Nasional

Telusuri Fakta Sebelum Bersikap

Redaktur: Ahmad Nugraha
Telusuri Fakta Sebelum Bersikap - Nasional

MENJELASKAN - Kris Wijoyo Soepandji saat berbicara di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Foto: Dok.Pribadi

INDOPOS.CO.ID - Teknologi informasi saat ini berkembang dengan sangat cepat. Ini memungkinkan masyarakat untuk mengakses beragam informasi dari berbagai belahan dunia dengan mudah.

Namun, di sisi lain penyebaran informasi yang demikian cepat dan mudah dapat menimbulkan efek negatif apabila masyarakat tidak terlebih dahulu memeriksa kebenaran informasi yang diperoleh.

Hal itu disampaikan dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia Kris Wijoyo Soepandji dalam diskusi bertopik “Konflik Uyghur: Sebuah Upaya Meramu Titik Temu” yang diadakan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jumat (11/1/2019).

Selain Kris, diskusi menghadirkan pembicara Ardhitya E. Yeremia Lailisang (pengajar hubungan internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia), Fathan Asadudin Sembiring (Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok 2013-2015), serta Heru Susetyo (ahli hak azasi manusia Fakultas Hukum Universitas Indonesia).

Kris mengingatkan agar masyarakat bersikap kritis dalam menyikapi informasi, sebab penyebaran informasi tidak terlepas dari kepentingan pihak pemberi informasi. Ia mencontohkan, pada tahun 2003 sebagian media massa menyebutkan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal.

Hal ini kemudian dijadikan alasan pembenaran bagi Amerika Serikat (AS) untuk menginvasi Irak dan menjatuhkan pemerintahan Saddam Hussein.

Akan tetapi, tuduhan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal tidak terbukti. Selain itu, kemudian diketahui bahwa alasan invasi ke Irak lebih dilatarbelakangi oleh motif penguasaan sumber minyak.

“Ini membuktikan kepada kita betapa sebuah informasi yang tidak ditelusuri dulu kebenarannya dapat mengakibatkan kehancuran, seperti kehancuran yang dialami Irak setelah perang,” kata Kris yang juga sebagai penulis buku “Ilmu Negara: Perspektif Geopolitik Masa Kini”.

Kris juga mengingatkan masyarakat untuk menelusuri terlebih dahulu fakta sebenarnya dari pemberitaan mengenai Uyghur yang marak di media massa dan media sosial akhir-akhir ini. Pemberitaan itu terkait diskriminasi terhadap etnis Uyghur yang mayoritas Muslim dan tinggal di provinsi Xinjiang, Tiongkok.

Selain diskriminasi, pemerintah Tiongkok dikabarkan mendirikan kamp konsentrasi bagi orang Uyghur, sehingga memicu demonstrasi di depan kedutaan Republik Rakyat Tiongkok di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Kris, menelusuri fakta sangat penting, agar masyarakat bisa bersikap adil dalam melihat dan menilai suatu isu. “Bahkan, kitab suci Al Quran memerintahkan untuk bersikap adil, karena adil mendekatkan manusia pada takwa,” ujar Kris.

Ia juga menambahkan bahwa dalam konteks lebih luas, Al Quran melarang manusia untuk bersikap tidak adil, bahkan terhadap orang yang dibenci sekalipun.

Dalam kesempatan yang sama, Fathan Asadudin Sembiring menyampaikan pengalamannya selama belajar di Tiongkok selama lima tahun. “Secara umum, umat Islam di Tiongkok dapat menjalankan agama dan kepercayaannya dengan leluasa. Bahkan, di ibu kota Tiongkok mesjid dapat dengan mudah ditemukan,” kata Fathan.

Senada dengan Kris, Fathan mengingatkan agar masyarakat memverifikasi informasi yang diterima, termasuk dalam kasus Uyghur.

Sementara itu, Ardhitya E. Yeremia Lailisang menggarisbawahi tentang perlunya bersikap kritis tentang mengapa suatu pemberitaan menjadi topik hangat di suatu kelompok.

“Sebagai contoh, setelah ditelusuri, 90 persen pemberitaan mengenai Uyghur saat ini beredar di Indonesia. Selebihnya, tersebar di negara-negara seperti Mesir dan Turki. Ini tentu menarik untuk dicermati,” kata Ardhitya. (dan)

Berita Terkait

Megapolitan / Sediakan Beasiswa Bagi Lulusan SMA

Megapolitan / Wujudkan Siswa Berakhlakul Karimah

Nasional / Mendikbud: Kapasitas Guru Vokasi Ditingkatkan

Daerah / Kirim Siswa Belajar di AS

Headline / UI Harap Pemerintah Tak Perlu Impor


Baca Juga !.