Kesra

Mendikbud Tarik Buku Berkonten Radikal

Redaktur: Ahmad Nugraha
Mendikbud Tarik Buku Berkonten Radikal - Kesra

MENJELASKAN - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy. Foto: Fisca Tanjung Jawa Pos.com/Indopos Grup

INDOPOS.CO.ID - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menanggapi beredarnya buku pelajaran kelas 5 SD yang berisi paparan tentang kelompok radikal. Tak ingin memperpanjang polemik, Kemendikbud bakal menarik buku tersebut dari peredaran.

Muhadjir menjelaskan, buku tersebut diproduksi berdasarkan Peraturan Menteri nomor 57 tahun 2014 sebagai bentuk implementasi dari Kurikulum 13. Selanjutnya direvisi dengan Peraturan Menteri Pendidikan nomor 34 tahun 2016. "Jadi sebelum saya menjadi menteri (sudah diproduksi)," ujarnya ketika berkunjung ke Malang, Kamis (7/2/2019).

Pria asli Madiun itu menegaskan, selama menjadi menteri, dirinya belum pernah merevisi buku apa pun. Dia hanya menambah satu mata pelajaran saja. "Desember kemarin itu adalah untuk menambah mata pelajaran Informatika. Itu saja. Jadi saya belum pernah melakukan revisi," tambahnya.

Penambahan mata pelajaran itu berdasarkan Peraturan Menteri nomor 24 tahun 2018. "Artinya buku itu sebelum saya (menjabat sebagai Mendikbud) sudah ada," lanjut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Muhadjir memaparkan, kata-kata radikal yang ada di dalam buku tersebut sebenarnya menceritakan sejarah perjuangan kemerdekaan nasional pada era 1920-an. Saat itu, banyak bermunculan berbagai macam organisasi.

"Kemudian oleh tim penulis itu dicirikan dengan memiliki watak yaitu nonkooperatif, tidak mau berkompromi sama pemerintah kolonial. Nah, itulah yang kemudian dikategorikan sebagai organisasi radikal. Jadi sebetulnya kata radikal itu dalam konteks melawan penjajah kolonial," paparnya.

Dia menambahkan, ketika buku tersebut disusun, kata radikal belum menjadi kata peyoratif atau unsur bahasa yang memberikan makna menghina, merendahkan. "Tapi sekarang ini kan radikal itu jadi sensitif.

Kalau menurut ilmu bahasa itu kata amelioratif yang punya (arti) rasa baik. Sekarang ini kan jadi negatif radikal itu," terangnya.

Oleh karena itu, Kemendikbud telah membuat kesepakatan untuk merevisi buku tersebut. "Dan revisi itu bisa secepatnya. Hari ini saya lihat ada pertemuan, bagaimana baiknya. Dalam waktu dekat akan kami share," ungkapnya.

Selanjutnya, untuk buku yang sudah terlanjur tersebar di pasaran, pihaknya akan segera menariknya. "Di web Kemendikbud ada soft copy. Hard copy kami tarik. Yang penting harus segera ditarik," tutupnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu belakangan dunia pendidikan dihebohkan dengan adanya buku pelajaran kelas 5 SD yang berisi paparan tentang radikal.

Pada buku yang berjudul 'Peristiwa dalam Kehidupan' itu terdapat paparan terkait masa awal radikal pada halaman 45. Bahkan, di dalam penjelasannya juga tercatut sejumlah organisasi, salah satunya Nahdlatul Ulama (NU). (jpc)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.