Megapolitan

Tak Ada Solusi, Terus Terulang, Peran Pemprov Belum Optimal

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Tak Ada Solusi, Terus Terulang, Peran Pemprov Belum Optimal - Megapolitan

Ilustrasi Foto

INDOPOS.CO.ID - Tawuran di Jakarta masih terjadi. Di antaranya, belum lama ini, tawuran terjadi setidaknya di dua lokasi. Kawasan Pasar Rumput, Jakarta Selatan, dan Jalan Dr Sumarno, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Bahkan, pada tawuran di Cakung, menyebabkan satu orang tewas.

Sosiolog Musni Umar mengatakan, tawuran di Jakarta akan terus terulang jika solusi tidak ada. Permasalahan yang dihadapi cukup kompleks. Pemicunya, pengangguran, kemiskinan, dan tempat tinggal.

“Pengangguran tidak bisa diatasi karena pada umumnya berpendidikan kurang memadai. Mau jadi pegawai pemerintah, pegawai BUMN, dan swasta tidak bisa diterima karena pendidikan rendah dan tidak ada keahlian. Sedangkan mau jadi pengusaha, tidak ada keahlian dalam berbisnis, tidak ada modal, tidak ada jaringan dan pengalaman,” ujar Musni, Minggu (10/2/2019).

Menurut Musni, tawuran di Pasar Rumput sulit dihentikan, karena berkaitan dengan kehidupan yang sulit dan tidak ada jalan keluar. Solusi permanen diperlukan, seperti memasukkan mereka ke kamp motivasi untuk diubah mindset, ditanamkan motivasi, diberi harapan, dan pelatihan kegiatan yang diminati. “Setelah pelatihan, kalau mau jadi pengusaha kecil diberi modal, tempat berusaha, pembinaan manajemen pemasaran dan pasar. Ini menjadi tugas pemerintah pusat dan juga daerah,” katanya.

Selalu berulangnya kejadian tawuran antarwarga di Pasar Rumput berakar dari berbagai permasalahan sosial yang dialami warga di kawasan tersebut, yang memang didominasi masyarakat kelas sosial menengah ke bawah.

Musni melihat wilayah Pasar Rumput menjadi potret nyata mengenai kerasnya kehidupan masyarakat miskin kota. “Kondisi ini merupakan fenomena sosial masyarakat bawah yang banyak menghadapi masalah sosial ekonomi dan lingkungan seperti pengangguran, kemiskinan, tempat tinggal yang padat, dan kumuh. Jadi tawuran sejatinya merupakan bentuk dari protes sosial,” kata Musni.

Dijelaskan, ada tiga hal yang menjadi penyebab warga melakukan tawuran. Untuk melampiaskan kekesalan dan frustrasi akibat banyaknya persoalan hidup yang dihadapi. Warga yang terlibat tawuran merasa tidak ada yang mampu menolong mereka untuk keluar dari kesulitan. Selanjutnya, lanjut dia, adalah untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat supaya turun tangan menyelesaikan persoalan mereka.

Akan tetapi, bantuan pemerintah terkadang tidak pernah menyelesaikan akar masalah yang dihadapi rakyat bawah terutama pengangguran dan kemiskinan.

“Malangnya, mereka pada umumnya berpendidikan rendah, tidak memiliki kepakaran kerja serta kepakaran bisnis. Berbagai pelatihan sudah diberikan, tetapi hanya diberi kail, tidak diberi umpan, cara mengail, modal mengail, dan tempat mengail. Pelatihan yang diberikan akhirnya sia-sia, dan membuat mereka semakin frustrasi dan kehilangan harapan,” ucap Musni.

Penyebab terakhir yakni pengaruh minuman keras dan obat-obatan terlarang, yang dikonsumsi karena rasa frustasi. “Karena mereka stres dan frustrasi, maka pelariannya ke miras dan narkoba,” terangnya.

Terpisah, untuk menciptakan hubungan masyarakat yang kondusif, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan sosialisasi peran tokoh masyarakat. Sekretaris Satpol PP DKI Jakarta Kusmanto mengatakan, pada sosilaisasi pihaknya melibatkan kepolisian dan tokoh masyarakat serta stakeholder lainnya.“Pada 2018, sosialisasi di 41 kecamatan di DKI sedikitnya membutuhkan anggaran sebesar Rp 2,7 miliar,” ujar Kusmanto kepada INDOPOS, Minggu (10/2/2019).

