Headline

RI Optimistis Tuan Rumah Olimpiade 2030

Redaktur: Juni Armanto
RI Optimistis Tuan Rumah Olimpiade 2030 - Headline

ILUSTRASI - Logo Olimpiade. Foto : IST

INDOPOS.CO.ID - Keberhasilan Indonesia menggelar Asian Games XVIII/2018 dan Asian Paragames 2018 menjadi bukti bisa menyelenggarakan pesta olahraga kelas dunia seperti Olimpiade. Mengingat Indonesia resmi mencalonkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 ditandai penyerahan surat asli Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) kepada Presiden International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach di Sekretariat IOC, Lausanne, Swiss.

Penyerahan surat yang menyatakan keinginan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2032 itu dilakukan oleh Duta Besar (Dubes) RI di Bern Muliaman D. Hadad pada 11 Februari 2019.  Sebelumnya, Presiden RI secara lisan telah menyampaikan keinginan Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade kepada Thomas Bach saat berkunjung ke Indonesia pada 2018. Presiden juga telah menyampaikan surat yang menyatakan keinginan Indonesia itu secara tertulis. Salinan surat telah diterima Thomas dan direspons dengan positif, terlebih setelah kesuksesan Indonesia selama perhelatan Asian Games dan Asian Paragames 2018.

Pada pertemuan dengan Dubes RI Bern Muliaman D, Hadad, Christophe Dubi selaku Executive Director IOC menyampaikan respons yang positif terhadap aplikasi Indonesia tersebut dan berupaya untuk bekerja sama lebih lanjut selama proses pemilihan tuan rumah olimpiade berlangsung. "IOC sudah mengakui kapabilitas Indonesia pada saat penyelenggaraan Asian Games dan Asian Paragames 2018 yang berjalan sukses. Kami rasa ini menjadi fondasi yang cukup kuat," kata Dubi dalam rilis dari Kantor Berita Republik Indonesia (KBRI) di Bern yang diterima di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Dubes Muliaman menyampaikan bahwa aplikasi Indonesia sebagai calon tuan rumah Olimpiade 2032 dapat menjadi kesempatan baik untuk menunjukkan kemampuan ekonomi Indonesia, utamanya sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan anggota G-20. ”Ini momen yang tepat untuk menunjukkan kapabilitas Indonesia sebagai negara besar. Tentu saja pengalaman Indonesia pada 2018 lalu patut menjadi bahan pertimbangan,” ujarnya.

Proses pemilihan tuan rumah Olimpiade 2032 akan dilaksanakan selambat-lambatnya pada 2024. Tokyo, Jepang; Paris, Prancis; dan Los Angeles (LA), Amerika Serikat (AS) kini telah ditetapkan sebagai tuan rumah Olimpiade berturut-turut pada 2020, 2024, dan 2028.

Djoko Pekik Irianto, pengamat olahraga optimistis bahwa prinsip Indonesia mampu dengan pengalaman tersebut. Harus dipersiapkan dan direncanakan secara detail tentu dalam hal ini komitmen pemerintah terutama terkait anggaran. "Langkah teknis yang harus dilakukan dari sekarang adalah lobi ke negara-negara peserta. Menugaskan Komite Olimpiade Nasional (KOI) dalam rangka memenangkan bidding," ujarnya kepada INDOPOS melalui sambungan telepon di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Salah satu tantangan bagi kota yang menyelenggarakan Olimpiade, yaitu semua fasilitas, venue, dan layanan harus menganut prinsip aksesibilitas universal, termasuk ramah kepada penyandang disabilitas.  "Venue Asian Games yang lalu perlu disempurnakan, terutama untuk kota tuan rumah Jakarta dan Bandung, Jawa Barat. Meski  jumlah cabang olahraga dan pertandingan Olimpiade lebih sedikit dibanding Asian Games," kata Djoko.

Selain Indonesia, terdapat negara lain yang mengajukan diri menjadi tuan rumah Olimpiade antara lain India, Australia, dan Tiongkok. Kendati demikian, Indonesia mampu bersaing dengan sejumlah negara tersebut. "Kuatkan lobi untuk meyakinkan semua anggota dan International Olympic Committee (IOC). Berdayakan member IOC yang mempunyai jaringan luas dan bagus," terangnya.

