Tuai Banyak Kritikan, KPU Ubah Konsep Debat Capres Edisi II

INDOPOS.CO.ID – Debat Capres/Cawapres edisi perdana menuai banyak kritikan. Selain kaku, output dari debat juga kurang detail dan kurang menggambarkan visi dari Paslon yang berdebat. Untuk itu, dalam debat edisi kedua Februari mendatang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan mengubah konsep debat.

Yang terpenting, KPU memastikan tidak akan memberikan kisi-kisi pertanyaan debat
kepada pasangan calon. Meski begitu, kandidat tetap diperbolehkan membawa alat tulis.

“Ya kisi-kisi pertanyaan gak akan kita beritahukan. Cuma kandidat tetap diperbolehkan
membawa alat tilis, catatan dan membawa dokumen,” kata Komisioner KPU Wahyu
Setiawan kepada wartawan di Kantor KPU, Jakarta, Senin (21/1/2019).

Wahyu mengambil contoh debat di Amerika Serikat di mana kandidat Capres tetap
membawa dokumen jika berkaitan dengan data.

“Kalau kita cermati debat-debat di Amerika itu juga ada meja kecil berisi dokumen.
Sekarang bayangkan kalau paslon itu menjelaskan data, yang sumbernya dari BPS
(statistik), apa mungkin itu dihapalkan. Sehingga kita juga bijaklah, catatan itu tidak selalu
konotasinya negatif, dan mereka boleh mencatat di situ,” ujarnya.

Selain tidak memberikan kisi-kisi, beberapa evaluasi terbaru dalam debat pertama yang
akan diterapkan di debat kedua dan debat-debat berikutnya adalah formasi panggung

“Perubahan lainnya adalah soal tata panggung. Di belakang kandidat yang pas debat
pertama kan ada orang-orang itu. Untuk debat kedua tidak ada seperti itu. Kan gaduh,
tidak tertib,” ujarnya.

Lalu, peran moderator, ucap Wahyu akan ditambah. “Hal itu supaya bisa memandu
jalannya debat supaya lebih dinamis. Jadi di debat kedua nanti, kami pastikan format debat
membuat penonton di rumah lebih nyaman menyaksikan,” jelasnya.

Terkait keberadaan panelis untuk debat kedua yang akan dilaksanakan pada 17 Februari
dengan tema lingkungan hidup, pangan, sumber daya alam, energi, dan infrastruktur, lanjut
Wahyu masih dibahas oleh KPU.

“Untuk nominasi panelis banyak. Seperti misalnya pemerhati lingkungan hidup, NGO
pemerhati lingkungan hidup atau pakar dari perguruan tinggi yang disiplin ilmunya energi
dan SDA. Nanti ya kami akan informasikan,” ujarnya.

Meski begitu, lanjut Wahyu, nama-nama panelis tidak akan disebutkan sebelum ada
keputusan final. “Kita hindari kalau sudah disebutkan lalu gak jadi, kami menjaga
martabat. Kami yang pasti sudah identifikasi siapa saja calon panelis itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan bahwa waktu debat akan ditambah, khususnya dalam
penyampaian visi dan misi per 3 menit. “Ya kami akan ubah tambah waktunya. Namun
berapa penambahannya masih akan kita bahas, khususnya kepada stasiun televisi,”
bebernya.

Sementara, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Aria Bima juga mengakui
debat pertama banyak kekurangan yang harus dievaluasi oleh KPU.

“Salah satunya adalah waktu debat yang pendek. Sehingga kaku dan tak luwes tegang. Dan
kami minta visi misi dibacakan 4-6 menit, karena menyangkut substansi dan program,”
ujar Aria.

Ia pun menjelaskan bahwa pihaknya siap menyerahkan apapun keputusan KPU untuk
memperbaiki debat-debat berikutnya.

“Kami sepakat timses 01 02 menyerahkan sepenuhnya kewenangan KPU sesuai UU. Kami
Kan siap saja, bukan mendikte atau menekan KPU. Kami jngin kpu punya legitimasi,”
tambahnya.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Priyo Budi Santoso turut mengaku setuju bahwa ada
perubahan di dalam debat kedua dan seterusnya.

“Kami beri masukan kepada KPU memungkinkan format debat lebih natural rileks lebih
memungkinkan calon eksplorasi gagasan bebas. Ini lagi didesain,” ujar Priyo di kantor
KPU.

Sekjen Partai Berkarya ini pun mengaku dengan tidak ada pemberian kisi-kisi pertanyaan.
“Pada prinsipnya lebih menyukai jika debat kedua nanti lebih memunculkan adanya
‘tarung bebas’ antar kandidat dalam mengemukakan gagasan,” tambahnya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Jenderal Soedirman, Ahmad Sabiq
mengatakan bahwa debat calon presiden dan wakil presiden tahap kedua harus alamiah
dan tanpa pemberian kisi-kisi.

Dia mengingatkan, publik menghendaki calon presiden atau wakil presiden yang selalu
siap dalam menghadapi situasi apapun. “Termasuk pertanyaan apa saja yang muncul

dalam debat,” katanya. Untuk itu, kata dia, perlu format baru yang ditampilkan pada debat-
debat selanjutnya, agar lebih menarik. (dil/ant)

Komentar telah ditutup.