Jakarta Raya

Suka Air Jernih dan Bersih

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Suka Air Jernih dan Bersih - Jakarta Raya

Ilustrasi gambar DBD. Foto : Dok/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Intruksi Gubernur (Ingub) tentang Penanganan DBD sebentar lagi keluar. Ingub itu nanti akan menjadi landasan untuk melakukan pembiayaan-pembiayaan agar kegiatan penanganan DBD berjalan. “Ini membutuhkan dasar hukum. Itu nanti akan keluar, tetapi kegiatannya sudah jalan. Jadi tidak menunggu Ingub dulu,” ujar Anies Baswedan di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Anies menyebutkan, data survei dari Dinas Kesehatan per 28 Januari 2019 lalu jumlah kasus DBD sebanyak 662 kasus. Angka ini sangat tinggi dibandingkan tahun lalu ataupun dua tahun lalu. “Jadi memang kita menghadapi situasi yang berbeda, ini diperlukan keterlibatan semua pihak,” katanya.

Anies berharap masyarakat bisa menjadi jumantik di rumahnya masing-masing. Karena perpindahan nyamuk tidak lewat rute transportasi seperti normalnya manusia. Tetapi mereka terbang dari satu tempat ke tempat lainnya. 

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, DKI Jakarta memasuki fase waspada kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD). Untuk itu, menurutnya perlu dilakukan langkah-langkah seperti menyebarkan informasi tentang waspada DBD dan pengendalian dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) menutup, menguras dan mendaurulang (3M) tempat perkembangan nyamuk.

Terpisah, Ketua Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan mengatakan, wabah DBD terjadi karena banyaknya genangan air setelah hujan yang dapat menjadi sarang nyamuk aedes aegypti. Karena nyamuk itu hanya suka bersarang di air jernih dan bersih. 

"Dan setiap datang wabah demam berdarah, Pemprov DKI selalu disibukkan dengan fogging dengan maksud membunuh nyamuk DBD. Namun sayang pelaksanaan fogging yang dilakukan sering tidak tepat sehingga tidak efektif dalam membunuh nyamuk DBD," kata Tian, panggilan akrab Martha Tiana Hermawan. 

Tian menyatakan, nyamuk DBD ini termasuk golongan nyamuk yang memiliki jam operasional tertib. Karena dia akan pergi dari sarangnya untuk menghisap darah 1-1,5 jam setelah matahari terbit. 

Tian menambahkan, nyamuk DBD ini juga tidak sembarangan dalam menggigit korbannya. Ada jam biologis yang membuatnya lebih aktif pada jam-jam tertentu. 

"Nyamuk DBD paling sering menggigit 2 jam setelah matahari terbit dan 3 jam sebelum matahari terbenam. Dan uniknya nyamuk DBD tidak beroperasi di sekitar tempat nyamuk tersebut bersarang. Dia akan terbang dulu sejauh 100-200 meter sebelum melakukan aktivitas menggigit," ujar Tian 

Masih menurut Tian, banyak terjadi ketidakefektifan dalam melakukan fogging. Masih banyak fogging dilakukan diatas jam nyamuk DBD terbang meninggalkan sarangnya sehingga di satu lokasi fogging hanya membunuh nyamuk biasa dan serangga jenis lainnya. 

"Sehingga perlu kiranya Pemprov DKI kembali memberikan pemahaman yang lengkap terhadap siklus hidup nyamuk DBD kepada petugas fogging, camat, lurah, ketua RT, dan ketua RW agar terwujud niat membunuh nyamuk DBD dengan melakukan fogging tersebut," ungkap Tian. 

Menurut Tian, fogging dilakukan tidak sesuai dengan waktu aktif nyamuk DBD, selain membuang anggaran juga hanya membunuh nyamuk biasa dan serangga saja dan juga berdampak pada kesehatan warga. "Satu saat terjadi lagi penderita DBD lalu difogging lagi dengan pola yang tidak efektif tadi justru lama-lama warga yang akan terkena dampak dari racun dalam asap fogging tersebu," terang Tian. 

Tian juga mengatakan bahwa yang paling efektif dalam memberantas nyamuk DBD adalah dengan melakukan 3 M dan membunuh jentik nyamuk agar tidak menjadi nyamuk baru. 

Bukan cuma itu, Tian juga menagih janji Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan  yang dalam kampanyenya akan membangun peran partisipasi aktif warga dalam mengatasi masalah kesehatan di lingkungan tempat tinggal warga. 

"Gubernur harus segera merealisasikan janjinya untuk membangun partisipasi aktif warga dalam mengatasi masalah kesehatan di lingkungan tempat tinggal warga, jangan hanya aktif di acara-acara yang seremonial saja" imbuh Tian. 

Tian juga menyerukan peran aktif warga untuk dapat melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan jentik dimulai dari rumah dan halaman rumah masing masing. 

Tian berpendapat, warga tidak bisa menunggu pemimpin daerah yang tidak peduli dengan nasib warganya. "Ayo aktif berantas sarang nyamuk dan jentik nyamuk. Pertahankan halaman rumah kita masing-masing. Jangan sampai menjadi sarang nyamuk DBD," pungkas Tian.(nas/wok)

 

Berita Terkait

Nusantara / Ratusan Orang Terjangkit DBD, Empat Meninggal

Megapolitan / DBD, Pantau Ketat di Sekolah

Banten Raya / Pasien DBD Dirawat di Kursi Roda

Lifestyle / Waspada, DBD Saat Pancaroba


Baca Juga !.