Headline

Belum Digaji Dua Bulan

Redaktur: Juni Armanto
Belum Digaji Dua Bulan - Headline

INDOPOS.CO.ID - Para keluarga awak Kapal Mother Tanker (MT) Namse Bangdzod harap-harap cemas. Memendam rindu, sembari menunggu jawaban. Berharap suami dan saudara yang telah 51 hari menghilang tanpa kabar segera pulang.

Istri Kapten Kapal MT Namse Bangdzod, Nur Hidayah bahkan terus menghubungi berbagai pihak untuk mencari jawaban atas keberadaan suaminya. Awak INDOPOS saja, dihubungi dua kali pada Kamis (15/2/2019). ”Sudah ada kabar tidak?” tanya perempuan yang telah menjalin hubungan rumah tangga dengan Muhammad Asdar Wijaya selama tujuh tahun.

Perempuan yang bermukim di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel) itu juga telah menanyakan kabar suaminya kepada pihak perusahaan. Namun, PT Pelayaran Surabaya Shipping Lines selaku perusahaan yang bertanggung jawab atas operasional MT Namse Bangdzod hanya meminta dirinya bersabar. ”Di suruh menunggu saja oleh perusahaan. Saya sudah tidak tahu lagi harus melapor ke mana,” ucapnya dengan nada resah kepada INDOPOS.

Sayang, PT Pelayaran Surabaya Shipping Lines tidak menjawab telepon dari awak media ini. Beberapa kali mencoba, saluran telepon hanya tersambung, tanpa jawaban. Hilangnya informasi kapal milik PT Petronusa Niaga Energi itu juga membuat tanda tanya terhadap hak para awak kapal. Berdasarkan keterangan sejumlah istri dan keluarga awak kapal berbendera Indonesia dan tanda panggil PNLQ Type Motor Tanker dengan isi kotor kapal 1.128 GT panjang kapal 75,15 meter itu, gaji untuk Desember dan Januari belum dikasih.

Dari keterangan Nur Hidayah, PT Pelayaran Surabaya Shipping Lines, lanjut dia, masih mengurus administrasi terhadap hak-hak 12 kru MT Namse Bangdzod. ”Saya terakhir dikirimin uang sama suami saya pada November lalu. Kini sudah dua bulan tanpa pemasukan. Kata orang perusahaan masih diurus,” tuturnya.

Pengakuan Nur Hidayah soal gaji yang belum diberikan perusahaan dikuatkan oleh Andi Nangko, yang merupakan kakak Muhammad Asdar Wijaya. Dia menerangkan, pada pertemuan antara pihak keluarga dengan perusahaan pada pertengahan Januari lalu, PT Pelayaran Surabaya Shipping Lines masih mengurus sejumlah administrasi. Hal-hal yang perlu diurus antara lain memberikan berkas fotokopi kartu keluarga, buku nikah, dan keterangan ahli waris. ”Waktu pertemuan, anak saya yang mewakili. Katanya disuruh melengkapi berkas,” kata Andi Nangko.

Tidak hanya kapten kapal yang memiliki hubungan keluarga dengan Andi Nangko. Andi Asrun Suriansyah selaku juru mudi adalah keponakannya. Sedangkan, Wardani yang berposisi sebagai juru minyak sudah dianggap seperti oleh pria yang sudah lama tinggal di Jakarta.

Walau ketiga keluarganya masih belum ada kabar hingga kini, tapi Andi Nangko tak mau berhenti berharap. Dia bahkan beberapa kali menghubungi INDOPOS untuk menanyakan informasi terkait keberadaan Kapal MT Namse Bangdzod. ”Kami mungkin akan rembuk keluarga dulu untuk menentukan langkah selanjutnya,” bebernya.

