Megapolitan

Duka untuk Reynard, Jangan Ada Lagi

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Duka untuk Reynard, Jangan Ada Lagi - Megapolitan

Ilustrasi Foto

INDOPOS.CO.ID - Kesedihan masih tampak dari raut wajah Yuli Harlani, 30. Tiga minggu yang lalu, putra sulungnya, Reynard Putera Wahyudi, 4,  meninggal dunia karena demam berdarah dengue (DBD). Sebelumnya, balita kelahiran Jakarta 15 September 2014 ini sempat mendapatkan perawatan di RS Hermina, Jakarta Timur pada Kamis (31/1/2019).

Yuli menuturkan, pada mulanya Reynard hanya mengalami panas den muntah-muntah sejak Minggu (27/1/2019). “Gejalanya hanya panas dan muntah-muntah itu pada Minggu (27/1/2019) malam. Kemudian saya kasih obat panas, muntahnya berkurang,” ujar Yuli Harlina ditemui INDOPOS di kediamannya, Kamis (21/2/2019).

Keesokan harinya, Senin (28/1/2019), Reynard dibawa ke klinik untuk mendapatkan perawatan medis. Saat itu, dokter hanya menyarankan ke IGD apabila Reynard masih mengalami muntah-muntah. “Senin, si Reynard masih muntah-muntah, dan saya membawanya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Aliyah Pondok Bambu,” katanya.

Dikatakan Yuli, mengutip keterangan dari petugas medis, kondisi Reynard masih baik. Ini diperkuat dengan Reynard yang aktif . Kemudian, dari RS tersebut Reynard mendapatkan obat penurun panas dari dubur. “Kata petugas, Reynard enggak apa-apa, karena anaknya aktif,” ungkap Yuli menirukan ucapan petugas medis.

Yuli yang sangat memperhatikan kondisi Reynard kemudian esok harinya Selasa (29/1/2019) membawa Reynard ke puskesmas Jatinegara untuk pemeriksaan darah. Di sana, ia harus kembali lagi, karena tidak mengantongi surat dari dokter. “Rabu (30/1/2019) saya datang lagi dengan membawa surat dari dokter. Kita menunggu 1,5 jam untuk mengetahui hasil pemeriksaan darah. Hasilnya normal baik itu trombosit dan lainnya,” bebernya.

Yuli menyebutkan, pada Rabu (30/1/2019) malam, suhu tubuh Reynard turun.  Yuli senang, beranggapan Reynard sembuh dan masuk angin saja. “Alhamdulillah ini anak hanya masuk angin doang atau nggak radang. Malam itu kita tetap begadang untuk menjaga Reynard,” ungkapnya.

Ia terkejut saat menemukan Reynard kembali muntah-muntah pada Rabu tengah malam. Tidak itu saja. Reynard juga sesak nafas dan enggap-enggapan. Hingga pagi hari, Yuli mengaku memberikan konpres dan membaluri putranya dengan bawang merah. “Reynard teriak-teriak jam 00.00 WIB, manggil-manggil bunda. Pagi harinya Kamis (31/1/2019) pukul 09.30 WIB kami membawa Reynard ke dokter spesialis di RS Hermina,” ujarnya.

Saat mendapatkan pemeriksaan medis di IGD RS Hermina, masih ujar Yuli, Reynard langsung dilarikan ke ruang ICU. Karena, salah seorang dokter spesialis di IGD marah mengetahui Reynard menderita DBD harus mengantre untuk mendapatkan tindakan. Sementara, denyut nadi Reynard semakin lemah.

“Iya, pas di IGD dokter marah-marah karena Reynard harus menunggu tindakan, padahal nadinya terus lemah. Jadi kita nyelak (melewati) antrean pasien-pasien lain. Kemudian Reynard dibawa ke ruang ICU untuk tindakan,” katanya.

Reynard langsung mendapat tindakan medis di ruang ICU. Karena denyut nadinya sudah lemah. Mendapatkan perawatan di ruang ICU, menurut Yuli, Reynard masih memanggil-manggil dirinya. Reynard mendapatkan perawatan medis dari dokter spesialis. “Bunda jangan tinggalin Ade,” ungkap Yuli menirukan ucapan Reynard saat di ICU.

Yuli mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan dokter menyebutkan, Reynard menerita DBD. Dokter sempat menyayangkan keluarga yang terlambat menangani Reynard. Menurut dokter spesialis di RS Hermina, dikatakan Yuli, DBD sering mengecoh keluarga penderita. Setiap hasil pemeriksaan dapat berubah-ubah dalam setiap jam.

“Dokter memberikan keterangan Reynard kena DBD dan telat penanganan. Padahal saya sudah mondar-mandir ke dokter. Sampai akhirnya Reynard tidak tertolong dan meninggal Kamis (31/1/2019) habis Asar,” ungkapnya.

Usaha Yuli dan keluarga sudah cukup. Karena harus menghabiskan waktu dan biaya untuk memberikan pengobatan yang terbaik untuk Reynard. Tidak kurang saat tindakan medis di RS Hermina Yuli harus rewel kepada dokter dengan bertanya setiap tindakan yang diberikan kepada Reynard.

“Saya sering tanya ke dokter. Menanyakan setiap tindakan medis, apakah aman nggak untuk anak. Saya tidak mikir lagi berapa biaya yang harus dikeluarkan, apalagi untuk kebaikan Reynard,” katanya.

Yuli sebelumnya tidak tahu sama sekali kalau putranya terjangkit DBD. Tetapi apalah daya, kini Yuli harus ikhlas dan merelakan kepergian putra bungsunya yang ceria dan menggemaskan meninggal. Harapan Yuli pupus untuk menyekolahkan Reynard ke PAUD. “Padahal saya sudah janji, kalau Reynard masuk PAUD, akan keluar kerja dan fokus mengasuhnya. Kami berharap pemerintah harus merespons cepat setiap kasus DBD. Jangan ada korban, baru melakukan tindakan,” pesan Yuli.

Yuli mengaku, sepeninggal Reynard pihak kelurahan melakukan fogging fokus di sekitar kediamannya. Yuli mengaku tidak melakukan pelaporan ke pihak kelurahan, tetapi dilakukan oleh RS Hermina ke pihak Kelurahan Rawa Bunga. “Saya kan KTP Rawa Bunga, tapi domisili di Cipinang Besar Selatan (CBS). Mungkin informasi tersebut diteruskan dari Kelurahan Rawa Bunga ke Kelurahan CBS,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan kakek Reynard, Kusnadi. Ia membenarkan, fogging fokus dilakukan di kediamannya. Karena, setiap hari Reynard tinggal bersamanya. Sebelumnya, menurut Kusnadi, petugas dari kelurahan dan puskesmas, RT dan RW melakukan penyelidikan epidemiologi (PE). “Giliran cucu saya meninggal dan ada korban baru pada ramai-ramai melakukan tindakan. Kenapa tidak diantisipasi,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Lurah Cipinang Besar Selatan Agung Budi Santoso mengakui, fogging focus sudah dilakukan di sekitar kediaman Reynard. Tindakan tersebut, menurutnya dilakukan setelah ada kasus DBD muncul dan hasil pemeriksaan PE menyatakan positif wilayah merah. “Untuk fogging focus tidak ada batasan. Kalau ada kasus, pemeriksaan PE oleh puskesmas positif, ya kita lakukan fogging fokus,” ucapnya. (nas)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.