Nasional

Drama Politik Capres-Cawapres Fakta atau Rekayasa?

Redaktur: Riznal Faisal
Drama Politik Capres-Cawapres Fakta atau Rekayasa? - Nasional

Karikatur : Ifoed/INDOPOS

INDOPOS.CO.IDKampanye yang dilakukan oleh kedua pasangan calon presiden (Capres)–calon wakil presiden (Cawapres) di sejumlah daerah disebut-sebut banyak rekayasa. Tudingan antar-para pendukung pun tak berhenti setiap harinya, khususnya di media sosial.

Untuk Jokowi, setidaknya ada tiga tuduhan melakukan drama politik. Yakni, saat menjadi imam salat, foto bersama keluarga dan sang cucu, Jan Ethes, yang menghadirkan banyak wartawan. Lalu muncul video seorang wanita yang disuruh melakukan aksi menangis histeris saat Jokowi berada di dalam mobil.

Tudingan serupa juga dialamatkan ke Sandiaga Uno. Setidaknya ada tiga tuduhan  rekayasa menghadirkan pendukung. Antara lain, histeria permintaan selfie wanita bernama Imas dengan Sandi, atau Ilyas yang berlumur lumpur, dan menangisnya petani bawang bernama Subhan di depan Sandi.

Lalu apakah sejumlah kejadian  ini rekayasa atau fakta? Bagi pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago, mau fakta ataupun rekayasa, hal itu sah di mata dunia politik. "Bagi saya Sebuah keniscayaan yang namanya pencitraan dalam politik," kata Pangi kepada INDOPOS di Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Dia menyebutkan, dalam memenangkan kontestasi tentu harus memenangkan hati rakyat. "Kadang-kadang sisi humanisme yang bisa memenangkan kontestasi electoral, seperti ibu histeris dan menangis ketika ada kunjungan Paslon (pasangan calon)," ucapnya.

Menurut Pangi, kontestasi Pilpres di berbagai negara tentu memainkan hal serupa. Bahkan, tidak hanya menghadirkan pihak ketiga, setting-an dalam menarik perhatian masyarakat adalah bagaimana tampil hidup sederhana atau blusukan. Seperti yang kerap ditudingkan sebagian orang terhadap Jokowi  saat Pilpres 2014 lalu.

"Jokowi dulu masuk gorong-gorong, blusukan dan naik bajaj serta Esemka. Apakah itu berjalan secara alamiah atau ada setingan? Bagi saya itu ternyata telah memenangkan citra dan empati rakyat," ucapnya.

Apakah cara-cara seperti melanggar aturan? Direktur eksekutif Voxpol Center ini menegaskan, tak ada satu pun peraturan yang melarang kandidat melakukan pencitraan. "Selama ngak ada pelanggaran, seperti menghadirkan PNS atau anak-anak kecil dalam kampanye, serta tidak ada yang dirugikan dari drama politik tersebut," terangnya.

Jika cara-cara seperti kembali dilakukan oleh Jokowi ataupun dilakukan juga oleh Prabowo-Sandi, kata Pangi, tinggal masyarakat yang menilainya.

"Jokowi menang pada Pilpres 2014 bukan karena prestasi namun karena pintar dan piawai mengelola sintemen dan mengaduk-aduk emosional publik. Sandi sekarang yang juga menyalip dan menjadi pesaing Jokowi soal pencitraan. Jadi semua kembali kepada masyarakat untuk memilih sesuai hati saat 17 April 2019 nanti," bebernya.

Menyikapi hal ini, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf,  Ace Hasan Syadzili menegaskan, rakyat saat ini sudah semakin pintar dan tidak bisa dibohongi dengan  rekayasa pencitraan.

"Demokrasi harusnya membuat rakyat makin cerdas bukan justru membuat settingan sandiwara dan pidato yang dipenuhi informasi yang tidak benar (hoax)," ucapnya kepada INDOPOS.

Dia pun menuding Sandiaga Uno kerap melakukan sandiwara politik. "Sandiwara 1.000 titik kembali dipertunjukkan oleh Cawapres 02. Drama terbongkar karena tangisan tersedu-sedu hanyalah settingan dari emak-emak kader partai," cetusnya.

