Daerah

Karlahut di Riau Capai 267,5 Hektare

Redaktur: Nurhayat
Karlahut di Riau Capai 267,5 Hektare - Daerah

KEBAKARAN LAHAN- Petugas penanggulangan bencana (BPBD) saat memadamkan api yang membakar lahan gambut dekat pemukiman warga di kecamatan Dumai Barat kota Dumai, Dumai, Riau. Aswaddy Hamid/antara

INDOPOS.CO.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau mencatat luas kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) sepanjang awal 2019 ini mencapai 267,5 hektare. Kepala BPBD Riau Edwar Sanger mengatakan, kebakaran lahan yang mayoritas terjadi di lahan gambut tersebut terjadi di enam kabupaten di Provinsi Riau. ”Kebakaran terluas terjadi di Kabupaten Bengkalis dengan total 131 hektare,” kata Edwar, di Pekanbaru, Senin (11/2/2019).

Kebakaran lahan di Bengkalis terjadi di sejumlah daerah seperti Kecamatan Pinggir, Pulau Bengkalis dan terakhir di Pulau Rupat. Wilayah pesisir Riau itu sepanjang awal 2019 ini memang mengalami musim kering dengan cuaca cukup panas sehingga rentan terjadi kebakaran.

Selain di Bengkalis, kebakaran juga melanda Kabupaten Rokan Hilir dengan luas mencapai 87 hektare. Di Kota Dumai, kebakaran juga masih berlangsung hingga awal pekan ini tepatnya di Kecamatan Sungai Sembilan.

Kota Dumai yang secara geografis berdekatan dengan Bengkalis dan Rokan Hilir mengalami kebakaran di sejumlah titik dengan luas 17,5 hektare. Selanjutnya kebakaran lahan juga terpantau di wilayah peSisir Riau lainnya, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan luas dua hektare.

Selain wilayah pesisir Riau, kebakaran juga terjadi di wilayah Riau daratan. Di Kabupaten Kampar, tercatat luas kebakaran mencapai 14 hektare. ”Dan di Pekanbaru seluas 16,01 hektare terbakar,” ujarnya.

Edwar mengatakan secara umum Provinsi Riau dalam kategori aman dari bencana Karhutla. Namun, dia memberikan pengecualian di wilayah tengah, pesisir timur dan sebagian wilayah barat Riau. ”Wilayah itu dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar,” ujarnya.

Dengan kondisi kebakaran lahan di awal tahun ini, Edwar mengatakan akan mempertimbangkan menetapkan status siaga Karhutla di 2019. Namun, dia mengatakan harus berkoordinasi dengan berbagai pihak terlebih dahulu, seperti BMKG dan pemerintah Provinsi Riau terkait penetapan status tersebut.

Sementara, Badan Penanggulangam Bencana Aceh (BPBA) menyatakan, kebakaran hutan dan lahan terutama di lahan gambut kering sekitar satu hektare mulai terjadi di Gampong (desa) Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh pada Minggu (10/2/2019).

Kepala Pelaksana BPBA Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Senin, mengatakan, terbakar lahan gambut dan rumput ilalang di kawasan Alue Awe tersebut baru diketahui dari laporan masyarakat setempat kemarin siang. ”Begitu ada laporan dari masyarakat ke pihak kecamatan, maka tim reaksi cepat BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Lhokseumawe langsung mengecek ke lokasi. Setelah dipastikan ada, baru dilakukan upaya pemadaman,” terangnya.

Ia melanjutkan, tidak berapa lama kemudian tim pemadam kebakaran milik Pemerintah Kota Lhokseumawe langsung turun ke lokasi dengan bantuan tiga unit armada, dibantu oleh berbagai pihak terkait, dan masyarakat setempat.

Sebab, api yang membakar di lahan kering yang merupakan area bagi masyarakat bercocok tanam ini, dikhawatirkan menjalar atau meluas ke tempat lain hingga merembet ke pemukiman penduduk.

Seperti diketahui, peristiwa kebakaran hutan dan lahan tahun 2018 telah menghanguskan sekitar 856,12 hektare yang berlangsung di 13 kabupaten/kota dari total 23 daerah di Aceh. Mayoritas lahan terbakar ini berada di bagian wilayah barat-selatan, selain wilayah tengah di dataran tinggi yang cenderung meluasnya seiring dampak dari pengaruh musim kemarau pada sejumlah wilayah di Indonesia. ”Jika tidak dilakukan upaya pemadaman, bisa-bisa rumah warga ikut terbakar. Kini api telah padam, sementara asal usul lahan ini terbakar masih diselidiki aparat hukum,” tegas dia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat menyatakan, cuaca dewasa di Aceh menunjukkan sedang masa peralihan dari musim penghujan menuju ke musim kemarau. ”Suhu udara pada lapisan atas saat ini terjadi peningkatan, dan berdampak turunnya persentase uap air di udara. Kondisi ini mulai rawan terjadi kebakaran yang ditambah lagi angin bertiup kencang,” ujar Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Aceh, Zakaria Ahmad. (ant)

Berita Terkait

Headline / 30 Titik Panas Terindikasi Karlahut

Daerah / Dua Helikopter Bom Air Riau


Baca Juga !.