Headline

Mau Juara, Bandung Perlu GOR Baru

Redaktur: Juni Armanto
Mau Juara, Bandung Perlu GOR Baru - Headline

Mantan pebulutangkis Indonesia Taufik Hidayat. Foto : Charlie Lopulua/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Hujan yang mengguyur Kota Kembang, Minggu (24/2/2019), tidak menuyurutkan semangat warga Bandung menyaksikan partai final Djarum Superliga Badminton 2019 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Sejak subuh, bahkan masyarakat sudah mengantre untuk memburu tiket. Ironinya, banyak juga yang tidak kebagian tiket.

Wajar saja jika antusiasme warga Bandung menyaksikan pertandingan bulutangkis level internasional sangat tinggi. Sebab, ajang serupa dilakukan pada 27 tahun lalu. Tepatnya event Indonesia Open pada 10-14 Juli 1991. Saat itu, Indonesia berhasil meraih dua gelar yakni dari tunggal putera, Ardy Bernadus Wiranata dan ganda campuran, Rudy Gunawan/Rosiana Tendean.

Sayangnya, untuk bisa menghelat pertandingan bulutangkis tingkat dunia, hanya Sabuga saja yang dapat digunakan. Namun, gedung dengan luas 22.000 meter persegi itu juga memiliki keterbatasan. Jumlah kursi penonton terbatas, dan kelayakan tinggi bangunan, menjadi penyebab dibutuhkannya gedung baru.

Padahal, prestasi atlet Jawa Barat pada olahraga bulutangkis telah memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. Bahkan tercatat atlet dari Jawa Barat menjadi juara olimpiade terbanyak saat ini seperti Susi Susanti, Candra Wijaya, Rexy Mainaky, Ricky Subagja, Taufik Hidayat dan Markis Kido.

Legenda bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat pun mendorong agar pemerintah mau membangun gedung baru untuk mengadakan kejuaraan internasional di Bandung. Tidak hanya untuk olahraga, tapi juga gedung multifungsi yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat konser musik musisi internasional, seminar umum dan acara penting lainnya.

”Kalau dilihat dan dapat dirasakan sendiri di Sabuga, bahwa animo masyarakat Jawa Barat dan khususnya Bandung sangat tinggi untuk datang dan menyaksikan event internasional seperti Superliga Badminton,” kata Taufik dalam pesan singkatnya kepada INDOPOS, Senin (25/2/2019).

Sebenarnya, alternatif yang paling memungkinkan untuk menggelar ajang internasional adalah GOR Padjajaran di Jalan Padjajaran nomor 37, Cicendo, Bandung.

Jika tempat ini diusulkan menjadi dedung serba guna internasional yang modern, harus dipugar secara menyeluruh. Kesulitan memugar Gor Padjajaran dikarenakan, gedung tersebut sudah dinobatkan sebagai cagar budaya kota Bandung.

Namun banyak cara untuk renovasi tanpa menghilangkan ciri khas dari cagar budaya tersebut. Seperti proses pemugaran Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta demi menghelat Asian Games. Bentuk bangunan tetap, tapi fungsinya semakin ditingkatkan. Opsi ini dapat dilakukan oleh pemerintah untuk memugar GOR Padjajaran.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil harus melihat peluang ini. Terlebih hotel-hotel bintang empat dan lima semakin menjamur. Hal ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung slogan Bandung dan Jabar Juara.

Karena itu, Taufik berharap, Bandung dapat memiliki venue bulutangkis untuk menggelar event internasional. ”Mudahan-mudahan ke depan Bandung bisa membangun sebuah tempat atau venue untuk dapat menyelenggararakan event atau kejuaraan internasional,” pungkasnya.

Sekretaris Jenderal Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pun juga mengamini ucapa Taufik. Mengingkat kesuksesan event akhir pekan lalu, dia pun mengkaui rakyat Bandung memiliki penggemar luar biasa untuk olahraga bulutangkis. ”Sudah selayaknya Bandung punya gedung olahraga yang representatif,” tandas dia.

Diharapkan juga, dengan dilaksanakannya, pertandingan bulutangkis tingkat dunia di Bandung, juga ikut melambungkan nama kota tersebut serta mnejadi magnet pariwisata dunia. Apalagi, Bandung sudah menjadi sister cities dari kota dunia seperti Braunschweig-Jerman, Forth Worth-AS, Liuzhou-Tiongkok. (bam)

Berita Terkait


Baca Juga !.