Denuklirisasi Gagal Total

INDOPOS.CO.ID – Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un di Hanoi, Vietnam, berakhir tanpa kesepakatan. Keduanya saling bersikeras terhadap argumentasinya masing-masing. Denuklirisasi yang diharapkan masyarakat internasional pun gagal terjadi.

Pada pertemuan hari kedua antara ’The Supreme Leader’, sebutan Kim dan Presiden Trump berlangsung alot. Walaupun, perbincangan diplomasi berjalan dengan tensi rendah, tetap saja terlihat adanya ketegangan pada mimik kedua pemimpin tersebut.

Baca Juga :

Drama Tiga Hari

Trump sesekali mengernyitkan dahi saat bicara. Sementara Kim melihat Trump dengan tatapan sinis. Pada perbincangan keduanya di depan kamera, Kim untuk pertama kalinya juga menjawab pertanyaan dari awak media luar negeri. Saat itu, sang jurnalis bertanya soal kemungkinan terjadinya kesepakatan. ”Terlalu dini untuk mengatakannya. Tapi saya bukan orang yang pesimistis. Dari yang saya rasakan sekarang, saya punya perasaan cukup baik saat ini,” jawab Kim dibantu penerjemahnya.

Terkait denuklirisasi yang diminta oleh Presiden Trump, pria berumur 35 tahun itu mengaku bersedia membongkar seluruh gudang persenjataan nuklirnya. ”Kalau saya tidak ingin melakukan itu, saya tidak akan ada di sini sekarang,” tegasnya.

Dalam KTT pertama di Singapura tahun lalu, Kim memang telah bersedia menghentikan pusat nuklir di Yongbyon, Korea Utara. Dengan catatan, negaranya dibebaskan dari sanksi hukum internasional.

Permintaan itu yang memberatkan Trump. Kesepakatan pun tidak bisa dilakukan oleh kedua negara. AS tidak bermaksud melakukan kesepakatan tanpa Korut menutup Yongbyon dan program peluncuran misil dan hulu ledak.

Baca Juga :

Akan tetapi, Trump menjanjikan proses perdamaian di Semenanjung Korea akan terus diupayakan. Dia menyatakan tetap berharap Kim Jong Un menepati janjinya untuk tidak melakukan uji nuklir. ”Kita lihat jika itu bisa terjadi, itu bisa terjadi,” kata Trump.

Meskipun belum ada rencana untuk pertemuan ketiga, Trump tidak mengatakan bahwa kesepakatan sudah selesai, terverifikasi, dan paten mengenai denuklirisasi sebelum Korea Utara dibebaskan dari sanksi-sanksi internasional.

Trump dan petinggi AS lainnya menyatakan bahwa denuklirisasi adalah pra-syarat bagi Korea Utara untuk bebas dari sanksi internasional. ”Saya bisa saja menandatangani kesepakatan hari ini (kemarin, Red). Tapi lebih baik untuk melakukan itu dengan benar daripada tergesa,” ujar Trump.

Pertemuan makan siang yang rencananya akan dilaksanakan setelah pertemuan keduanya ikut batal. Kim dan Trump kembali ke hotel masing-masing. Konferensi pers yang dijadwalkan pada 16.00 waktu setempat dipercepat menjadi pukul 2 siang. Konferensi pers berlangsung selama 40 menit.

Dalam konferensi pers, selama pertemuan dengan Kim, suami Melania Trump itu mengaku berbincang banyak hal. Salah satunya soal hak asasi manusia. ”Kami mendiskusikan segalanya,” ucap Trump. “Kami sedang melakukan diskusi yang sangat-sangat produktif,” tambahnya.

Ketika ditanyakan soal prospek pembukaan kedutaan AS di Pyongyang Kim mengatakan bahwa kemungkinan itu sangat terbuka. Trump juga mengatakan sentimen serupa. ”Saya rasa itu adalah ide yang bagus,” ujar Presiden AS dari Partai Republik itu.

Setelah konferensi pers, Trump pun menggelar pidato kenegaraan di Hanoi. Dia berbicara tentang berita hukum internasional dan memuji perkembangan ekonomi Vietnam juga berterimakasih atas sambutan hangat negara tersebut.

Terkait dengan KTT, Trump mengatakan bahwa dirinya dan Kim menghabiskan waktu yang sangat produktif. Trump mendeskripsikan Kim sebagai seorang pria pendiam yang memiliki karakter unik. Ia juga mengatakan bahwa hubungan mereka sangat kuat.

Ia mengatakan bahwa ia menantikan pembicaraan di masa depan dengan Korea Utara dan bahwa negara itu memiliki potensi luar biasa. Trump pun mengatakan, karena telah memiliki hubungan baik dengan dirinya, Kim pun berjanji tidak akan melakukan uji coba nuklir atau roket dalam waktu dekat.

Pria kelahiran New York, 72 tahun silam menjelaskan, masih ada harapan untuk perdamaian. Ia berkata bahwa Kim menawarkan untuk membongkar beberapa bagian infrastruktur nuklirnya. Termasuk kompleks nuklir Yongbyon. Namun ia tidak siap menghancurkan bagian lain dalam programnya, termasuk pabrik uraniumnya.