Berbagai upaya juga terus dilakukan oleh pihak keluarga untuk mencari informasi Kapal MT Namse Bangdzod. Yulia Suciyani, kakak Satria Idam Sulistio yang memiliki posisi sebagai Masinis II menyebarkan informasi kehilangan di media sosial (medsos). Lewat unggahan informasi di Facebook (FB) banyak pihak diakuinya yang memberikan informasi. Ini termasuk dari beberapa orang yang mengaku melihat MT Namse Bangdzod berada di sekitar perairan Selat Sunda. ”Tapi orang yang memberikan informasi tidak punya foto, jadi belum bisa dipastikan kebenarannya,” ujar Yulia.

Bahkan, di tengah kesulitan seperti saat ini, ada juga orang nakal yang mencari keuntungan. Yulia mengaku pernah dihubungi salah seorang pria berinisial T untuk meminta uang Rp 1,5 juta sebagai imbalan membantu pencarian para awak kapal yang memiliki nomor MMSI 525000001 tersebut. ”Tapi saya tidak menanggapi, karena bisa saja itu penipuan,” akunya.

Tapi informasi lanjutan terkait keberadaan kapal yang membawa minyak kelapa sawit (CPO) dari Kota Sampit, Kalimantan Tengah itu berasal dari seorang pria berinsial Ap, yang merupakan awak Kapal Sinarocean8. ”Saya berada di anjungan kapal (Sinarocean8, Red) melihat kapalnya ada, kru lengkap,” tulis Ap yang memberikan keterangan kepada salah seorang keluarga awak kapal MT Namse Bangdzod.

Dia menceritakan, kapal milik PT Surabaya Shipping Lines tersebut juga tertangkap di radar sekitar 2,5 mil dari Kapal Sinarocean8 di sekitar Selat Sunda pada 7 Februari 2019. Sayangnya dia tidak sempat mengambil gambar atau foto kapal Namse dan mengontak melalui radio.           

Di lain pihak, posisi Kapal Namse Bangdzod kembali menghilang dari radar, Kamis (15/2/2019). Berdasarkan data aplikasi Ship Info, posisi terlacak pada Selasa (12/2/2019) berada di Jakarta dengan Garis Lintang sekitar 6°11.12N dan Garis Bujur 106°47.78E. Status kapal dalam keadaan berhenti atau berlabuh. Sementara data kemarin, posisi sudah tidak terlacak lagi.

Pihak TNI AL sempat menyangsikan data aplikasi Ship Info pada Selasa (12/2/2019). Ini karena posisi kapal berada di daratan Jakarta. Meski demikian, baik jajaran TNI AL dan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih terus mencari keberadaan kapal tersebut.

Kantor Penerima CPO Sumir

Sementara itu, kantor PT Mahesi Agri Karya yang merupakan penerima minyak sawit (CPO) sebesar 1.754.382 Kg (1.754 ton) yang diangkut kapal Namse Bangdzod tak jelas keberadaannya alias sumir. INDOPOS berupaya mencari alamat kantornya di Jalan Siaga Raya No 31, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Namun saat dicek ke Graha Arsa No 31, satpam gedung menyebutkan bahwa tidak ada alamat PT Mahesi Agri Karya. Meski di Graha Arsa juga tertera alamat dan nomor yang sama, yaitu No 31. "Di sini memang No 31, tapi tidak ada nama perusahaan PT Mahesi Agri Karya di Graha Arsa ini. Mungkin di belakang gedung ini," kata petugas keamanan Gedung Graha Arsa yang tak ingin disebutkan identitasnya itu kepada INDOPOS, Kamis (15/2/2019) siang. 

Meski demikian, saat kembali dicek keberadaan alamat No 31, terdapat sebuah rumah dengan nomor 31, namun bukan sebuah perusahaan yang dimaksud, yakni PT Mahesi Agri Karya. Bahkan alamat rumah tersebut pun hendak dijual oleh pemiliknya. "Ya kalau alamat Nomor 31 itu di sini, dijual sama pemiliknya. Tidak ada alamat kantor yang dimaksud itu di sini," ujar Ketua RT setempat yang tidak ingin disebutkan identitasnya. (rio/ibl) 

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Mulai Ada Titik Terang Kapal MT Namse Bangdzod


Baca Juga !.