Megapolitan

Dari KBM Bimbingan Belajar Anjal di Plumpang, Sempat Dapat Cemoohan, Tempat Belajar Berpindah-pindah

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Dari KBM Bimbingan Belajar Anjal di Plumpang, Sempat Dapat Cemoohan, Tempat Belajar Berpindah-pindah - Megapolitan

BERKUMPUL - Salah satu aktivitas anak jalanan di Bimbel Plumpang, Jakarta Utara. Foto: Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Bimbingan belajar (bimbel) Plumpang didirikan di tengah permukiman padat penduduk di Jakarta Utara. Selain kekurangan guru dan biaya operasional, tempat harus berpindah-pindah. Dari taman, menyewa kos-kosanan, dan kini menempati Balai RW 10 Rawa Badak Selatan.

NASUHA, Jakarta

Satu per satu anak-anak berkumpul di Balai RW 10 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka bukan untuk bermain, tetapi mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di bimbel Plumpang, Jakarta Utara. Tak lama kemudian, mereka diabsen dan membaca doa dengan hikmat. Anak didik dari bimbel Plumpang, Jakarta Utara, ini berasal dari anak-anak jalanan (anjal).

Kegiatan bimbel Plumpang dilakukan setiap Minggu. Karena, pada hari-hari biasa, anak-anak jalanan ini belajar di sekolah informal lainnya. Di bawah asuhan Erwin, 26, bimbel Plumpang berjalan. Pendiri bimbel ini kemudian membuka proses KBM dengan bercerita.

Sembari duduk di lantai, anak-anak jalanan ini mendengarkan cerita dengan seksama. Dengan sabarnya, kemudian Erwin masuk pada materi belajar membangun karakter. Dia mengajarkan kepada anak-anak bagaimana berperilaku sopan, bertutur kata yang baik, hingga bagaimana cara menghargai kepada sesama.

“Dunia anak-anak jalanan keras, sehingga membentuk karakter anak-anak ini menjadi liar, bertutur kata kasar dan tidak saling menghargai. Di bimbel Plumpang ini kita ajarkan character building (pendidikan karakter) seperti cara minta maaf, membiasakan berdoa, mandi, menghormati orangtua, bagaimana menghargai teman, dan mengajarkan bagian-bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh,” ujar Erwin kepada INDOPOS, Minggu (17/2/2019).

Erwin menyebutkan, secara umum anak-anak jalanan yang mengikuti dari usia tujuh hingga 14 tahun. Untuk memudahkan proses kegiatan belajar mengajar, menurut pria kelahiran Jakarta, 25 Januari 1993 itu, ia membagi kelas menjadi tiga kategori. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), untuk anak-anak di bawah delapan tahun, lalu anak SD, dan kategori siswa SMP.

“Kami juga memberikan santunan berupa pakaian seragam sekolah dan keperluan sekolah seperti tas. Kami juga penuhi hak berwisata anak-anak dengan mengajak mereka jalan-jalan ke tempat wisata setahun sekali.

Tujuannya agar mereka mengenal dunia luar. Tahun lalu kami mengajak ke Ragunan, dan mereka sangat senang sekali,” terangnya.

Putra keempat dari lima bersaudara pasangan Oey Tjoen Kiat dan Muani ini menyebutkan, saat ini ada 50 anak jalanan yang mengikuti bimbingan belajar. Selain pendidikan karakter, anak-anak jalanan juga mendapatkan sentuhan pendidikan agama. Pria yang baru mengakhiri masa lajangnya pada Agustus 2018 ini mengajak lima orang guru (volunteer atau guru relawan). “Kami ajarkan mereka belajar salat, membaca Alquran, dan ibadah lainnya,” ungkapnya.

Ia menyatakan, bimbingan belajar dibuka setiap Minggu. Jadwal tatap muka selama dua jam. Pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Menurut Erwin, untuk memperdalam pengetahuan, anak-anak jalanan juga diberikan pendidikan beberapa mata pelajaran (mapel). “Mereka ini mayoritas belajar di sekolah informal, belum semua mapel mereka kuasai. Jadi kami juga memberikan pembelajaran untuk bahasa Inggris, matematika, dan baca tulis,” bebernya.

Pria yang mengaku lulusan S1 Universitas Mercu Buana ini mengatakan, semangat anak-anak yang mengikuti KBM di bimbel Plumpang sangat tinggi. Tidak sedikit anak-anak di bawah asuhannya mendapatkan prestasi.

