap HIV/AIDS maka kita rujuk ke lembaga lain,” katanya.

Sementara untuk tahap dua bulan, para penerima manfaat diberikan bimbingan ketrampilan dengan metode kurikulum yang lebih singkat dan padat. Diharapkan metode ini bisa menumbuhkan harapan dan motivasi pada penerima manfaat. “Metode ini kita harap tepat sasaran, sehingga penguatan motivasinya lebih dapat,” pungkasnya.(*)

 

Komentar telah ditutup.