Dia menuturkan, pada 2019 ini pihaknya telah mengalokasikan anggaran untuk sosialisasi peran tokoh masyarakat sebesar Rp 6,5 miliar. Sedikitnya, 150 orang setiap kecamatan mengikuti sosialisasi tersebut. “Tahun lalu setiap kecamatan hanya 100 orang,” bebernya.

Kusmanto menjelaskan, sosialisasi untuk meredam konflik yang kerap terjadi di masyarakat. Langkah preventif tersebut, dikatakan Kusmanto, untuk menampung masalah yang terjadi di tiap wilayah di DKI. “Jadi masalah yang muncul tiap wilayah berbeda-beda. Ini fungsi sosialisasi, jadi kita bisa cegah sedini mungkin potensi masalah di masyarakat,” ungkapnya.

Ia menegaskan, seperti konflik horisontal yang terjadi di Manggarai. Untuk mencegahnya, akan dilakukan sosialisasi yang lebih masif.

Sedangkan anggota DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mengatakan, peran Pemprov DKI pada penanganan kerusuhan di masyarakat masih belum optimal.“Penanganan saat ini masih sesaat, ketika muncul masalah. Tapi pencegahan tidak ada,” ungkapnya.

Gembong mengingatkan, Pemprov DKI agar lebih masif melakukan upaya pencegahan. Dengan mencari akar masalah di masyarakat. Karena, setiap wilayah di DKI memiliki karakteristik yang berbeda-beda. “Contohnya tawuran yang sering terjadi di Manggarai, cari tahu apa akar masalahnya, libatkan tokoh masyarakat, dan ini tidak bisa sekali dilakukan,” katanya.

Gembong menginginkan, anggaran sosialisasi peran tokoh masyarakat harus dilakukan optimal. Karena, penyerapan anggaran tersebut belum sampai pada akar masalah. “Problem kita itu kita belum menggali masalah di DKI. Ini yang harus diselesaikan oleh Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Anies Baswedan,” ucapnya.

Sebelumnya, Camat Setiabudi Dyan Airlangga mengatakan, tawuran yang terjadi di Pasar Rumput pada Minggu (10/2/2019) malam bermula dari provokasi. Warga Pasar Rumput, Pasar Manggis, Setiabudi, saling memprovokasi dengan warga Menteng Tenggulun, Jakarta Pusat.

"Kalau berdasarkan informasi yang kami dapat, awal itu terjadi provokasi baik dari pihak Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, Menteng Tenggulun dan Pasar Manggis," ujar Dyan kepada wartawan, Rabu (6/2/2019).

Tidak diketahui bentuk provokasi yang dimaksud. Namun Dyan meyakini tawuran selalu diawali aksi saling provokasi. "Itu awal kejadian dari tiga peristiwa tawuran terakhir itu," kata Dyan. Dyan juga menduga aksi tawuran itu memang disengaja. Pasalnya, ia mendapat informasi adanya pelaku yang bertugas "mengamankan" tawuran.

"Ada juga pelaku yang bertugas memantau kehadiran polisi di lokasi, jadi ketika tidak ada polisi maka langsung pecah tawuran tersebut," ujar dia.

Selain itu, tawuran yang melibatkan dua kelompok pemuda terjadi di Jalan Sumarno, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur pada Selasa (5/2/2019) dini hari mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Pemuda yang diketahui bernama Rahmat Iwal, 19, tewas setelah terkena sabetan senjata tajam.

Selain Rahmat, dua pemuda lainnya mengalami luka berat. Tim Pengurai Massa (Raimas) Backbone Polres Metro Jakarta Timur mengamankan enam orang yang diduga sebagai pelaku.

"Dari tangan para pemuda diamankan sebilah senjata tajam jenis celurit yang diduga digunakan untuk menghabisi nyawa salah satu pemuda," ujar Kepala Tim Raimas Backbone Bripka Firman Fauzi dalam keterangannya, Selasa (5/2/2019). (wok/nas)

 

Berita Terkait


Baca Juga !.