Headline

Mulai Ada Titik Terang Kapal MT Namse Bangdzod

Redaktur: Juni Armanto
Mulai Ada Titik Terang Kapal MT Namse Bangdzod - Headline

Foto : ISTIMEWA

INDOPOS.CO.ID - Memasuki hari ke-50 pada Kamis, (14/2/2019), misteri hilangnya kapal Mother Tanker (MT) Namse Bangdzod menemukan titik terang. Keberadaan kapal muncul kembali setelah berhasil terdeteksi radar. Berdasarkan data aplikasi ship info pada Minggu (10/2/2019) lalu, posisi kapal berada di kawasan Kepulauan Riau dengan Garis Lintang sekitar 0°38.16N (North/Utara) dan Garis Bujur 103°19.8E (East/Timur). Dengan kecepatan 9,5 knots, kapal ini statusnya berlayar.

Selang tiga hari kemudian, persisnya kemarin (13/2/2019), posisi Kapal Namse sudah berada di Jakarta dengan Garis Lintang sekitar 6°11.12N dan Garis Bujur 106°47.78E.  Status kapal dalam keadaan berhenti atau berlabuh. Kemungkinan besar berada di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok. (Lihat grafis).

Untuk mengecek kepastian posisi kapal yang pada 27 Desember 2018 lalu bertolak dari Pelabuhan Sampit, Kalimantan Tengah, INDOPOS mencoba melakukan konfirmasi ke pihak Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Tanjung Priok.

Kepala Seksi Operasi Pangkalan KPLP Tanjung Priok Capt Pujo Kurnianto mengaku langsung menyelidiki keberadaan kapal MT Namse Bangdzod yang terdeteksi di kawasan Jakarta. ”Apakah benar atau tidak (kapal ada di Jakarta berdasarkan Ship Info, Red),” ujarnya kepada INDOPOS, tadi malam (13/2/2019).

Selain ke lapangan, pihaknya KPLP juga mencari info dari Marine Traffic. ”Kami juga masih patroli di perairan Jakarta,” tandas Capt Pujo.  

Dia menambahkan, pihaknya segera berkoordinasi dengan stakeholder terkait seperti TNI AL dan Kepolisian. "Kami selalu koordinasi untuk memastikan itu," ujarnya. 

Hingga kini, lanjut dia, pihaknya juga tidak mau berspekulasi siapa yang membawa kabur kapal tanker tersebut, termasuk spekulasi dugaan keterlibatan anak buah kapal (ABK) kapal. "Dengan barang muatan segitu banyak (sekitar 1.754.382 kg atau 1.754 ton minyak sawit atau CPO, Red), kalau ABK bawa lari bingung mau bawa kemana. Kapal dan muatan itu untuk dijual tidak sembarangan. Dalam arti hanya pihak-pihak tertentu saja, yang memang membutuhkan kapal tanker dan CPO," jelas Capt Pujo.

 

Grafis : GIMBAL/INDOPOS

Untuk menemukan MT Namse, lanjut dia, seolah-olah kucing-kucingan. Menunggu petugas patroli lengah. "Kapal itu kan besar dan ada ciri-cirinya. Kami akan terus patroli sekalian mengawasi dan mencari kapal itu. Saat ini Kapal Trisula dari Teluk Jakarta sampai Pulau Seribu juga patroli. Demikian pula kapal lainnya dan Kapal Alugara dari Teluk Jakarta sampai Balongan," beber Capt Pujo.

Selain itu, kata dia, KM Damaru juga akan turun dari Sampit ke Semarang. "Sekalian patroli kami cari MT Namse di lokasi yang diduga bisa disandari kapal tanker itu. Kapal tersebut sudah ketahuan ciri-cirinya. Kalaupun dicat ulang, kita periksa seksama juga," pungkasnya. 

Kabag Organisasi dan Humas Ditjen Perhubungan Laut Yan Prastomo Ardi mengatakan, Kemenhub terus memantau perkembangan kasus tersebut. "Pencarian masih dilakukan oleh KPLP dan stakeholder terkait. Kalau ada kabar baik, akan segera kami sampaikan juga," pungkasnya.

Sementara itu, dari unggahan di Facebook (FB), salah seorang awak Kapal Sinarocean8 melihat Kapal MT Namse Bangdzod berada di sekitar Selat Sunda pada 7 Februari 2019.

”Saya berada di anjungan kapal (Sinarocean8, Red) melihat kapalnya ada, kru lengkap,” tulis awak Kapal Sinarocean8 berinisial Ap yang memberikan keterangan kepada salah seorang keluarga awak kapal MT Namse Bangdzod.

Dia menceritakan, kapal milik PT Surabaya Shipping Lines tersebut juga tertangkap di radar sekitar 2,5 mil dari Kapal Sinarocean8. Sayangnya dia tidak sempat mengambil gambar atau foto kapal Namse dan mengontak melalui radio.

Sementara itu, kapal MT Namse Bangdzod berhasil terdeteksi di kawasan Kepulauan Riau pada Minggu (10/2) lalu. Disinyalir kapal tersebut sempat menuju ke Singapura. Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana mengatakan, Pemerintah Indonesia harus segera berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia dan Singapura.  "Pemerintah Indonesia harus serius mengatasi masalah hilangnya kapal tanker ini. Bisa berkoordinasi dengan dua negara itu," katanya kepada INDOPOS, Rabu (13/2/2019).

Menurut Hikmahanto, melalui kerja sama kedua negara ini tentu dapat percepatan pencarian atau penemuan kapal MT Namse Bangdzod. Pengerahan nelayan dari dua negara itu juga bisa membantu menemukan tanker pengangkut CPO tersebut. "Minta tolong sama negara lain. Mereka juga kan punya alat untuk mencari kapal ini. Tidak bisa mengandalkan kekuatan sendiri, karena lautan luas sekali," ujarnya.

Selain itu, sambung Hikmahanto, pemerintah juga harus memiliki alat canggih untuk melacak melalui armada laut dan udara. Kemudian terus melakukan patroli laut untuk mengecek keamanan batas laut. Dirinya yakin dengan peralatan super canggih akan dapat menyelesaikan masalah kapal yang hilang kontak."Seharusnya pemerintah sudah dapat membeli alat itu dari beberapa negara yang punya teknologi canggih. Kalau begini terus ya masalah seperti ini akan selesai dalam waktu lama," imbuhnya.

Terkait munculnya dugaan pembajakan, Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menuturkan, pemerintah jangan gegabah menerjunkan pasukan elite untuk mencari kapal MT Namse Bangdzod yang hilang dan diduga dibajak teroris Kelompok Abu Sayyaf. Ini akan menimbulkan masalah baru bagi Indonesia. Karena itu, sebaiknya menerjunkan terlebih dahulu intelijen untuk mencari informasi dugaan pembajakan kapal tersebut. "Jangan menerjunkan pasukan elite dulu jika informasinya belum A1 (pasti ada pembajakan, Red). Soalnya sangat sensitif. Nanti ujung-ujungnya malah menjurus ke isu lain. Jika mau, terjunkan intelijen mengumpulkan informasi," tuturnya. (dai/rio/cok)

Berita Terkait

Headline / Belum Digaji Dua Bulan


Baca Juga !.