Sekertaris Negara Amerika Serikat, Mike Pompeo mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tidak siap untuk menerima permintaan AS. ”Kami tidak mencapai sesuatu yang masuk akal untuk AS. Saya rasa Kim berharap untuk itu. Kami memintanya untuk melakukan lebih. Namun dia tidak siap untuk melakukannya. Tapi saya tetap optimistis,” ucap Pompeo.

Pompeo mengatakan bahwa negosiasi lebih lanjut membutuhkan waktu. ”Kami rasa, selagi kami melanjutkan pekerjaan kami beberapa pekan ke depan. Kami dapat mencapai kemajuan sehingga kami dapat mencapai apa yang dunia inginkan yaitu denuklirisasi Korea Utara dan mengurangi risiko untuk orang-orang Amerika dan orang-orang di seluruh dunia,” ungkapnya.

Ditunggu Negara Lain

Analis di seluruh dunia juga bereaksi terhadap akhir tanpa kesepakatan antara Paman Sam dan Korut. ”Tidak heran negosiasi ini gagal setelah Trump menghabiskan lebih banyak waktu di kantor meledakkan perjanjian nuklir daripada membangunnya,” kata Akira Kawasaki dari Komite Internasional Pengahapusan Senjata Nuklir. ”Kami membutuhkan rencana nyata yang mengakar dalam komunitas internasional dan perjanjian tentang larangan senjata nuklir yang dapat diikuti Korea. Dan memulai proses pelucutan senjata dengan legitimasi,” tambahnya.

Penulis ”On the Brink: Trump, Kim, dan Threat of Nuclear War”, Van Jackson, menjelaskan, AS seharusnya menunggu untuk mengadakan KTT sampai kemajuan telah dibuat pada tingkat Biegun. Merujuk pada negosiator AS di Semenanjung Korea, Steve Biegun.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan telah merilis pernyataan yang mengungkapkan kekecewaan pada KTT Hanoi yang gagal. ”Kami benar-benar menyesal bahwa Presiden Trump dan Ketua Kim Jong Un tidak dapat mencapai kesepakatan penuh pada pertemuan puncak hari ini (kemarin, Red),” kata seorang juru bicara. ”Tapi nampaknya mereka telah membuat kemajuan yang lebih berarti daripada kapan pun di masa lalu,” tambahnya.

Terkait hal ini Presiden Trump mengatakan akan segera berbicara dengan pemimpin Korea Selatan. Juga mengatakan bahwa pihaknya akan menghubungi Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe.

Sebelum KTT Trump-Kim, PM Jepang Shinzo Abe menyuarakan harapan bahwa kedua pemimpin negara akan mengakhiri perang dingin yang turut melibatkan negaranya. Sebab, Korut dalam beberapa dekade terakhir diduga melakukan penculikan terhadap warga dan militer Jepang.

Shinzo Abe yakin Presiden Trump akan mengemukakan penculikan di Jepang serta membuat kemajuan pada program rudal dan nuklir Korea Utara. ”Saya yakin Presiden Trump akan menyampaikan pandangan saya tentang penyelesaian masalah nuklir dan penculikan pada Kim Jong Un,” kata Abe.

Trump mengatakan kepada Abe pekan lalu bahwa ia akan mendukung upaya untuk memulangkan 12 warga Jepang yang dikatakan diculik pada medio 1970-1980. Lima orang yang diculik kembali ke Jepang pada 2002 setelah pertemuan puncak di Pyongyang antara pemimpin Korea Utara saat itu, Kim Jong-il, dan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi. Korea Utara telah mengatakan bahwa delapan dari korban yang tersisa meninggal dan empat lainnya tidak pernah memasuki negara itu.

Tiongkok yang ikut menunggu hasil dari pertemuan Trump-Kim sejak awal sudah yakin bahwa tidak akan ada kata sepakat di Hanoi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lu Kang menerangkan bahwa persoalan di Semenanjung Korea tidak dapat selesai dalam semalam. ”Semua orang telah belajar dari pengalaman setengah abad terakhir bahwa resolusi masalah Semenanjung Korea tidak dapat dicapai dalam semalam,” ucap Lu, kemarin.

Namun, Tiongkok tetap berharap, baik Korut maupun AS akan menyelesaikan masalah dengan dialog.  ”Dengan sungguh-sungguh menghormati keprihatinan masing-masing yang sah. Dan terus menunjukkan ketulusan satu sama lain,” tambah Lu.

Sejak KTT pertama di Singapura pada Juni 2018, Trump dan pemerintahannya mengklaim bahwa mereka berada di ambang terobosan bersejarah dalam membujuk Korea Utara untuk melucuti senjata.

Namun pernyataan Trump mewakili sebuah kalibrasi ulang dari harapan tentang substansi dan kecepatan. ”Tidak terburu-buru. Jangan terburu-buru,” dia bersikeras. “Kami hanya ingin melakukan kesepakatan dengan baik. Ketua Kim dan saya sendiri, kami ingin melakukan transaksi yang benar. Kecepatan tidak penting. Yang penting adalah kita melakukan transaksi yang benar. Terima kasih banyak,” tutupnya.

Trump bersikeras bahwa dia dan Kim meninggalkan meja perundingan dengan semangat persahabatan dan bahwa sementara tidak ada KTT yang direncanakan di masa depan. Negosiasi akan berlanjut antara AS dan Korea Utara dan dia berharap dia dan Kim akan bertemu lagi. ”Mungkin sebentar lagi. Mungkin tidak untuk waktu yang lama,” harap Trump. (fay)

Komentar telah ditutup.