Nasional

Kontroversi Motor Masuk Jalan Tol

Redaktur:
Kontroversi Motor Masuk Jalan Tol - Nasional

Pengamat transportasi Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang, Djoko Setijowarno. Foto : IST

INDOPOS.CO.ID - Gagasan sepeda motor diperbolehkan masuk jalan tol sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Ide tersebut dinilai bukanlah merupakan hal yang bisa diterima begitu saja, bahkan ada yang menolak mentah-mentah.

Usulan tersebut sampaikan oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo yang menginginkan pemerintah dapat memperluas jalur tol khusus motor. Tidak hanya di Jalan Tol Bali Mandara dan Jalan Tol Suramadu, namun di ruas jalan tol yang masih memungkinkan dibuat jalur khusus kendaraan roda dua.

Ide tersebut, menurut politisi Partai Golkar itu, adalah agar pemakai kendaraan roda dua juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan pemilik roda empat. Bambang menyoroti pemilik sepeda motor yang jumlahnya mencapai puluhan juta di seluruh Indonesia, sehingga perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Pria yang menjabat Ketua DPR RI ini mengingatkan, bahwa di Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), yang sudah sekitar 10 tahun lalu telah memiliki jalur khusus untuk sepeda motor, di mana jalur tersebut tidak menjadi satu dengan kendaraan roda empat atau lebih.

”Dengan memberikan jalur khusus bagi sepeda motor di jalan tol sebagai bentuk keberpihakan negara dan azas keadilan terhadap rakyat. Yang secara ekonomi belum mampu memiliki mobil sebagai moda transportasinya,” ungkapnya.

Gayung pun bersambut. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, bahwa informasi mengenai hal tersebut merupakan ide Ketua DPR RI. Dia menyatakan, bahwa pihaknya akan mempelajari regulasi atau undang-undang yang terkait dengan ide yang diajukan oleh Bambang Soesatyo.

Budi Karya Sumadi menyebutkan, adanya jalur sepeda motor di jalan tol dimungkinkan apabila semua aspek memenuhi, terutama aspek keselamatan. Selain itu, pemerintah juga akan meninjau beragam praktik internasional terkait peraturan lalu lintas kendaraan roda dua di jalan tol.

”Jalur khusus motor itu biasanya memiliki lebar separuh dari jalur biasa di ruas North-South Expressway dan ditempatkan di sisi paling kiri dari setiap arah jalan tol,” ungkapnya.

Namun, jalur khusus sepeda motor tersebut juga mendapat kritikan dari sejumlah pihak, antara lain karena alasan keselamatan. Misalnya, batasan kecepatan yang dirancang di jalur khusus motor itu adalah 60 kilometer/jam. Tapi ditemukan bahwa banyak pengendara motor yang memacu kendaraannya di Federal Highway hingga sekitar 80 kilometer/jam.

Selain itu, diusulkan pula agar lebar jalur khusus sepeda motor itu dapat diperlebar dari dua meter menjadi lebih dari tiga meter, dengan tujuan agar bisa dilalui motor berukuran besar, dan dapat digunakan pula untuk menyalip.

Kritik lainnya, terkait dengan jalur khusus motor yang di beberapa titik menghadapi tikungan tajam atau beberapa terowongan yang berpotensi membahayakan bagi sang pengendara motor. Demikian, ada kritik mengenai jalur khusus motor yang beberapa kali pernah mengalami kebanjiran, kondisi jalan di beberapa titik yang tidak baik, serta memiliki tingkat pencahayaan yang kurang jelas bagi pengendara.

Pengamat transportasi Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang, Djoko Setijowarno menyatakan, pemerintah RI lebih baik untuk memberikan jalur khusus bus dibandingkan dengan jalur khusus motor di jalan tol. Menurut Djoko Setijowarno, jalur khusus bus dinilai akan lebih aman dan selamat serta memberikan manfaat kenyamanan ke publik pengguna angkutan umum.

”Bila ingin memberikan fasilitas infrastruktur yang mewah kepada rakyat, berikan kepada pengguna bus yang sifatnya angkutan massal,” terangnya. (ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / Tekan Kemacetan, 19 Gardu Tol di Semarang Dibuka

Ekonomi / Mau Mudik dengan Motor, Jangan Lupa Cek Pelumas Mesin

Daerah / Percantik Jalur Mudik Lebaran

Megapolitan / Sambut LRT, Bogor Tata Trasportasi

Megapolitan / Integrasi Transportasi akan Sia-Sia


Baca Juga !.