Megapolitan

Lebih Dekat dengan Dedi Khair sebagai Filatelis, Sisihkan Uang Jajan, Punya Ribuan Prangko

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Lebih Dekat dengan Dedi Khair sebagai Filatelis, Sisihkan Uang Jajan, Punya Ribuan Prangko - Megapolitan

KOLEKTOR-Dedi Khair dengan segudang prangkonya. Foto: Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Hobi mengoleksi prangko dilakukan oleh Dedi Khair. Dia suka sejak SD. Koleksi prangkonya mencapai ribuan. Dikumpulkan di dalam 40 album.

NASUHA, Jakarta

Filateli adalah kegiatan mengumpulkan prangko. Bahkan dulu, ada gerakan filateli. Bagi yang hobi, aktivitas itu tentu menyenangkan, mengasyikkan, dan bisa membawa keuntungan. Kegiatan mengumpulkan prangko salah satunya dilakukan Dedi Khair, 51.

Ditemui INDOPOS di kediamannya di RT 06/RW 09 Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, pria kelahiran Jakarta, 2 Mei 1967 ini tengah membersihkan koleksi prangko miliknya. Koleksi prangkonya ada 40 album.“Ini lagi lihat-lihat, sembari menghibur hati,” ungkap Dedi kepada INDOPOS, Rabu (13/2/2019).

Dedi panggilan sehari-hari Dedi Khair mengaku sudah menjadi filatelis sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Pada awalnya, ia tidak menyukai kegiatan mengumpulkan prangko ini. Tapi, karena dia sering melihat ayahnya yang hobi mengkoleksi prangko, akhirnya dorongan ingin tahu muncul.

“Dulu pas pertama nggak suka ngoleksi prangko. Tapi lihat babe, jadi tertarik. Ternyate seru dan unik juge,” ungkap Dedi dengan dialek Betawinya.

Sembari membersihkan satu per satu album prangkonya, pria yang mengaku lulusan SMA ini menceritakan, awal menjadi filatelis dilakukan penuh saat duduk di bangku SMP. Ia menyisihkan uang jajan pemberian orangtuanya hanya untuk berburu prangko.

“Ya uang jajan waktu itu sih kecil. Paling cuma Rp 100 setiap hari. Jadi untuk mendapatkan 3 prangko yang harganya Rp 5 ribu harus ngumpulin uang jajan dulu,” terangnya.

Putra keempat dari enam bersaudara pasangan almarhum M. Husin dan Sadiyah, 70, ini mengatakan, saat ini koleksi prangko miliknya sudah mencapai ribuan. Prangko koleksi Dedi dari abad ke-19 sampai koleksi prangko terbaru saat ini. Bahkan, Dedi mengklaim koleksi prangko miliknya ada yang dihargai Rp 2 miliar.

Dan itu hanya dimiliki dua orang saja di Indonesia.“Kite terkejut, pas baca iklan di toko online, koleksi prangko kite Rp 2 miliar dan di Indonesia cuma dua orang yang punya,” ucapnya.

Selain perangko dengan gambar Makkah senilai Rp 2 miliar, koleksi prangko Dedi yang dihargai tinggi di antaranya prangko bergambar keong atau siput. Tiga perangko bergambar siput tersebut dihargai Rp 3,6 juta, prangko bergambar bola dunia juga senilai Rp 3,6 juta.

Dedi mengatakan, sejumlah koleksi prangko miliknya di antaranya prangko dengan gambar Presiden pertama RI Soekarno dengan harga beli Rp 1, seri Irian Barat dengan harga beli Rp 5. Seri Soekarno pada1966 dengan harga beli 20 sen, edisi cetakan khusus Soekarno Conefo dengan harga beli 12,-+5,50 dan Conefo dengan harga beli 6,-+4 sen.

Kemudian, masih ujar Dedi, perangko gambar Soeharto dari tahun pembuatan 1980, 1985, 1987, dan 1989. Dengan harga beli edisi pertama Rp 50, Rp 65, Rp 100 hingga Rp 140. Selanjutnya edisi save the monuments of Nubia 1964 harga edisi pertama Rp 6,00 dan Rp 4,00.

Gambar yang lain di antaranya prangko buah rambutan dengan harga pertama Rp 3 +1, buah manggis dengan harga pertama 75 sen+25, buah nanas dengan harga edisi pertama 20 sen+10. P rangko Monas dengan harga edisi pertama 1,50+0,50 sen, prangko Masjid Istiqlal dengan harga edisi pertama 30 sen dan Rp 1 hingga prangko dengan gambar tokoh pewayangan seperti Hanoman, Srikandi, Ramayana, dan Baladewa dengan harga edisi pertama 30 sen sampai Rp 1.

Ada pula prangko edisi anak piatu dengan harga edisi pertama 10 sen sampai 70 sen, kemudian edisi untuk penderita tjatjat, untuk orang buta dan kesejahteraan keluarga, dengan harga beli edisi pertama 35 sen, 50 sen.

“Untuk edisi Soekarno cetakan 1966 harganya sekarang Rp 5 juta per buahnya. Sementara untuk edisi Soeharto kini harganya setara harga smart phone dan edisi Ibu Tien seharga Rp 1 juta,” akunya.

Pria yang dikaruniai tiga orang anak dari perkawinannya dengan Anisa, 38, ini mengatakan, untuk mendapatkan prangko-prangko tua dia buru di Pasar Tanah Abang hingga di luar Jakarta. Selain itu, mengikuti acara-acara filatelis di sejumlah kota di Indonesia. “Terakhir saya datang di peluncuran prangko merah putih yang diresmikan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri 2018 lalu,” ucapnya.

Dedi mengklaim, koleksi prangko miliknya seluruhnya asli. Jamin tersebut, ia klaim karena usaha ayahnya di percetakan. Hingga saat ini usaha percetakan tersebut diteruskan olehnya. Ia berharap, ke depan dunia filatelis bisa dihidupkan kembali. Khususnya bagi generasi muda. Pasalnya kegiatan ini kian dilupakan oleh generasi milenial.

“Ya dengan kegiatan filateli, generasi muda tahu sejarah, kan juga ada nilai bisnisnya juga,” pungkas pria yang masih aktif di komunitas prangko yang berbasis daring. (*)

TAGS

Berita Terkait

Megapolitan / Saman, Penjual Kerupuk Sukses Wujudkan Mimpi

Megapolitan / Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Megapolitan / Mengintip Pembuatan Batik Khas Betawi

Megapolitan / Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta

Megapolitan / Rumah Singgah YKAKI dan Cerita Penghuninya (3-Habis)


Baca Juga !.