Megapolitan

Anton Kaswi, Puluhan Tahun Berjualan Soto, Gebrak Meja, Dilempar Tisu Olga, Sekolahkan Anak hingga S2

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Anton Kaswi, Puluhan Tahun Berjualan Soto, Gebrak Meja, Dilempar Tisu Olga, Sekolahkan Anak hingga S2 - Megapolitan

BERHASIL- Anton Kaswi menikmati jerih payahnya. Foto: Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Sudah sekitar 46 tahun Anton Kaswi berjualan soto. Dari kaki lima, mengontrak tempat, hingga kini punya sejumlah cabang. Tak mudah. Jerih payahnya terbayar.

NASUHA, Jakarta

RASANYA hampir semua orang di Tanah Air mengenal kuliner yang satu ini. Ya, soto cukup familier bagi masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah ada soto dengan ciri khas masing-masing. Ada soto banjar, soto bogor, soto kudus, soto lamongan, dan lainnya. Ada yang berbeda dengan soto yang satu ini. Tidak diikuti nama daerah. Secara umum, isinya tidak jauh berbeda dari soto pada umumnya. Yang membedakan hanya pada penyajiannya. Karena soto ini kerap menyebabkan pembelinya kaget.

“Banyak pembeli yang kaget. Bahkan dulu saya pernah dibentak oleh pembeli,‘’Macam apa kau’,” kata Anton Kaswi, 73, pendiri soto gebrak ditemui INDOPOS di kiosnya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (10/2/2019).

Saking kagetnya, ujar Anton, dengan marah seorang pembeli membanting mangkok soto yang dihidangkan kepadanya. Lalu, ada pula seorang anak-anak mengingatkan Anton agar tidak mengebrak meja, jika banyak pembeli yang lanjut usia atau pembeli membawa bayi.

“Pak, kalau banyak pembeli yang sudah tua jangan gebrak-gebrak meja. Kalau jantungan bagaimana? Bahkan, almarhum Olga Syahputra (artis) saking kagetnya (latah) melempar saya dengan tisu,” aku Anton mengenang.

Pria kelahiran Surabaya, 22 Desember 1945 bercerita, mulai merintis usahanya sejak 1973. Usaha berjualan soto tidak semudah membalikkan tangan. Kali pertama berjualan, di kaki lima.“Dulu pertama jualan di kaki lima di Setiabudi, Jakarta Selatan. Saya tekuni sampai 12 tahun,” ungkapnya.

Saat itu, menurut putra ketiga dari lima bersaudara pasangan almarhum Rasmin dan almarhum Panisih ini, tidak banyak berurusan dengan petugas Satpol Pamong Praja (PP). Tapi, ia kerap berurusan dengan preman-preman jalanan. Karena, kerap menganggunya, Anton melakukan perlawanan. “Biasanya preman ini minta duit dan minta makan. Tapi karena mereka nglunjak (makan hati,Red) saya melakukan perlawanan,” katanya.

Dalam satu hari omzet jualannya di kaki lima sebesar satu hingga dua juta setara dengan 150 porsi soto. Hari ke hari pelanggannya terus bertambah. Hingga akhirnya ayah dari tujuh orang anak itu memutuskan berjualan dengan tidak di kaki lima lagi. Dia menyewa tempat di dekat SMAN 3 Setiabudi dengan biaya Rp 3 juta setahun. “Saya ngontrak selama 8 tahun. Dari sewa Rp 3 juta sampai Rp 15 juta setahun,” ungkapnya.

Anton mengatakan, omzetnya terus meningkat setelah berjualan dengan menyewa tempat. Dalam satu hari omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta. Untuk mengembangkan usahanya Anton kemudian melebarkan sayapnya. Ia membuka cabang di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Selain di sana, Anton juga membuka cabang di Depok, Setiabudi, Cibitung, Bekasi, dan Cibubur (kini pindah di Kalimalang).