Tingkat kesulitan bagi Indonesia yang perlu dipertimbangkan adalah anggaran. Jangan menggelontorkan dana besar untuk membangun venue, tapi tidak laik venue tersebut. Selain itu Indonesia perlu menggelar ajang olaharaga tingkat dunia ini harus ramah terhadap lingkungan.  "Itu yang harus dipertimbangkan secara total oleh pemerintah. Jangan sampai seperti Olimpiade Brasil 2017. Bisa begini tentu perlu pengorbanan, contoh saat Asian Games 2010 Guangzhou begitu birunya langit di atas Guangzhou. Ini setelah kita cari info sejumlah pabrik menghentikan sementara produksinya (tidak ada polusi udara, Red). Demikian juga saat di Olympic London. Indonesia bisa mencontoh itu," kata Dosen FIK Universitas Negeri Jogjakarta itu.

Persiapan tak kalah penting adalah pelatihan atlet. Karena untuk menjadikan atlet yang berprestasi, perlu persiapan panjang, terstruktur, dan sistematis. Persiapan panjang saja, tanpa struktur dan sistematika yang baik tidak akan menghasilkan atlet unggulan. Pelatihannya bisa melalui Long-Term Athlete Development (LTAD) dengan waktu delapan hingga 10 tahun.

"Untuk bisa bersaing di level Olimpiade harus ada spesial treatment melalui LTAD. Misalnya saat ini kita cari 100 atlet muda potensial, selajutnya kita lakukan HIPOP (High Performance Program) dengan cara training camp kan di negara-negara maju seperti atletik di Amerika Serikat, renang di Australia. Paling pokok adalah sport science dan pelatih itu dimiliki oleh negara maju," tukas Djoko.

Anggota Komisi X DPR Popong Otje Djundjunan menyambut positif wacana Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade. Ini menjadi kesempatan bagus artinya harus membuktikan. Namun, untuk berapa jumlah anggaran yang akan disiapkan belum ada pembahasaan di parlemen. "Belum ada pembahasaan soal anggaran, baru wacana bahwa ada rencana untuk jadi tuan rumah. Secara politis itu sangat bagus. Tapi kesempatan secara finansial berat, karena utang Indonesia sudah Rp 4 ribu triliun," tutur Ceu Popong disapanya.

Secara finansial berat walaupun nanti ada pemasukan dari negara lain. Tapi sebagai tuan rumah itu pasti akan banyak mengeluarkan biaya apalagi Olimpiade, jadi harus dipikirkan matang-matang. "Itulah kebiasaan kita nanti kalau sudah dekat baru ribut grasak grusuk. Kalau negara lain jauh sudah dipersiapkan," terangnya.

"Pasti akan memperlukan perbaikan venue jauh lebih besar. Apakah siap duitnya, utang kita sudah besar. Kalau kita ingin mengejar nama tidak apa-apa. Tapi kalau kita mau berpikir kepentingan rakyat," tambahnya.

Sementara Komite Olimpiade Indonesia (KOI) berharap Indonesia mampu memperbanyak penyelenggaraan kejuaraan-kejuaraan olahraga tingkat internasional sebagai persiapan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. "Langkah selanjutnya setelah pengajuan resmi sebagai tuan rumah Olimpiade 2032 adalah Indonesia sering menggelar kejuaraan cabang olahraga bertaraf internasional sehingga menjadi promosi Tanah Air," kata Ketua Umum KOI Erick Thohir dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

Dia juga berharap federasi-federasi olahraga di Indonesia juga melakukan lobi ke federasi internasional dan persiapan dengan mengajukan diri sebagai tuan rumah kejuaraan-kejuaraan internasional. "Penyelenggaraan kejuaraan internasional di Indonesia itu juga untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap olahraga. Selain itu, arena-arena pertandingan yang sudah dibangun pada Asian Games 2018 tidak akan terbengkalai karena sering digunakan," kata pemilik klub sepak bola Oxoford United di Inggris dan DC United di Amerika Serikat itu.

Erick menyontohkan salah satu langkah untuk promosi Indonesia, yaitu penyelenggaraan Piala Dunia Bola Basket 2023 yang juga merupakan tuan rumah bersama Jepang dan Filipina.

"Benar, kini Indonesia sudah resmi dalam mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Itu sesuai dengan apa yang saya katakan bahwa setelah Asian Games 2018 akan ada pengajuan surat secara resmi," kata pemilik klub bola basket Satria Muda Pertamina Jakarta itu.

Indonesia, lanjut Erick, mampu menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 menyusul persiapan penyelenggaraan Asian Games 2018 yang hanya memakan waktu dua tahun tiga bulan. (dan/ant)

 

Berita Terkait


Baca Juga !.