Jakarta Raya

Mengintip Komunitas Ciliwung Condet Jaga Lingkungan Bikin Sekolah Alam

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Mengintip Komunitas Ciliwung Condet Jaga Lingkungan Bikin Sekolah Alam - Jakarta Raya

KONSERVASI HAYATI - Ketua Komunitas Ciliwung Condet Abdul Qodir (dua dari kanan). Foto : Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Komunitas Ciliwung Condet berdiri sejak 1990. Secara konsisten melakukan konservasi keanekaragaman hayati. Ada kekhawatiran masyarakat Condet terhadap kelestarian konservasi hayati di sana. Manakala program normalisasi menyasar kawasan Sungai Ciliwung yang melintas di wilayah Condet, Jakarta Timur. Upaya penolakan dilakukan. Sementara program penanaman tanaman hayati khas Condet terus dilakukan oleh Komunitas Ciliwung Condet (KCC). Program pembibitan sudah dilakukan sejak 1990. Salah satu tanaman asli Condet di antara salak Condet.

“Kita kesulitan lahan, jadi bibit kita tanam di sekitaran Condet. Kami melihat lahan di bantaran Sungai Ciliwung sangat potensial,” ungkap Ketua Komunitas Ciliwung Condet Abdul Qodir, 50, ditemui INDOPOS di markas KCC di Jakarta Timur, Rabu (30/1/2019).

Ia menyebutkan, pohon salak hanya satu jenis tanaman yang mewakili dari keberagaman flora di wilayah Condet. Karena masih banyak lagi pohon lain seperti duku, duren, dan lainnya.

Abdul mengaku, salah satu ancaman terbesar untuk menjaga kelestarian hayati di Condet adalah tingginya populasi atau pertambahan penduduk. Untuk mengantisipasinya, komunitas melakukan pendataan. Salah satu lahan konservasi yang masih baik ada di bantaran sungai Ciliwung dengan luas lahan dua hektare (ha).

“Peran komunitas untuk menjaga konservasi hayati di bantaran Sungai Ciliwung dengan melakukan reboisasi sungai. Ini tentu harus ada peran dari pemerintah. Beberapa upaya reboisasi yang kami lakukan hancur lagi, hancur lagi karena banjir yang meluap hingga bantaran sungai,” katanya.

Abdul menyebutkan, program reboisasi selama ini banyak terkendala oleh status lahan. Karena, tidak sedikit lahan di bantaran sungai milik warga. Sehingga tidak ada jaminan saat program reboisasi berjalan, karena saat pohon sudah tumbuh, lahan dimanfaatkan pemiliknya untuk permukiman.“Jadi selama ini kami lakukan penanaman di titik-titik yang sudah aman di bantaran sungai,” ucapnya.

Abdul menyayangkan program  normalisasi sungai Ciliwung. Apalagi program tersebut dinilai menghancurkan keanekaragaman hayati di bantaran sungai. “Kami masyarakat awam memahami normalisasi sebagai upaya mengembalikan Sungai Ciliwung seperti dulu lagi. Makanya kami sangat mendukung itu. Tetapi ketika mengetahui ada jalan inspeksi dan turap di bantaran, sepakat kami menolaknya,” ungkapnya.

Sembari menyiapkan bibit salak, pria kelahiran Jakarta, 10 September 1968 ini mengatakan, perspektif sungai adalah sumber air bersih. Jadi tidak berpatokan pada istilah normalisasi atau naturalisasi. Pasalnya, banyak sungai di Jakarta sudah mengalami degradasi, baik perubahan fisik, kualitas air hingga kerusakan ekosistem masif.

“Kami ingin kawasan Condet tetap terjaga keanekaragaman hayatinya. Apalagi sejak Gubernur Ali Sadikin Condet telah mengantongi SK sebagai cagar budaya. Kita tahu cagar budaya itu bukan saja budayanya, tapi masyarakat hingga keutuhan alamnya,” terangnya.

Putra ketujuh dari sepuluh bersaudara pasangan almarhum H Muhamad Amin dan almarhum Hj Sunayah ini menyebutkan, kekayaan genetik yang masih terjaga di wilayah Condet merupakan aset genetik dan flora yang tersisa di wilayah Jakarta. Apabila itu dihantam oleh pembangunan jalan inspeksi, maka semuanya akan habis. “Jadi waktu itu kami menolak program normalisasi di bantaran sungai,” bebernya.

