Internasional

Biaya Pengolah Limbah Nuklir Meroket, Pembayar Pajak Tekor

Redaktur: Jakfar Shodik
Biaya Pengolah Limbah Nuklir Meroket, Pembayar Pajak Tekor - Internasional

SISA – Bekas tempat pengolahan limbah bahan nuklir. Foto: BostonGlobe

INDOPOS.CO.ID - Pabrik nuklir di hutan Massachusetts Barat telah berhenti berproduksi 27 tahun silam. Tepatnya, ketika George W Bush masih menjabat presiden Amerika Serikat (AS). Pabrik itu dibongkar sedikit demi sedikit. 

Pipa-pipa terkubur telah digali. Tanah tercemar telah dibersihkan. Berlokasi di tengah bukit-bukit curam dan rumah-rumah pertanian berada di jalan-jalan berliku.

Di bawah penjagaan ketat, 16 tabung limbah radioaktif terkubur di dalam beton kokoh di balik lapisan pagar. Silinder setinggi 13 kaki itu mungkin tidak terlalu menarik, tetapi itu tempat sampah termahal di negara tersebut. Monumen yang menjadi tanda kelambanan pemerintah.

Para pengacara untuk reaktor Rowe sudah tidak berfungsi dan telah lama dibongkar di Maine dan Connecticut bersiap memasuki ruang pengadilan Federal beberapa Minggu mendatang. Dan, untuk kali keempat selama beberapa tahun terakhir, pabrik itu menguras sejumlah besar uang pembayar pajak untuk menutupi biaya keamanan dan pemeliharaan. 

Pembayar pajak telah mengumpulkan hingga USD 500 juta menyusul tuntutan hukum diajukan pemilik pabrik. Mereka siap membayar USD 100 juta lebih. Secara nasional, kegagalan pemerintah AS menjaga sumpah untuk membuang limbah bahan bakar nuklir dan limbah tingkat tinggi lainnya terbukti sangat mahal. Sejauh ini, pemerintah telah membayar lebih dari USD 7 miliar kerusakan karena melanggar janji hukum untuk mulai mengangkut limbah nuklir pada 1998.

Dan biaya diperkirakan akan melonjak karena lebih banyak reaktor tua di negara itu ditutup secara permanen. Stasiun Tenaga Nuklir Pilgrim di Plymouth misalnya, dijadwalkan akan ditutup pada Juni. Alhasil, staf-staf tersisa kini hanya memiliki satu-satunya pekerjaan yang dapat dilakukan, yaitu menjaga detritus radioaktif.

Dengan perkiraan optimistis Departemen Energi, pemerintah akan dipaksa mengeluarkan USD 28 miliar lebih dari dana pembayar pajak sebagai akibat dari litigasi di tahun-tahun mendatang. Selama lebih dari 60 tahun, para pejabat pemerintah telah mencoba menyelesaikan masalah, tetapi serangkaian rencana selalu kandas di tengah seruan nasional Tidak di Belakang Rumah Saya. 

Sejauh ini, para pejabat hanya pernah membangun lubang besar seharga lebih dari USD 10 miliar yang mungkin tidak akan pernah digunakan. Alih-alih mengonsolidasi limbah di satu tempat, pemerintah telah meninggalkan bahan beracun selama ribuan tahun pada sejumlah pabrik nuklir sipil yang masih aktif atau yang sudah tidak aktif.  Para tetangga takut limbah itu akan didiamkan secara permanen, menyedot uang dari kebutuhan lain, menggagalkan pembangunan kembali, dan akhirnya menimbulkan risiko keamanan.

Pada awal 1980-an, ketika limbah menumpuk, Kongres membuat sebuah janji. Departemen Energi akan mengangkut bahan bakar bekas pabrik nuklir dan limbah tingkat tinggi mulai 1998 dan pemilik akan mendapat tagihan, sebagian melalui tagihan listrik pelanggan. Hukum seharusnya memulai proses ilmiah untuk memilih tempat pembuangan terbaik. Tapi seruan Tidak di Belakang Rumah Saya berulang kali menjadi kendala. Bagaimanapun, tidak seorangpun menginginkan limbah nuklir nasional terkubur dalam jarak dekat.

Kongres kemudian fokus pada wilayah gurun terpencil bernama Yucca Mountain di Nevada, sekitar 75 mil dari Las Vegas. Namun, politisi top Nevada, Harry Reid menentang keras rencana tersebut. Setelah AS menghabiskan USD 10 miliar untuk menggali dan mempelajari situs itu, pemerintahan Obama secara efektif membunuh Yucca sekitar 2010. Kongres masih belum memulai kembali pendanaan untuk rencana tersebut.

Proposal untuk membuat repositori terkonsolidasi penyimpanan limbah sementara di New Mexico dan Texas Barat mulai melangkah maju. Namun, itu juga harus menghadapi rintangan besar. Bahkan dengan dukungan kuat untuk perbaikan permanen dari industri tenaga nuklir, pencinta lingkungan, dan pejabat lokal. 

Kongres tetap menemui jalan buntu untuk menemukan tempat pembuangan terakhir bahan bakar bekas dan limbah radioaktif lainnya. Beberapa masih berharap para politisi akan menemukan makam terakhir limbah nuklir tersebut. Mereka juga berharap lembah pedesaan Rowe dan pantai Pilgrim dapat dibangun kembali. (fay/Boston Globe)

Berita Terkait

Megapolitan / Masih Koordinasi Nilai Pajak Bus Listrik

Megapolitan / 14 Ribu Warga DKI Bayar Manual

Nasional / Berlaku April, Ini Kata Pengamat soal Pajak E-Commerce

Banten Raya / Mahasiswa Lebak Tolak Kenaikan PBB

Megapolitan / Tunggak Pajak, Mobil Dijual

Politik / Alasan PKS Bikin Janji Politik Selalu Singgung Pajak


Baca Juga !.