Opini

Maharlika

Redaktur: Juni Armanto
Maharlika - Opini

Dahlan Iskan

INDOPOS.CO.ID - Saya sering salah menuliskan Filipina. Kadang Philipina. Seringkali Philippina. Tidak jarang juga Phillipina. Presidennya sendiri kini usul. Nama Filipina diganti saja dengan Maharlika. Katanya biar lebih membumi.

 Nama Philippina memang diambilkan dari nama penjajah. Raja Philip II dari Spanyol yang dulu menjajah negeri itu. Raja Philip II sebenarnya tidak hanya menjajah Filipina. Jajahannya lumayan luas. Selain menguasai tetangganya Portugal, sebagian Italia, sebagian besar Belanda, ia juga sempat menguasai sebagian Inggris pada 1500-an.

 
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Foto : Foto : Ted Aljibe/AFP

Maharlika berasal dari bahasa Melayu. Ya,  Melayu Tagalog yang berakar pada bahasa Sansekerta. Artinya, bebas, merdeka, damai, sejahtera. Di atas segala-galanya juga biar lebih nasionalis.

Mengganti nama Filipina menjadi Maharlika sebenarnya bukan ide baru. Wacana tersebut sempat tercetus di era mendiang Presiden Ferdinand Marcos. Idenya tak sempat terealisasi karena Marcos keburu jatuh oleh people power pada 1986.  Kejatuhan Marcos itu menandai berakhirnya Orde Baru yang otoriter di sana.

Presiden Duterte sendiri rasanya juga tidak sempat membidani nama baru itu. Masa jabatannya tidak sampai setahun lagi. Seorang presiden hanya boleh sekali menjabat di negeri itu.  Tentu tidak mudah mengganti nama negara. Toh tidak ada pemicu yang kuat,  kecuali alasan nasionalisme tadi.

Beda dengan Macedonia yang bulan lalu berubah nama menjadi Macedonia Utara.

Alasannya kuat. Rebutan nama berlarut-larut bahkan menghabiskan energi. Juga tidak ada hasilnya.

Penyebabnya,  Macedonia bertetangga dengan Macedonia. Yang terakhir itu adalah nama provinsi paling utara di Yunani. Mereka merasa lebih Macedonia dibanding Macedonia. Pertengkaran pun tidak habis-habisnya sejak Macedonia merdeka dari Yugoslavia dengan menggunakan nama negara Macedonia.

Masalahnya,  Macedonia ingin segera menjadi anggota masyarakat Eropa biar cepat makmur. Negeri itu juga ingin menjadi anggota NATO. Tapi upayanya selalu terganjal nama gara-gara digugat oleh Macedonianya Yunani.

Rakyat di Macedonia juga berkeras. Mereka merasa berhak menggunakan nama negaranya Macedonia. Justru yang di Yunani itu kan hanya sebuah provinsi.

Tapi akhirnya yang waras mengalah demi kemajuan negara. Rakyat Macedonia melakukan referendum akhir tahun lalu. Hasilnya,  perubahan nama negara menang tipis. Jadilah nama Macedonia Utara.

Rakyat Provinsi Macedonia masih belum mau terima. Negara itu tidak boleh sama sekali menggunakan kata Macedonia biarpun diberi tambahan nama utara.

Persoalan ini sampai dibawa ke parlemen Yunani. Akhirnya parlemen mengakui nama Macedonia Utara. Akal sehat memperoleh kemenangan.

Kalau saja Filipina berubah menjadi Maharlika itu juga tidak baru. Myanmar dulu juga bernama Burma. Pernah juga ada yang usul agar nama Indonesia diubah menjadi Asia Raya. Mumpung belum ada yang menggunakan nama itu biar tidak berbau Indo. Nama Asia Raya dianggap jauh lebih gagah.

Sayangnya, wacana itu tidak pernah mendapat sambutan. Nama Indonesia sudah menjadi garis tangan. Siapa tahu juga membawa kedamaian dan kemakmuran. (dahlan iskan)

 

Baca Juga


Berita Terkait

Opini / Ofo Bekas

Opini / Koko Donald

Opini / Lamis Lambe

Opini / Dokter Tisha

Opini / Rich Weber

Opini / Samsung Heel


Baca Juga !.