Megapolitan

Endus DBD dari Kelembapan Udara

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Endus DBD dari Kelembapan Udara - Megapolitan

Ilustrasi Foto

INDOPOS.CO.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus menggenjot upaya penanganan kasus demam berdarah dengue (DBD).

Salah satunya dengan fogging focus. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur (Kasudinkes) Iwan Kurniawan mengatakan, untuk menetapkan luasan wilayah pada fogging focus berdasarkan kasus DBD yang muncul. “Cakupan 1 fogging fokus 200 meter. Ini untuk 1 kasus yang muncul,” ungkap Iwan Kurniawan kepada INDOPOS, Minggu (10/2/2019).

Menurut Iwan, dirinya saat ini memantau wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Pada dua wilayah tersebut ia melakukan fogging focus di Kecamatan Jagakarsa dan Kecamatan Cipayung. “Jadi fogging focus ini berbeda dengan fogging serentak, karena fogging serentak tidak berdasarkan kasus DBD yang muncul,” ungkapnya.

Upaya pencegahan DBD, masih ujar Iwan, Pemprov DKI kini terus meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat. Program tersebut melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memprediksi kemungkinan munculnya DBD di Jakarta. “Namanya DBD klim. Dari aplikasi ini kita bisa memprediksi munculnya DBD dari kelembapan udara,” katanya.

Potensi munculnya DBD, dikatakan Iwan, bisa diprediksi dari tingkat kelembapan di atas 70 persen. Dari informasi tersebut, upaya pencegahan bisa dilakukan lebih dini. DBD klim tersebut, menurut Iwan, bisa diakses melalui website. “Prediksi 2 tahun bisa kita prediksi dari tingkat kelembapan di DBD klim. Kita bisa mengetahui perindukan nyamuk yang bisa muncul 2 bulan lagi,” ucapnya.

Sebelumnya, anggota DPRD DKI Jakarta Muhamad Guntur menegaskan, angka kasus DBD di Jakarta tahun ini cukup signifikan. Untuk itu, harus ada upaya masif baik pada pemberantasan dan pencegahan. “Harus ada upaya pengasapan (fogging) menyeluruh. Karena daerah dengan penderita DBD sudah rata. Jadi jangan sepotong-sepotong,” ungkapnya.

Guntur meminta kepada Pemprov DKI agar tidak lagi menunggu muncul korban DBD lagi. Caranya dengan melakukan koordinasi intensif dengan semua kelurahan untuk melakukan pecegahan den pemberantasan DBD. “Kita ingin pastikan semua puekesmas sudah memiliki alat fogging. Jadi tinggal satu perintah dari gubernur untuk menyeluruh melakukan fogging,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, untuk gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3 M minimal satu minggu sekali dilakukan. 3 M adalah menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es, dan lain-lain.

Kemudian menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Juga memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah.

Setiap rumah, lanjutnya, menunjuk jumantik dari anggota keluarga masing-masing dan memastikan lingkungan rumahnya bersih dan bebas dari jentik nyamuk. "Termasuk juga sekolah, perkantoran, dan lain-lain," katanya, Jumat (8/2/2019) petang.

Widyastuti menambahkan, apabila ada anggota keluarga ada yang demam tinggi mendadak, segera dipastikan apa terserang DBD atau tidak dengan membawa ke fasilitas layanan terdekat. "Dengan memberi pertolongan pertama minum obat turun panas, kompres air hangat," tutupnya. (nas/ibl)

 

 

Berita Terkait

Nusantara / Ratusan Orang Terjangkit DBD, Empat Meninggal

Megapolitan / DBD, Pantau Ketat di Sekolah

Banten Raya / Pasien DBD Dirawat di Kursi Roda

Lifestyle / Waspada, DBD Saat Pancaroba

Headline / Jumantik Pasar Baru Siapkan Stiker ”Ada Jentik”


Baca Juga !.