Nasional

Peredaran Narkoba dalam Lapas Kian Parah, Dirjen Pemasyarakatan Harus TNI-Polri

Redaktur: Ahmad Nugraha
Peredaran Narkoba dalam Lapas Kian Parah, Dirjen Pemasyarakatan Harus TNI-Polri - Nasional

Peredaran narkoba di dama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) semakin mengkhawatirkan. Foto : Dok/ANTARAFOTO

INDOPOS.CO.ID - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) bukan hanya menjadi tempat nyaman bagi para pengendali narkoba. Namun tempat itu dianggap penghuninya sebagai surga untuk dapat menjual, mengonsumi, hingga mengatur peredaran narkotika di Indonesia.

Ketum Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN), Jefri Tambayong menyebutkan bahwa lapas adalah tempat peredaran narkotika yang paling aman. Para penghuni menyebut tempat itu adalah apotek di mana semua narkoba bisa dengan mudah didapat. "Meski sudah beberapa kali diungkap, namun tempat itu pasti ada lagi," katanya di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Atas kondisi itu, dia meminta Menteri Hukum dan HAM untuk bertindak tegas. Karena peredaran narkotika di dalam lapas sudah semakin merajalela. "Saya setuju dengan apa yang sebelumnya disampaikan BNN bahwa hampir 90 persen pengendali narkoba ada di dalam penjara, dan memang itu benar. Dan saya sangat yakin apalagi banyaknya oknum yang terlibat," tandasnya.

Jefri pun meminta dilakukan pergantian di tubuh Dirjen Pemasyarakatan. Di mana sosok dari TNI maupun polri, yang dianggap bisa mengatasi peredaran narkotika yang sudah semakin parah. "Harus segera diganti, menurut saya libatkan TNI dan polri, karena saat ini sudah darurat narkoba," ungkapnya.

Contoh nyata yang pernah ditemukan, sambung Jefri, adalah ketika dirinya menemukan seorang kakek yang bebas lebih cepat. Di mana si kakek malah memaki anaknya dan menilai diluar dirinya jantungan, namun di dalam penjara dia malah aman. "Alasannya didalam penjara diberkati Tuhan, bukan hanya gampang dapat narkoba, tapi gampang jualan berbagai jenis narkotika," terangnya.

Mudahnya peredaran narkoba itu, sambung Jefri, karena menurut keterangan Fredi Budiman kala itu, semua oknum bisa dibayar. Di mana dalam satu kali transaksi minimal sipir mendapat bayaran Rp15 juta, dan bila dalam satu hari 10 transaksi bagaimana? "Itu baru kelas sipir, belum yang lainnya. Karena semua beda harga apalagi perputaran uang di dalam penjara satu hari bisa mencapai Rp1 triliun," terangnya.

Dari semua kasus yang ditemukan itu, Jefri pun meminta harus ada pergantian mulai dari dirjen PAS hingga ke sipir. Selanjutnya, buat juga regulasi yang jelas dengan menaikan gaji sipir, dengan konsekuensi kalau mereka menangkap bandar diberi Rp 100 juta, dan kalau mereka ditangkap kasih hukuman minimal 20 tahun. "Tapi selama ini banyak juga orang yang mau pasang badan demi uang, karena itu perlu pasukan perang yang siap menerangi bandar," katanya.

Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan peredaran narkoba masih didominasi oleh narapidana yang saat ini berada di Lembaga Pemasyarakatan (lapas). Mereka pun meminta agar Menteri Hukum dan HAM untuk mereposisi Dirjen Pemasyarakatan (dirjen PAS) yang selama ini gagal dalam merevitalisasi penjara. 

Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari yang mengharapkan kementerian untuk segera bertindak. Pasalnya, 90 persen hasil pengungkapan yang dilakukan pihaknya, semua bersumber dari dalam lapas. "Seperti pengungkapan 100 kilogram sabu dan 1,4 ton ganja, semua dikendalikan napi. Semuanya dikendalikan dari dalam lapas," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Menurut Arman, selama ini juga pihaknya sudah melaporkan siapa saja bandar-bandar besar ke dirjen PAS. Namun bukannya diberikan pengawasan ekstra, napi itu malah dibiarkan kembali mengendalikan peredaran narkotika. "Dengan maraknya peredaran dan juga penyeludupan yang dikendalikan oleh napi, bisa kita simpulkan bahwa memang pengawasan agak lemah, dan barang kali pengawasan terabaikan," ungkapnya. (ibl) 

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Selundupkan 37 Kilogram Sabu, Enam Warga Negara Malaysia Dibekuk

Nusantara / Situasi Pulau Adonara Mulai Kondusif

Nasional / Satu SST Brimob Amankan Pulau Adonara

Nasional / Jelang Lebaran, Situasi Politik Tenang


Baca Juga !.