Liburan Anti-Mainstream di Wae Rebo

INDOPOS.CO.ID – Namanya Desa Wae Rebo. Simpel namun berkesan. Menyepi dan intim dengan alam. Kira-kira itu yang dirasakan penulis ketika berlibur ke desa yang menjadi salah satu ikon pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) ini, pekan lalu.

Lokasi desa ini terletak di perbukitan Kabupaten Manggarai di Pulau Flores. Kota terdekat dengan desa ini adalah Kota Ruteng. Desa Wae Rebo itu sendiri kerap dijuluki sebagai ‘desa di atas awan’ lantaran keberadaanya di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

ampung adat tradisional ini namanya sudah cukup dikenal oleh mancanegara. Keindahan alam, budaya dan suasananya yang menyejukkan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Penulis mendapat kesempatan bermalam di Desa Wae Rebo bersama rombongan perusahaan logistik nasional JNE, rekan-rekan media nasional dan blogger.

Perjalanan menuju Wae Rebo kami mulai pukul 11.30 WITA dari Labuan Bajo dengan menggunakan mobil mini MPV. Selama hampir empat jam kami menghabiskan waktu menuju Desa Denge, tempat terakhir yang bisa dilewati kendaraan kami.

Perlu dicatat, perjalanan menuju Desa Denge melewati sejumlah rute yang berliku dan berpotensi membuat penumpang menjadi mual atau mabuk. Bagi yang punya gejala tersebut, disarankan untuk meminum obat anti mabuk.

Setelah sampai di Desa Denge, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos I Wae Lomba sejauh sekitar 4 KM dengan jalur menanjak menggunakan sepeda motor. Biaya ojek Rp 40 ribu – Rp 50 ribu per penumpang. Pos I merupakan titik terakhir motor bisa melintas. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 5,5 – 7 KM.

Di sinilah perjuangan selanjutnya dimulai. Kebetulan, kami melakukan perjalanan di saat Indonesia sudah memasuki musim penghujan. Jalanan yang lembab dan cuaca dingin mewarnai perjalanan kami.

Pada awal, jalur menuju Wae Rebo akan terus mendaki. Bagi wisatawan yang tidak terbiasa dan memiliki riwayat penyakit jantung, disarankan untuk berhati-hati dengan mengatur ritme perjalanannya.

Selain itu, jalur pendakian yang dilewati masih banyak berupa batu dan tanah. Kondisi jalanan yang lembab serta udara yang mulai mendung membuat kami ekstra hati-hati karena jalur menjadi licin. Apalagi, di kanan maupun kiri jalur adalah jurang tanpa pembatas.

Belum sampai setengah perjalanan, badan kami terlihat basah kuyup dibanjiri keringat. Tak jarang, sebagian beristirahat lantaran fisik tak mendukung dan kelelahan.

Sudah setengah perjalanan, rintik air hujan mulai turun membasahi bumi. Menyambut kedatangan kami dengan semerbak khas musim penghujan di alam bebas. Begitu segar dan menenangkan pikiran.

Hujan seakan tak sendirian menyambut kami. Hewan kecil penghisap darah bernama pacet juga ikut serta. Darah yang keluar dari bagian kaki para pendaki menjadi penanda bahwa hewan yang satu keluarga dengan lintah itu ‘menerima’ kehadiran kami.

Tak terasa, dua jam lebih perjalanan saya tempuh bersama beberapa rekan yang memang ada di barisan depan. Sementara yang lainnya, masih di belakang kami. Waktu tempuh menuju desa ini pun berbeda-beda, ada yang 2 jam, 3 jam bahkan bisa 4 jam, tergantung dari kemampuan fisik masing-masing.

Sebelum memasuki perkampungan, tamu harus singgah di pos terakhir. Di sana, perwakilan rombongan diminta membunyikan kentongan sebagai tanda tamu tiba. Dari pos tersebut terlihat jelas tujuh rumah adat berbentuk kerucut. Sebelum beraktivitas di kampung, kami diminta untuk wajib mengikuti upacara Waelu’u terlebih dulu.

Upacara itu digelar di rumah utama yang dinamakan Niang Gendang. Rumah adat yang paling besar itu merupakan tempat tinggal ketua adat. Maksud upacara itu untuk memohon ijin dan penghormatan kepada para leluhur Wae Rebo.

Berhubung pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WITA, kami tidak bisa beraktivitas banyak. Kegiatan dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan rombongan dari tempat lain yang sudah terlebih dahulu sampai di lokasi. Oh iya, kami di tempatkan di satu rumah adat dengan pengunjung lainnya sebagai bentuk kebersamaan.

Suhu yang begitu dingin menusuk hingga pori-pori kulit saya. Jaket tebal pun wajib dibawa agar tidak masuk angin. Jika masih dingin, sudah disediakan selimut tambahan di masing-masing tempat tidur.

Disini, aliran listrik terbatas. Lampu akan dimatikan pada pukul 22.00 WITA. Bagi kamu yang ingin mengisi baterai HP, disarankan untuk membawa powerbank. Tapi perlu dicatat juga bahwa selama di Wae Rebo, sinyal HP hilang begitu saja.

Oh iya, bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Wae Rebo, disarankan untuk tidak membawa minuman beralkohol. Sebab, hal itu bisa mempengaruhi anak-anak di desa tersebut yang penasaran ingin meminumnya maupun tidak sengaja meminumnya.

Pada keesokan harinya, aktivitas menjelajah Wae Rebo yang sempat tertunda pun kami mulai. Para pengunjung mulai sibuk dengan gawai mereka untuk berburu foto ciamik di beberapa spot. Umumnya, pengunjung akan sedikit naik ke jalur masuk menuju desa untuk mengambil gambar.

Usai mengambil foto, kami melanjutkannya dengan makan pagi bersama. Menu yang disajikan yakni nasi goreng beserta kerupuk yang cukup renyah dan enak rasanya. Menu ini agak berbeda dengan makan malam kami yang berisikan ayam goreng, sayur, teh dan sambal khas Wae Rebo yang sangat pedas. Pisang juga disajikan sebagai makanan penutup di malam hari.

Usai makan pagi, kami semua bersiap untuk kembali ke Laabuan Bajo. Sebelum pulang, biasanya pengunjung disarankan untuk memberikan kenang-kenangan kepada warga desa. Bentuknya macam-macam, bisa buku hingga peralatan tulis lainnya. Namun, pada saat itu kami memberikan dalam bentuk uang lantaran tidak membawa barangnya.

Perjalanan kembali menuju Labuan Bajo pun dilanjutkan. Untuk track menurun, kami bisa melakukannya 20 menit lebih cepat dibanding mendaki. Hanya saja, beberapa dari kami juga masih beristirahat beberapa kali lantaran rasa lelah di waktu pendakian masih cukup terasa.

Setelah sampai di bawah, perjalanan menuju Labuan Bajo pun dilanjutkan. Hari itu, penulis merasa beruntung bisa berlibur ke Desa Wae Rebo meskipun melelahkan. Pemandangannya cantik dan suasana yang sejuk, sulit dilupakan. Tempat ini pun menjadi rekomendasi liburan anti mainstream dari penulis. (jpc)

Komentar telah ditutup.