“Untuk memacu semangat belajar anak-anak, kami memberikan bonus jalan-jalan ke tempat wisata. Jadi, anak-anak jadi termotivasi. Jadi sekarang banyak anak-anak dari bimbel Plumpang yang dapat ranking tiga besar dan yang biasa nilainya merah, jadi berprestasi,” ungkap pria yang mengaku kini bekerja pada bagian digital marketing di perusahaan swasta.

Pria yang baru saja menikah dengan Nur Asmawati, 26, ini mengungkapkan, bimbel Plumpang sudah berdiri sejak 2013. Proses belajar mengajar tidak semulus di sekolah formal milik pemerintah. Bimbel Plumpang timbul tenggelam, karena disebabkan kekurangan guru pengajar.“Ini sudah angkatan ketiga. Dan saat ini sudah ada 5 guru relawan yang komitmen membantu,” tuturnya.

Erwin menilai, masih banyak anak-anak jalanan dan dari keluarga tidak mampu yang tersentuh pendidikan. Berangkat dari sanalah kemudian Erwin mendirikan bimbel Plumpang. “Kita tidak tahu ada potensi apa pada anak-anak jalanan ini. Bisa saja, dari tangan mereka bisa tercipta obat kanker atau teknologi yang canggih. Tapi caranya bagaimana? Mereka harus disentuh dengan pendidikan. Dan ternyata masih banyak anak-anak jalanan yang belum tersentuh oleh pendidikan,” tegasnya.

Dia mengaku, tidak mudah untuk mendirikan bimbel. Ia harus memberikan pengertian dan pemahaman kepada setiap orang tua dari anak-anak jalanan tentang pentingnya pendidikan. Tidak sedikit usahanya mendapatkan penolakan dan ancaman-ancaman yang membahayakan keselamatannya.

“Perjuangan saya luar biasa. Cemoohan dengan kata-kata kotor sudah setiap hari. Saya hampir dipukul bahkan diancam dengan pisau, disangka mengambil anak-anak jalanan oleh para preman. Tapi semua saya hadapi dengan doa dan sabar. Kemudian saya berikan pemahaman kepada mereka,” ujarnya.

Usaha Erwin lambat laun diterima oleh masyarakat Plumpang. Apalagi usahanya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak jalanan cukup berhasil. Kali pertama dibuka, bimbel menempati rumah kontrakan dengan 30 orang anak jalanan. Silih berganti guru pengajar masuk dan pergi, sehingga bimbel semakin sepi.

“Pada 2013 sampai 2015 bimbel membuka KBM di taman. Karena taman digusur, kami kemudian menyewa kos-kosan Rp 500 ribu per bulan sampai 2017. Dan dari 2017 sampai sekarang kita diberikan tempat Balai RW 10,” ungkapnya.

Saat ini Erwin menginginkan untuk terus meningkatkan bimbel Plumpang. Salah satunya dengan menambah waktu pembelajaran dari satu hari menjadi dua hari dalam seminggu. Keinginannya tersebut didasari untuk meningkatkan prestasi bagi para peserta didiknya. “Kami ingin menambah hari Sabtu untuk kegiatan belajar mengajar,” ucapnya.

Untuk mengatasi masalah guru pengajar, menurutnya, dia akan mengajak para relawan untuk mau bergabung ke bimbel. Ia yakin, dengan begitu masalah kekurangan guru pengajar bisa teratasi. “Banyak guru relawan yang tidak betah. Kan di bimbel Plumpang ini kerja sosial, jadi kita tidak mendapatkan imbalan atau gaji sepeserpun,” katanya.

Selain menambah hari untuk KBM, menurut Erwin, tahun ini bimbelnya ingin memberikan beasiswa kepada anak didiknya yang berprestasi. Dengan prestasi dan jenjang belajar yang lebih tinggi, diharapkan anak-anak ini di kemudian hari bisa mengangkat perekonomian keluarganya.

“Tahun ini kita ingin coba untuk dua orang siswa dulu. Tentu dengan seleksi yang ketat. Kendala saat ini, kami pada biaya. Karena belum ada perhatian dari Pemerintah Provinsi DKI. Beberapa kali kami mendapat support dari perusahaan swasta,” pungkasnya. (*)

TAGS

Berita Terkait

Megapolitan / Saman, Penjual Kerupuk Sukses Wujudkan Mimpi

Megapolitan / Budi, Ingin Film Indonesia Lebih Dicintai

Megapolitan / Mengintip Pembuatan Batik Khas Betawi

Megapolitan / Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta

Megapolitan / Rumah Singgah YKAKI dan Cerita Penghuninya (3-Habis)


Baca Juga !.