Baginya, hal itu jelas berbeda dengan Jokowi yang dinilai olehnya tampil apa adanya dengan kesederhanaan dan kepolosan. "Ini jelas berbeda dgn Pak Jokowi yang dicintai rakyat dengan hati kemanapun beliau pergi. Blusukan yang dilakukan sejak wali kota menghasilkan pemimpin otentik tanpa harus di-setting," jelasnya.

Kalau soal kehadiran bersama Jan Ethes, baginya tidak melanggar aturan  kampanye, karena menghadirkan anak kecil. "Beliau sebagai seorang pemimpin keluarga juga punya hak untuk bersama dengan keluarganya. Itu konteksnya bukan kampanye. Apa yang salah apabila Pak Jokowi bersama keluarganya? tuturnya.

Begitupula dengan menjadi imam salat, lanjut Ace, itu adalah hak pribadi Jokowi. "Masa salat berjamaah dipergunakan untuk kampanye? Itu hak pribadinya Pak Jokowi dengan Tuhannya," kilahnya.

Sementara itu, tudingan adanya skenario dalam setiap kampanyenya, akhirnya dijawab oleh Sandiaga Uno. Saat menghadiri acara dukungan dari alumni SMA PL. "Tidak. tidak ada settingan. Saya sudah melakukan kampanye lebih dari seribu titik. Saya tahu mana yang rekayasa dan tidak," ujarnya, Rabu (13/2/2019)

Kejadian terbaru  dimana dirinya mendapat curhatan dari seorang petani bawang bernama Muhammad Subkhan misalnya. Kontroversi muncul karena orang yang menangis tersebut rupanya mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Brebes 2013-2018. Sandi pun minta publik lihat esensi keluhan di video itu dan bukan siapa sosok Subkhan.

"Kita bukannya menangkap apa yang menjadi esensi yang disampaikan oleh Pak Subkhan, tapi meng-attack, menyerang pribadinya Pak Subkhan sendiri. Ini yang saya khawatir menjadi tren menjauhkan elite dengan masyarakat,” katanya.

Sandi berpesan agar lawan politik dan publik untuk bersikap positif. Ibarat gelas, katanya, dia selalu berpikir setengah isi bukan setengah kosong. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini juga mengklaim tidak berani melakukan rekayasa. Alasannya, semua orang memiliki telepon genggam yang bisa merekam video.

Jadi, semua gerak-geriknya pasti bakal terekam oleh siapapun. Dengan cepat pula kegiatannya tersebar di media sosial karena zaman digital baginya penuh transparansi. “Jangan yang macam-macam lah sekarang. Pencitraan itu boleh, tapi tidak akan bisa escape, tidak akan bisa lari pada sesuatu yang bisa terjadi,” ucapnya.

Sebelumnya, Subkhan menangis dan menjerit saat berdialog dengan Sandiaga di Lapangan Sepakbola Wali Kukun Krasak Brebes, Senin (11/2/2019) lalu. Saat itu dia bercerita tentang harga bawang turun sehingga dia tidak bisa bayar cicilan sampai menjaminkan rumahnya.

Subhan yang tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya ditenangkan Sandi. Dia memeluk cawapres nomor urut 02 ini dan sempat sesunggukan.

Sandi lalu menyebarkan video dialognya ke akun Twitter @sandiuno. Tak lama kemudian, unggahannya viral dan mendapat komentar warganet.

Lalu tentang wanita bernama Imas yang menangis di depan Jokowi. Dari pihak lawan menuding Imas adalah kader Partai Amanat Nasional dan pernah bertemu Sandiaga Uno. Sehingga tangisan itu dianggap rekayasa.

Namun, baik Imas dan Subkhan telah mengumumkan di akun medsosnya bahwa mereka sama sekali tidak pernah ketemu Sandiaga Uno. Kedua orang ini juga mengaku bukan anggota partai maupun anggota KPU. (dil)

 

 

Berita Terkait


Baca Juga !.