Nasional

Mentan Inisiasi Kerja Sama Petani dan Peternak

Redaktur: Nurhayat
Mentan Inisiasi Kerja Sama Petani dan Peternak - Nasional

UNTUNG DARI JAGUNG - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyaksikan petani dan peternak menandatangani kerja sama di secarik kertas agar keduanya merasakan keuntungan pada masa panen jagung, saat kunjungan di Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2/2019). Foto : Rizka Pradana/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menghadiri panen raya jagung di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (6/2). Dalam masa panen kali ini, Kecamatan Modo mempunyai 400 hektare lahan yang bisa menghasilkan sekitar 600 ribu ton jagung. Kabupaten Lamongan sendiri merupakan salah satu pemasok utama jagung di wilayah Jawa Timur.

Usai mengecek harga di lapangan, Amran mengungkapkan harga jagung saat ini turun Rp 2.000 per kilogram. Harga sekarang berada pada kisaran Rp 3.400-Rp 3.600 per kilogram. ”Khawatirnya harga semakin turun di bawah HPP (harga pokok penjualan, Red). Kami ajak bulog untuk bantu serap. Itu perintah presiden, jangan biarkan petani merugi,” kata Amran.

Selain itu, pria berumur 50 tahun itu tak menginginkan hanya petani saja yang merasa untung ketika masa panen. Kata Amran, para peternak yang membutuhkan jagung juga harus ikut untung, seperti halnya peternak di wilayah Blitar, Jawa Timur yang menjerit. Maka dari itu, dalam kesempatan ini Amran langsung menginisiasi satu kerja sama konkrit antara para petani dan pemangku kepentingan di Lamongan dengan peternak dari Blitar.

Dengan secarik kertas tanpa adanya stempel, Amran meminta masing-masing pihak menandatanganinya. Ia juga meminta Bulog berada di tengah untuk mengatur alur distribusi berjalan baik. Bulog tak boleh mengambil untung banyak dari petani. ”Kita mau memotong rantai pasok. Bulog beli jagung (petani Lamongan), biarkan peternak (Blitar) nunggu disini dan membelinya. Kalau petani untung pasti berproduksi, kalau peternak untung pasti berproduksi,” papar pria kelahiran Bone Sulawesi itu.

Kemudian, Amran menegaskan Pemerintah juga serius untuk membantu para petani Lamongan. Dalam momen ini, ia memberikan bantuan berupa 20 dryer (mesin pengering jagung), 20 ribuan bibit jagung untuk puluhan hektare, 10 traktor roda empat serta 5 unit alat panen. ”Ini semua untuk rakyat, bukan untuk tengkulak. Kami tidak ingin dipermainkan. Ini solusi konkrit dan permanen,” tegasnya.

Melihat potensi bagus hasil panen Lamongan, Amran memastikan pemerintah bakal mengekspor hasil palawija ini mulai bulan depan. Meski begitu, Amran belum menyebut angka pastinya. Ia hanya menyebut target tahunan sebesar 500 ribu ton. ”Karena tahun lalu 380 ribu ton, tahun ini bisa naik sampai 500 ribu ton. Dan itu tidak bisa dibantah,” tandas pengusaha itu.

Amran menegaskan bahwa sejak lima tahun lalu, impor jagung bangsa ini berkurang secara drastis. Impor terbanyak terjadi pada tahun 2014 sebanyak 3,5 juta ton. Di tahun berikutnya turun 1,3 juta ton hingga pada tahun 2017 di bawah era Jokowi-Jusuf Kalla, pemerintah tidak sedikitpun melakukan impor. ”Tahun 2018 kita ekspor 380 ribu ton, impornya 100 ribu ton artinya surplus. Yang terpenting dulu kita impor dari Argentina dan Amerika, sekarang kita sudah bisa ekspor. Membalikkan impor menjadi ekspor,” urainya.

Selain Lamongan, Amran juga menyebut daerah lain yang berpotensi menjadi pengekspor jagung ialah Gorontalo. Bahkan, katanya, Gubernur Gorontalo telah siap mengekspor 150 ribu ton jagung ke luar negeri. ”Potensi lain adalah di Lamongan kerja sama Malaysia. Sumbawa, NTB, Sulawesi Selatan dan Gorontalo, ini potensi. Utamanya ke Filipina, bisa juga ke Malaysia,” pungkasnya. (jaa)

Berita Terkait


Baca Juga !.