Headline

Jaga Momentum, BI Garansi Pelonggaran Likuditas

Redaktur: Jakfar Shodik
Jaga Momentum, BI Garansi Pelonggaran Likuditas - Headline

JAGA MOMENTUM - Gubernur BI Perry Warjiyo saat menjelaskan kendisi moneter terkini di Jakarta, Kamis (21/2/2019). Foto antaranewscom

INDOPOS.CO.ID - Bank Indonesia (BI) menjamin kondisi likuiditas longgar bagi perbankan. Selain itu, juga bakal memberi stimulus makroprudensial. Garansi itu diberikan sebagai kompensasi kebijakan suku bunga acuan tetap dengan tujuan akhir menopang stabilitas ekonomi dari tekanan global.

Merespon suku bunga The Fed yang mulai turun (dovish), BI menegaskan posisi kebijakan suku bunga acuan Indonesia tidak mengalami perubahan. Itu dilakukan untuk menjaga stabiliitas perekonomian, menurunkan defisit transaksi berjalan, dan menarik modal asing. 

Dengan keputusan itu, sejak November 2018 hingga Februari 2019, BI sudah empat kali beruntun mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate di kisaran 6 persen. Setelah menahan suku bunga acuan 6 persen, kontribusi BI terhadap ekonomi domestik diharap tidak akan berkurang. Momentum pertumbuhan ekonomi akan dijaga. ”Suku bunga fokus stabilitas eksternal. Sedang likuiditas dan makroprudensial akan dikendorkan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan pembiayan ekonomi,” tutur Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (21/2/2019).

Dengan suku bunga acuan tetap, suku bunga simpanan fasilitas deposit (depocit facility) juga tetap 5,25 persen, dan fasilitas penyediaan likuiditas bagi bank (lending facility) tetap 6,75 persen. Hanya, Perry enggan mengungkap alas an kebijakan pelonggaran makroprudensial. 

Kata dia, pelonggaran makroprudensial akan menyasar sektor pariwisata, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta sektor-sektor berorientasi ekspor. ”Kami juga akan memperkuat kebijakan sistem pembayaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

Tahun ini, BI dan pemerintah memiliki pekerjaan rumah cukup besar. Yaitu menurunkan defisit transaksi berjalan hingga 2,5 persen dari produk domestic bruto (PDB), dari defisit transaksi berjalan pada 2018 sebesar 2,98 persen PDB.

Penurunan defisit transaksi berjalan butuh kerja ekstra mengingat laju impor masih tinggi, termasuk impor untuk memenuhi permintaan minyak dan gas. Penurunan impor harus dilakukan berbarengan dengan meningkatkan kinerja eskpor. Karena itu, pelonggaran kebijakan makroprundesial juga akan menyasar motor-motor pendorong ekspor.

Sementara itu, lubang defisit transaksi berjalan harus ditambal dengan aliran modal asing yang masuk agar pembiayaan tercukupi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 5,0-5,4 persen, setelah pada 2018, ekonomi tumbuh 5,17 persen. (ant)

Berita Terkait

Ekonomi / BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

Nasional / Untuk Menjadi Kuat Tak Perlu Sejantan Pria

Ekonomi / Rupiah Menguat Setelah Pengumuman Suku Bunga BI

Ekonomi / BI Siapkan Langkah Strategis

Headline / Deflasi Februari, Indikasi 2019 Inflasi Rendah

Ekonomi / BI Jamin Likuiditas Longgar Buat Perbankan


Baca Juga !.