Ia yakin, dengan program pemberdayaan dan pelestarian tumbuhan di kawasan Condet, akan berbuah manis. Salah satunya dengan program pariwisata, model pendidikan aplikatif hingga penguatan cagar budaya. “Akses di pinggir Sungai Ciliwung masih 80 persen natural. Pemerintah daerah tinggal meng-upgrade saja,” katanya.

Pria yang mengakui lulusan Sosial Ekonomi Universitas Borobudur ini menyebutkan, tempat konservasi alam yang bisa ditemui di bantaran Sungai Ciliwung dari Jembatan Kalibata hingga hulu sungai. Lahan yang masih natural tersebut, menurutnya, bisa dijadikan tempat keanekaragaman hayati, tempat penelitian hayati, rekayasa sungai hingga konservasi genetika.

Suami dari Nirwana, 32, ini mengaku, perhatian pemerintah daerah terhadap pelestarian hayati di bantaran sungai sangat minim. “Masyarakat sendiri sejatinya sangat menyukai sungai kita itu bersih dan hijau. Kalau saja itu bisa diwujudkan, bisa saja pemda melibatkan masyarakat dengan kegiatan produktif,” katanya.

“Kita dukung program naturalisasi sekarang. Ini paradigma baru, yang selama ini hanya beton-beton. Tinggal kita cari aspek yang paling mudah dan paling murah saja. Sehingga bisa lebih banyak melibatkan masyarakat,” imbuhnya.

Salah satu peran KCC dalam mendorong konservasi keanekaragaman hayati di bantaran Sungai Ciliwung adalah meluncurkan Hari Ciliwung’. Hingga saat ini Hari Ciliwung tersebut sudah diperingati selama tujuh tahun. Pada tiap peringatan Hari Ciliwung, KCC selalu mengangkat isu soal sungai.

“Ini (peringatan Hari Ciliwung) tahun ketujuh. Kami selalu sosialisasikan tentang pentingnya sungai. Hari Ciliwung pertama kami buat di Bojonggede, Bogor. Karena sungai di sana masih alami banget,” terangnya.

Ia mengatakan, pendangkalan bantaran sungai disebabkan oleh faktor sebab akibat. Masalah yang terjadi di hilir menjadi parameter pengelolaan sungai di hulu. Makanya, menurut Abdul setiap peringatan Hari Ciliwung KCC mendorong pemerintah agar memiliki konsep tentang desain sungai. Dengan  menjadikan sungai sebagai taman keanekaragam hayati.

“Seperti masalah sampah, apabila ini masih banyak ditemukan, berarti perilaku masyarakat di hulu tentang pengelolaan sampah belum baik. Kemudian sedimentasi dan warna air jugadampak dari pengelolaan sungai di hulu,” katanya.

Wujud nyata KCC pada peringatan Hari Ciliwung ketujuh, menurut Abdul menjadikan titik-titik di sungai Ciliwung sebagai pusat kegiatan masyarakat, berwisata dan belajar. “Ke depan kami ingin sungai menjadi sumber ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan konsep pariwisata saat ini bisa menumbuhkan sektor ekonomi bagi masyarakat. Karena bisa mendatangkan devisa lokal. Ia yakin, ke depan konsep naturalisasi yang baik bisa mewujudkan pariwisata di pinggiran Sungai Ciliwung.

“Ini sudah terjadi di Condet. Hanya perlu sentuhan sedikit seperti dari kebersihan dan kenyamanan serta keamanannya. Seperti kuliner yang masih belum tertata,” tambahnya.

Lebih jauh Abdul mengatakan, konsep sekolah alam sangat mengedukasi masyarakat. Karena tidak sedikit wisatawan yang datang ke Condet hanya melihat sampah di sungai, air yang kotor dan sebagainya. Padahal, sungai sangat luas karena berkaitan dengan ekosistem sungai, baik itu tanaman hingga lingkungan.

“Ini yang kita ingin eksplor. Jadi kami buat sekolah alam. Karena ekosistem sungai terjadi karena sebab akibat. Benar ada sampah, air kotor, tapi ini harus kita edukasi,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, sekolah sudah dia dirikan sejak awal 2000 lalu, tapi karena minimnya dukungan dari semua elemen program ini kurang berkembang. Kendati demikian program sekolah alam tersebut masih dibuka di beberapa wilayah seperti di Depok dan Bojong.

“Ke depan komunitas ingin meningkatkan peran sungai dan melibatkan banyak elemen terutama pemerintah. Karena itu menjadi salah satu kewajiban pemerintah dengan semua kebijakan dan anggaran yang sudah dialokasikan,” pungkasnya.(*)

 

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.