Opini

Crème dela Crème Citarum

Redaktur: Juni Armanto
Crème dela Crème Citarum - Opini

STOP PENCEMARAN-Tiga model menggunakan topeng gas dalam peragaan busana di dekat Sungai Citarum, Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Foto: ROMEO GACAD/AFP

Oleh Max Wangge

Suatu ketika, entah beberapa tahun ke depan, saya bermimpi menapaktilisasi Sungai Citarum dan sumber mata airnya dari lereng Gunung Wayang, di tenggara Kota Bandung, Desa Cibeureum, Kertasari, Bandung hingga ke Ujung Karawang, Kabupaten Karawang. Artinya, saya menyusuri Sungai Citarum dari hulu sampai ke Hilir.

Sepanjang liukan dan lekak-lekuk sungai 296 km itu, saya bisa melakukan apa saja. Saya bisa jalan kaki. Di tengah jalan, saya bisa naik speed boat kalau kecapaian. Bosan dengan speed boat, saya turun. Kali ini, saya ingin berjalan ke arah hilir dari seberang kali saja. Naik perahu.

 Dalam perjalanan, saya bisa menyaksikan berbagai aktivitas masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Ada ibu-ibu sibuk mencuci pakaian di pinggiran kali. Ada mojang priangan mandi di sungai. Beberapa meter sebelum dan sesudahnya, saya melihat sejumlah pria asyik menebar jala di sungai. Ada remaja yang asyik memancing. Tidak berapa jauh dari lokasi itu, ada sekelompok orang menggelar tikar di pinggir sungai. Mereka asyik bercengkerama dengan keluarganya sambil makan-makan. Sesekali mereka tertawa lepas. Sepanjang mata memandang, saya melihat perahu kecil dan speed boat hilir mudik mengantar penumpang yang datang dan pergi.

Di bantaran kiri kanan sungai, semuanya serba-terawat. Tidak ada sampah yang menggunung. Tidak ada tumpukan plastik bekas pakai yang berserakan. Tidak ada tempat BAB dadakan. Air sungai mengalir lancar dari hulu ke hilir dengan lancar. Warna airnya jernih. Tidak keruh apalagi pelangi dan berminyak.  Sesekali ada saja ikan yang berlompatan dan nongol ke udara karena berebut makanan.

Kondisi sosial yang mapan di atas kita sebut  cita-cita. Ya cita-cita sosial. Bisa jadi, pinjam istilah Rocky Gerung,  itu hanyalah fiksi, tetapi bukan imajinasi. Gambaran soal realitas fiksional di atas adalah sebuah conditio sine qua non atau sesuatu yang sudah seharusnya terjadi asalkan kita mau.  Toh di tempat lain, di mancanegara sana, sungai yang melintasi permukiman penduduk identik dengan kebersihan. Identik dengan tempat wisata air. Identik dengan transportasi sungai.

Oleh karena itu, siapa saja yang berkepentingan dengan Sungai Citarum sudah seharusnya memiliki cita-cita sosial yang sama. Sebut saja crème dela crème. Secara harafiah,  crème dela crème merujuk kepada kondisi sekelompok orang yang berasal dari status sosial yang sama.  Anggap saja penduduk yang berdomisili di sekitar bantaran Sungai Citarum masuk kategorisasi crème dela crème itu. 

Dengan begitu, cita-cita menjadikan Sungai Citarum harum menemukan dua parameter yang sama. Pertama, bersih dari berbagai sampah. Kedua, bersih dari limbah beracun. Dua elemen itulah yang selama ini menjadi momok ikan dan biota sungai yang hidup di dalamnya. Juga momok masyarakat di sekitarnya.

Kedua parameter ini memang sederhana tetapi gampang-gampang susah. Parameter pertama menuntut konsientisasi atau kesadaran sosial warga yang tinggal di bantaran sungai untuk tidak membuang sampah secara serampangan. Sosialisasi ini harus dilakukan secara konsisten. Pelanggaran terhadap parameter pertama itu harus diberi sanksi. Bila perlu dihukum secara pidana karena merusak lingkungan dan biota sungai. Apalagi untuk parameter kedua. Parameter kedua ditujukan kepada sekitar 500 korporasi yang, langsung atau tidak langsung, membuat Sungai Citarum tercemar seperti sekarang. Berikan kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki dampak kerusakan lingkungan dulu selama tenggang waktu tertentu.

Bila tidak bisa melakukan tindakan konkret dan berdampak positif langsung terhadap objek pencemarannya, tidak perlu sungkan-sungkan. Relokasikan ke tempat yang pantas atau tutup untuk selama-lamanya. Kita semua kelewat permisif dan toleran terhadap realitas faktual yang terjadi di Sungai Citarum hingga mendapat julukan sosial tak elok seperti sekarang. (*)

 

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.