Headline

Ancaman Nuklir Masih Menghantui

Redaktur: Juni Armanto
Ancaman Nuklir Masih Menghantui - Headline

MILITER - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kanan) dan Presiden Vietnam Nguyen Phu Trong (kiri) menghadiri upacara penyambutan di Istana Presiden, Hanoi, Vietnam, Jumat (1/3/2019). Foto : Luong Thai Linh/AFP

INDOPOS.CO.ID - Kegagalan kesepakatan denuklirisasi antara Korea Utara dengan Amerika Serikat juga menjadi perhatian dunia politik tanah air.

DPR RI sangat menyayangkan pertemuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan petinggi Korea Utara, Kim Jong Un berakhir sia-sia. Pasalnya, ancaman nuklir juga berimbas kepada Indonesia.

Anggota Komisi I DPR RI, Syaifullah Tamliha mengatakan, awalnya dirinya mengapresiasi positif pertemuan antara Kim Jong Un dan Donald Trump soal denuklirisasi di semanjung Korea. Ini menjadi salah satu langkah perdamaian. ”Ternyata pertemuan di Vietnam itu gagal total. Semua kesepakatan tidak terjadi. Kita sangat menyayangkan hal itu,” ujarnya kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat (1/3/2019).

Dengan kegagalan itu, sambung politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu, berarti ancaman nuklir global masih menghantui dunia termasuk Indonesia. ”Bukan hanya dunia yang masih merasa terancam bahaya nuklir global, Indonesia juga was-was," kata Tamliha.

Kendati demikian, sambung Tamliha, dari pengakuan Donald Trump yang dia baca dari beberapa media internasional, ada harapan terjadi pertemuan kembali antara keduanya. ”Walaupun tidak dikatakan kapan tepatnya, diharapkan pertemuan selanjutnya mencapai kata kesepakatan dan bahaya nuklir global tidak lagi menjadi ancaman,” imbuhnya.

Diamini Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari. Menurutnya, masih adanya senjata pemusnah di kawasan Korea ini, maka sangat berpengaruh terhadap keamanan kawasan, khususnya kawasan Asia dan sekitarnya dan dapat mengancam perdamaian seluruh dunia.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu berpendapat, Indonesia mempunyai peran yang strategis untuk ikut meredakan situasi. Agar wilayah di Asia menjadi zona damai melalui upaya-upaya diplomatik. Padahal, berbagai resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya resolusi 2270 (2016), 2321 (2016), 2356 (2017), dan 2371 (2017), telah dikeluarkan dan tidak ada satupun yang dipatuhi oleh Korea Utara. ”Pemerintah bisa melakukan berbagai tekanan, misalkan memanggil Dubes Korea Utara dan Amerika Serikat di Jakarta untuk meminta penjelasan dan menyampaikan kekecewaan dengan gagalnya pertemuan di Hanoi, Vietnam itu sebab kita tidak ingin ada permusuhan, ketegangan dan kita ingin kedamaian di kawasan,” paparnya saat dihubungi, kemarin. (aen)

Berita Terkait

Internasional / Trump Ancam Iran akan Sangat Menderita

Internasional / Korea Utara Kembali Luncurkan Rudal Jarak Jauh

Internasional / Iran Tuding Politisasi Minyak oleh AS Kesalahan Fatal


Baca Juga !.