Hukum

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Mantan Petugas Kebersihan JIS Digugat Rp 1,7 Triliun

Redaktur:
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Mantan Petugas Kebersihan JIS Digugat Rp 1,7 Triliun - Hukum

PRIHATIN - Sejumlah relawan netizen Kawan 8 untuk kasus Jakarta Intercultural School (JIS) 2014 menyalakan lilin saat menggelar doa bersama di Taman Pandang Istana, Jakarta, Rabu (26/10/2014). Foto : Ismail Pohan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Masih ingat kasus pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS) atau Jakarta Intercultural School (JIS)  yang heboh pada 2014. Meski para tersangka sudah divonis dan menjalani hukuman di penjara, namun kasus ini terus bergulir.  

Sudah jatuh tertimpa tangga. Para mantan petugas kebersihan JIS itu belakangan harus menghadapi kasus lainnya, yakni digugat ganti rugi sebesar Rp 1,7 triliun oleh seorang ibu korban berinisial MAK di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. "Gugatan diajukan oleh seorang ibu dari salah satu orang tua siswa dugaan korban berinisial MAK. Tuntutan ganti rugi juga dialamatkan kepada dua guru yang menjadi terdakwa dalam kasus ini, JIS, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)," kata Richard Riwoe, kuasa hukum para petugas kebersihan melalui keterangan resminya di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Richard menyebutkan, hal itu terungkap dalam sidang pembacaan gugatan, kemarin, dalam sidang di PN Jaksel yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Lenny Wati Mulasimadhi.

Richard mempertanyakan motif dari pihak penggugat sebenarnya karena bagi pihaknya, sejak kasus pidana ini diangkat sekian tahun lamanya, ada satu hal yang konsisten, yaitu tuntutan materi.

"Dulu tidak berhasil lewat kasus pidana, sekarang dituntut kembali lewat perdata. Masalah ini jangan dianggap sudah selesai, karena para petugas kebersihan dan guru sudah ditahan. Kasus pidananya masih tetap bisa dibuka dan kami punya bukti-bukti kuat yang dapat membuktikan kebenaran yang ada. Kami akan buka pada saat yang tepat," ujar Richard.

Data menunjukkan, ibu berinisial MAK itu pernah juga mengajukan gugatan senilai USD 125 juta atau setara Rp 1,6 triliun kepada JIS pada 2014. Namun tuntutan tersebut tidak dikabulkan.

Agun, salah satu petugas kebersihan yang menjadi tergugat mengaku tidak habis pikir terhadap dasar ibu MAK dalam mengajukan tuntutannya. Saat ini ia dan teman-temannya sesama petugas kebersihan yang dipenjara, termasuk Azwar yang tewas di dalam tahanan sudah menjadi korban dari tuntutan ibu MAK. Ini karena mereka merasa tidak melakukan kekerasan seksual seperti yang dituduhkan.

Mereka pun, lanjut Agun, selain sudah menjalankan putusan pengadilan, juga dikenakan denda yang merupakan kerugian bagi pihak korban. "Kerugian yang dituntut oleh penggugat dalam perkara perdata ini sebenarnya sudah kami tebus dengan cara menjalani hukuman penjara sebagai denda dari kerugian yang katanya dialami oleh korban. Akan tetapi sekarang pihak korban nuntut lagi kerugian, mohon Majelis Hakim yang menanganani perkara ini, tuntutan Rp 1,7 triliun ini maksudnya apa?" Agun menanyakan usai persidangan.

Agun pada kasus itu divonis delapan tahun penjara dan sudah menjalani separuh hukuman dan karena dia berkelakuan baik, sekarang bebas bersyarat. Sedangkan lainnya, satu meninggal di dalam penjara dan lainnya masih didalam jeruji.

Agun mengetahui bahwa ibu yang menuntutnya saat ini tidak di Indonesia, melainkan tinggal di luar negeri. "Untuk makan dan sekolah anak saja (saya, Red) mati-matian. Waktu saya dipenjara, istri sedang hamil. Sejak anak saya lahir sampai bertahun-tahun, dia enggak sama ayahnya. Eh sekarang orang berkecukupan seperti mereka yang tinggal di luar negeri menuntut kami lagi. Seperti enggak cukup bikin kami sekeluarga terpuruk," tutur Agun yang mengaku sedih dengan kasus itu.

Agun berusaha hidup baik hingga menyampaikan kepada keluarganya untuk membayar tuntutan itu dengan menjual ginjalnya. Sementara itu, pihak JIS tidak ingin berkomentar banyak terkait tuntutan yang kembali dilayangkan oleh ibu MAK. "Kami belum bisa berkomentar banyak. Kami ikuti dulu proses hukum yang berjalan. Yang jelas, kami yakin bahwa gugatan ini tidak benar (incorrect, Red) secara hukum," tegas kuasa hukum JIS, Bontor Tobing.

Perlu diketahui, kasus pelecehan seksual di JIS diduga dilakukan oleh karyawan dan guru terhadap anak didiknya. Kasus ini mulai dilaporkan pada April 2014. Kasus ini bermula dari laporan korban berinisial AK kepada orang tuanya atas dugaan tindakan sodomi, yang kemudian diikuti laporan ke kepolisian. Awalnya hanya lima tersangka tenaga kebersihan alih daya dari PT ISS bernama Afrischa Setyani, Agun Iskandar, Virgiawan Amin alias Awan, Syahrial, dan Zainal Abidin yang ditangkap.

Salah seorang tersangka, Azwar ditemukan bunuh diri selama masa pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada 26 April 2014 dengan cairan pembersih.

Kasus ini terus berkembang, sehingga melibatkan guru seperti Neil Bantleman, warga negara Kanada-Inggris dan Ferdinant Tjong. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka. Seiring pemeriksaan, daftar korban bertambah menjadi tiga orang, yaitu AL, AK, dan DS.

Selanjutnya empat terdakwa mantan petugas kebersihan divonis delapan tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Sementara satu terdakwa perempuan, Afrischa Setyani divonis tujuh tahun. Atas vonis tersebut, kelimanya mengajukan banding. Pada 22 Februari 2015, Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan putusan pengadilan negeri. Pada Juli 2015, Mahkamah Agung menolak kasasi yang diajukan para tersangka.

Sama halnya dengan Neil Bantleman dan Ferdinand Tjiong yang dihukum 11 tahun penjara dan denda Rp100 juta, serta subsider 6 bulan. Ini setelah Peninjauan Kembali (PK) mereka ditolak Mahkamah Agung. (ant/aro)

 

Berita Terkait

Lifestyle / Moses Mayer, si Jenius yang Mengharumkan Indonesia

Headline / Dua Hari Perjuangan Nuril Membuahkan Hasil

Headline / Fokus PK, Petisi Desak Keluarkan Amnesti


Baca Juga !.