Nasional

Deteksi Potensi DBD dalam Waktu Singkat

Redaktur: Nurhayat
Deteksi Potensi DBD dalam Waktu Singkat - Nasional

Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Foto : IST

INDOPOS.CO.ID - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendorong komersialisasi Kit Diagnostik demam berdarah dengue (DBD) yang mampu mendeteksi potensi DBD dalam waktu singkat. ”Kami inginkan mitra industri yang akan memproduksi massal kit DBD ini dapat segera melakukan produksi,” kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Soni Solistia Wirawan, dikutip dari Antara, kemarin.

Kit Diagnostik Demam Berdarah Dengue merupakan purwarupa inovasi BPPT untuk bidang kesehatan. Dengan penggunaan kit itu, diharapkan dapat mempercepat deteksi untuk tindakan penanganan demam berdarah di Indonesia.

Menurut Soni, menjalin kerja sama dengan industri merupakan bagian dari proses hilirisasi produk inovasi dengan harapan dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat luas. Kit Diagnostik DBD itu dapat mendeteksi potensi DBD dalam waktu dua hingga 10 menit. ”Pada kerja produk, darah diteteskan pada lubang kit, kemudian kit diposisikan secara mendatar. Jika tanda dua garis merah muncul, maka terdeteksi terkena DBD. Kit itu hanya dipakai jika pengguna demam hingga lima hari,” bebernya.

Sedangkan, Pelaksana tugas Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) BPPT, Agung Eru Wibowo menuturkan, kit DBD BPPT menggunakan anti-NS1 monoklonal antibodi yang dikembangkan berdasarkan strain virus lokal Indonesia, sehingga diharapkan memberikan sensitivitas yang lebih baik. ”Komponen utama prototip kit diagnostik dengue BPPT berupa antibodi monoklonal anti-NS1 telah terbukti dalam skala laboratorium dapat mengenali virus dengue strain lokal Indonesia,” ujarnya.

Saat ini, BPPT sedang melakukan finalisasi pembahasan dengan mitra industri, yakni salah satu badan usaha milik negara di bidang farmasi dalam rangka hilirisasi dan komersialisasi produk kit. Kit diagnostik itu belum diproduksi secara masal dan masih menunggu tahap kerja sama dengan mitra industri.

Selanjutnya, kit itu juga masih dalam tahap proses perolehan izin edar, yang mana akan diajukan mitra industri kepada Kementerian Kesehatan. ”Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, kit deteksi dengue ini segera bisa diproduksi secara massal untuk membantu mengatasi penanganan wabah demam berdarah di Indonesia,” ujarnya.

Terkait pengembangan produk, Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT mengembangkan anti-NS1 antibodi monoklonal (mAb) berbasis virus Dengue strain lokal. Virus Dengue strain lokal itu merupakan hasil isolasi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Kemudian, BPPT mengembangkan Kit Diagnostik DBD berbasis teknik imunokromatografi dengan menggunakan anti-NS1 mAb.

Perekayasa utama di Deputi TAB BPPT, Imam Paryanto menjelaskan, pengembangan kit itu sudah dimulai dalam dua tahun belakangan. Ia mengatakan produk itu telah melalui tahap pengujian internal dan memberikan hasil sensitivitas yang bagus. ”Kalau negosisasi lancar (dengan mitra industri), diharapkan tahun ini bisa (produksi massal),” ujarnya. Sebagai produk dalam negeri, dia mengatakan KIT Diagnostik DBD akan lebih murah dibandingkan dengan produk impor yang beredar.

Terpisah, dokter spesialis penyakit dalam dari RS Sinar Kasih Purwokerto dr. Andreas, Sp.PD mengatakan, masyarakat perlu mengenali gejala awal penyakit demam berdarah dengue yang salah satunya adalah munculnya demam secara mendadak. ”Biasanya demam mendadak tersebut disertai nyeri dan pegal-pegal, sakit kepala, dan juga mual atau muntah-muntah,” katanya di Purwokerto, Kamis (7/2/2019).

Bila demam tersebut menetap selama dua hingga tiga hari, maka segeralah ke dokter dan memeriksakan diri. ”Nanti akan disarankan untuk pemeriksaan laborat darah rutin untuk skrining awal terutama bila di sekitar rumah pasien juga ditemukan adanya penderita DBD,” katanya.

Dia mengingatkan, pemeriksaan diri harus segera dilakukan agar dapat secepat mungkin ditangani oleh tim medis. ”Jangan sampai pasien datang sudah dalam keadaan syok, tekanan darah turun ataupun perdarahan aktif yang berat,” katanya.

Ia mengatakan penderita DBD memelukan rawat inap terutama bagi mereka yang memiliki tanda-tanda perdarahan aktif atau syok serta asupan makanan yang tidak bisa masuk secara adekuat. ”Terutama pada kondisi umum pasien yang lemah,” ujarnya.

Kendati demikian, menurut dia, penderita DBD bisa saja dirawat di rumah selama makanan dan minuman bisa diasup dengan porsi yang cukup dan tidak ada tanda-tanda pendarahan aktif. ”Pastikan bahwa intake asupan nutrisi pasien bisa masuk dalam porsi cukup, kalau tidak, mungkin perlu rawat inap untuk pemberian terapi cairan dengan infus dan sebagainya,” pungkasnya. (ant)

Berita Terkait

Nusantara / Ratusan Orang Terjangkit DBD, Empat Meninggal

Megapolitan / Mesin PLTSa Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

Megapolitan / DBD, Pantau Ketat di Sekolah

Banten Raya / Pasien DBD Dirawat di Kursi Roda


Baca Juga !.