Opini

Untung Ada Komentar

Redaktur: Juni Armanto
Untung Ada Komentar - Opini

Oleh Dahlan Iskan

Menulis DI's Way tiap hari? Tidak pernah absen? Selama setahun? Ternyata hal seperti itu tidak perlu membuat heran. “Saya kan juga membaca DI's Way tiap hari.  Tidak pernah absen," tulis salah satu komentator.

Saya bisa merasakan selera humor penulis komentar itu. Buktinya,  saya tersenyum saat membacanya. Ternyata banyak komentar yang seperti itu. Saya memang membaca semua komentar yang muncul di DI's Way. Kadang saya ingin mengomentari komentar itu. Tapi saya takut terbawa arus. Ya sudah. Saya tidak akan lagi membanggakan bisa tiap hari menulis DI's Way. Saya ganti justru bangga pada Anda.  Kok mau-maunya baca DI's Way  tiap hari.

Jadwal saya membaca komentar biasanya tengah hari. Saya menunggu banyak komentar yang masuk dulu agar cukup sekali buka. Sesekali saya melakukan tes,  jam 5 pagi lihat DI's Way. Ups...sudah ada juga yang berkomentar. Mungkin masih sambil meluk guling. Rasanya mau saya datangi kamarnya.  Ngapain sepagi itu sudah baca DI's Way.

Banyak juga pembaca yang melakukan koreksi. Kalau ada yang salah. Misalnya,  negara-negara yang memboikot Qatar. Hanya empat negara,  Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir. Ohh... itulah rupanya. Di semifinal Piala Asia lalu Qatar mencetak empat gol. Sebenarnya tidak semua gol itu dimaksudkan untuk gawang Uni Emirat Arab, melainkan satu gol untuk tiap negara yang memboikotnya.

Rumor itu begitu meluas di negara-negara Teluk yang semuanya gila bola. Sampai tujuan Piala Asia 'untuk persatuan' itu justru kian retak. Husnun Juraid juga sering melakukan koreksi. Khusus soal kesalahan bahasa. Misalnya,  kalau saya menuliskan kata 'hutang'. Selalu saja orang Malang itu membetulkannya. Mestinya utang. 'Utang budi dibawa mati'. Bukalah kamus besar bahasa Indonesia. Yang benar adalah 'utang'.

Kadang saya menyalahkan HP baru saya. Ketika saya menulis kata 'berutang' di HP, kata itu otomatis diubah menjadi 'berhutang'. Rupanya HP saya belum pernah belajar kamus besar bahasa Indonesia. Cukup banyak pembaca yang memberikan koreksi. Biasanya Mas Joko Intarto langsung memperbaikinya. Itulah enaknya online. Bisa langsung koreksi saat itu juga. Beda dengan di koran. Yang sudah tercetak tidak bisa dikoreksi.

Tapi soal DI's Way terbit tiap pagi hari, rasanya akan saya pertahankan. Saya setuju karena ini masih terbawa budaya cetak. Harus terbit pagi. Belum budaya digital yang bisa menulis kapan saja dan terbit saat itu juga.

Tapi saya punya pertimbangan lain. Saya ingin mendisiplinkan diri. Kadang orang harus 'dipaksa' konsisten. Saya sengaja mengikatkan diri dengan komitmen itu. Saya yakin ini. Orang yang biasa terikat dengan komitmen akan memperoleh kepercayaan. Padahal kepercayaan adalah modal utama hidup, bukan uang.

Mungkin saja saya terlalu khawatir. Kalau saya boleh menulis kapan saja dan terbit kapan saja hasilnya bisa tidak menulis sama sekali. Saya merasa tidak terikat komitmen. Dan itu memang enak. Nyaman. Tidak ada pressure. Tidak stres. Tapi lantas untuk apa hidup?

Saya masih belum bisa menemukan cara baru mengikatkan diri pada komitmen. Mungkin saja beda orang beda cara. Beda generasi beda perilaku. Buktinya sering saya mengalami setahun ini. Pikiran suntuk. Tidak mood. Tidak ada ide. Atau banyak ide tapi tidak bisa ditulis. Banyak masalah. Banyak pekerjaan. Saya bisa pastikan tidak akan bisa menulis kalau tidak terikat komitmen itu.

Tapi begitu dekat headline beda. Hati langsung memerintahkan saya harus mulai menulis. Maka jadilah tulisan itu. Kadang saya harus buka DI's Way edisi-edisi sebelumnya. Untuk membaca ulang  komentar-komentar. Dari situ biasanya muncul semangat untuk menulis. Pembaca begitu hidup di benak saya. Mereka menunggu DI's Way besok pagi. Ayo. Menulis. Maka jadilah tulisan itu. Selalu begitu. Sampai hari ini. Entah sampai kapan? (dahlan iskan)

Berita Terkait

Opini / Pemilu 7 Tahap

Opini / EVM via Novelis

Opini / Tinta di Jari

Opini / Snow Man

Opini / Rekor 8 Menit

Opini / Move On


Baca Juga !.