Headline

Debat di Mata Orang Gila

Redaktur: Juni Armanto
Debat di Mata Orang Gila - Headline

COBA MEMAHAMI- Sejumlah penghuni Panti Bina Laras Harapan Sentosa Satu, Cengkareng, Jakarta Barat yang mengalami gangguan jiwa atau orang gila tengah menonton Debat Capres Putaran Kedua, Minggu (17/2/2019) malam. Foto: Ismail Pohan/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pemandangan tak biasa terlihat di Panti Bina Laras Harapan Sentosa Satu yang terletak di Jalan Kemuning Raya No 17, Cengkareng Barat, Jakarta Barat, Minggu (17/2/2019) malam. Sejumlah warga binaan sosial yang mengalami gangguan jiwa alias gila menyaksikan Debat Calon Presiden (Capres) 2019 Putaran Kedua. Mereka duduk di pelataran ruang terbuka menggunakan kursi dengan televisi berukuran 60 inch. Ruangan tersebut kerap digunakan kegiatan lain seperti pertunjukan seni, pembinaan, terapi aktivitas kelompok hingga senam.

Terdapat sekitar 800 warga binaan menempati panti milik Dinas Sosial DKI Jakarta itu. Enam wisma tersedia sebagai rumah tinggalnya. Empat wisma untuk pria dan dua wisma untuk perempuan. Mereka menjadi calon pemilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) pada 17 April mendatang.

Kepala Subbagian Tata Usaha Panti Sosial Bina Laras Harapan Senotosa Satu Hendra Krismanto mengapresiasi sosialiasi Pemilu yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (Pemilu) belum lama ini di pantinya. Karena keterlibatan warga binaan sosial dalam Pemilu tentu menambah rasa percaya diri mereka dan menimbulkan perasaan diterima.

”Secara umum mereka sebagai warna Indonesia. Mungkin dari dia diterima secara hukum karena bisa memilih. Sosialisasi pertama sudah dilakukan KPU. Besok (Senin, 18/2) rencananya akan ada sosialisasi yang kedua," ujar Hendra Krismanto kepada INDOPOS di Panti Sosial Bina Laras Harapan Senotosa Satu, Jalan Kemuning, Jakarta Barat, tadi malam (17/2/2019).

Namun, ia meminta agar sosialisasi semakin gencar. Ini supaya membantu daya ingat warga binaan sosial terhadap seluruh peserta yang berkontentasi di Pemilu 2019. Baik calon legeslatif maupun calon presiden. Pihaknya juga telah memasang banner berisi pengumuman Pemilu dan tertera semua partai politiknya.

"Mungkin daya ingatnya, antara paslon (pasangan calon) 01 dan 02 serta calegnya mereka tidak paham. Nah apalagi sekarang kan dari DPRD dan DPR jadi satu semua kan. Itu kendala bagi warga binaan sosial, karena itu sangat memakan waktu. Mudah-mudahan tidak menimbulkan masalah," jelasnya.

Sosialisasi tersebut diyakini mampu meningkatkan partisipasi warga binaan sosial. Sebagaian mereka bahkan masih hafal dengan presiden yang menjabat saat ini. Dalam sosialisasi juga perlu memberikan foto paslon supaya memudahkan mereka ketika menentukan hak suaranya.  "Jadi masih perlu meningkatkan sosialisasi. Kalau perlu jangan menggambarkan binatang atau buah-buahan di lembaran kertasnya. Langsung paslon 01 dan 02, jadi itu yang diingat oleh mereka dan berbagai caleg lainnya," terang Hendra.

Selain itu, perlu untuk memberikan contoh cara melipat kertas suaranya. Jika tidak pasti sangat membingungkan karena jumlahnya ada beberapa lembar. "Mungkin besok (hari ini, Red) kita lihat nih seperti apa KPU akan mencontohkan cara melipat kertas suaranya dan cara mencoblosnya. Mudah-mudahan besok (hari ini, Red) dicontohkan," ucapnya.

Sebagian warga binaan sosial di Panti Sosial Bina Laras Harapan Senotosa Satu belum pulih. Ini karena penanganan para penderita kejiwaan itu membutuhkan waktu yang relatif lama. Maka itu, saat pelaksanaan Pemilu 2019 petugas panti akan mengarahkan mereka ke tempat pemilihan suara (TPS). "Pasti untuk mengarahkan mereka ke TPS, kita butuh kayak gini (nonton bareng Debat Capres, Red), kan ada usaha lebih seperti menyediakan makananan. Kalau nggak gitu mereka tidak akan mau. Karena mereka butuh reward, kalau nggak ada mereka malas," tuturnya.

Hendra berharap pelaksanaan Pemilu Serentak ini berjalan tertib, lancar, dan damai. Meski ada rasa khawatir untuk mengatur warga binaan sosial tidak semudah warga biasa. "Pasti ada kekhawatiran. Takutnya kertas suara disobek atau seperti apa. Salah coblos mungkin itu ada. Kita tidak pernah memberikan paku. Takutnya untuk melukai dirinya atau digunakan hal lain. Mungkin asal coblos, kita tidak paham," katanya.

"Kegiatannya di sini pukul 07.00 WIB sarapan. Semoga nanti saaat pemilu pukul 12.00 WIB sudah selesai. tidak ada kekacauan dan kekurangan. Semua tertib lah. Insya Allah cukup waktunya," tambahnya.

Salah satu warga binaan Boy Setiawan, 33, mengaku telah mengetahui bakal ada Pemilu 2019 pada 17 April. Namun, untuk para calon legislatif (caleg) yang maju saat ini dirinya masih belum mengetahui. "Kalo untuk cara penyoblosannya tahu. Tapi kalo ada perubahan, tidak tahu. Nah untuk pemilihan calon DPRD dan DPR belum tahu," ungkapnya.

Sebelumnya, KPU telah resmi menetapkan penderita gangguan jiwa mendapat hak suara pada Pemilu Serentak 2019. Sosialisasi pernah dilakukan KPU di depan Panti Bina Laras Harapan Sentosa Satu, Cengkareng Barat pada akhir Desember 2018.(dan/ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Jokowi-Ma'ruf Amin Menang Telak di Jatim

Headline / Jokowi-Ma'ruf Amin Menang Telak di Jatim

Politik / Suara 02 Menang Telak di Tasikmalaya

Politik / Suara 02 Menang Telak di Tasikmalaya

Politik / Pasangan 01 dan 02 Imbang di Tunisia

Politik / Pasangan 01 dan 02 Imbang di Tunisia


Baca Juga !.