Pria yang kini sudah lanjut usia ini menyebutkan, untuk memberikan kepuasan pembeli, beberapa menu ditawarkan. Dari soto daging, soto ayam, soto campur jeroan, soto combi daging ayam. Selain menu utama, beberapa kuliner tambahan ditawarkan. Dari sate usus, sate empal, telor asin, perkedel, emping, hingga kerupuk. “Alhamdulillah, dari usaha saya bisa membeli dua vila di Puncak, beberapa investasi tanah di Jakarta senilai puluhan miliar dan menyelesaikan pendidikan anak-anak sampai S2 di perguruan tinggi,” bebernya.

Pria yang dikaruniai tujuh orang anak dari perkawinannya dengan Kasiyem, 50, ini menjelaskan, untuk melanjutkan usahanya kini semua cabang dikelola oleh anak-anaknya. Ia sendiri kini mengelola cabang di Tebet, Jakarta Selatan.

Lebih jauh Anton menuturkan, omzet jualan di cabang di Tebet kian menurun. Ia mengaku, pada saat pertama kali dibuka tinggi. Tetapi karena kendaraan parkir di bahu jalan diderek oleh Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, jumlah pembeli terus turun. “Masalahnya kami belum punya lahan parkir, jadi kendaraan milik pembeli parkir yang ada di bahu jalan kerap diderek. Akibatnya pembeli terus turun,” ujarnya.

Pria yang mengaku berangkat menunaikan haji 2004 lalu ini mengatakan, resep membuat soto diperolehnya dari turun temurun orang tuanya. Agar resepnya terus diminati oleh pelanggannya, lanjut Anton, ia terus menambahkan resep baru pada soto olahannya. “Saya kalau pulang ke Surabaya, keliling ke pedagang soto untuk mencari tambahan resep baru,” katanya.

Dia menyebutkan, salah satu resep tambahan yang dia peroleh adalah koya. Kemudian ia berusaha mencari tahu cara membuat resep ini. “Waktu makan di kaki lima di Surabaya, saya makan soto pakai koya. Kemudian saya nanya koya ini dibuat dari apa? Kemudian saya menambahkan ke soto buatan saya. Pengalaman baru koya ini 20 tahun lalu,” ucapnya.

Koya itu, dikatakan Anton, dibuat dari bahan dasar kerupuk udang, bawang putih kemudian dikeringkan dan dihaluskan. Agar lebih nikmat dan gurih, satu porsi soto cukup diberikan satu sendok makan koya.“Kalau untuk membuat soto cukup dengan bumbu dapur bawang putih, bawang merah, daun bawang, kemudian ditumis. Agar lebih nikmat ada bumbu rahasia turun temurun dari orang tua,” katanya tersenyum.

Anton mengatakan, dalam satu hari bisa menghabiskan daging sebanyak 25 kg dan tiga ekor ayam. Karena, usianya yang sudah lanjut Anton kini hanya mengawasi saja. “Ya kadang-kadang ada saja pelanggan yang minta dibuatkan soto langsung oleh saya. Ya tetap saya layani,” ucapnya.

Anton menuturkan, sudah banyak sekali pelanggan dari kalangan artis (entertainment) yang singgah di warung soto miliknya. Bahkan, karena kondang, Anton mengaku beberapa kali diundang syuting di studio televisi swasta.

Dia membeberkan, untuk sukses menjadi penjual soto harus melayani pembeli dengan ramah. Kemudian mengutamakan rasa. Ini menjaga kualitas soto saat di lidah. “Tak lupa kita harus menjaga kebersihan tempat dan makanan,” ujarnya.

Anton sudah menyerahkan pengembangan usahanya kepada anak-anaknya. Apalagi nama sotonya sudah dihakpatenkan. Anton menambahkan, gebrakan botol saat menyajikan soto bukan tidak memiliki makna.

“Gebrak meja ini sebenarnya kode untuk memanggil pelayan (karyawannya) agar melayani pembeli yang datang,” terangnya.

Karena, terbiasa dilakukan kemudian Anton menamakan usahanya dengan Soto Gebrak. Kode gebrak meja ini dilakukan sejak berjualan di kaki lima. Kemudian penamaannya baru 1999. “Ya kenangan berjualan saya tinggal 4 roda gerobak saat di kaki lima,” pungkasnya. (*)

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.