Bola Lokal

Ketum PSSI Harus Bebas Ambisi Politik

Redaktur: Ali Rahman
Ketum PSSI Harus Bebas Ambisi Politik - Bola Lokal

INDOPOS.CO.ID - Figur calon ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sekarang ini sedang dinantikan para pencinta sepak bola. Banyak kriteria yang mesti dipenuhi agar dia bisa mengemban tugas dengan profesional.

Sampai saat ini banyak nama-nama calon ketua umum PSSI yang digadang-gadang menggantikan Edy Rahmayadi. Mulai dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ryf Amin Erick Tohir; Akademisi Hendri Satrio, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, hingga Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Entah siapa yang bakal menjabat ketua umum PSSI dan sesuai kriteria. Karena mereka ini jadi kandidat yang diklaim mampu memegang pertahanan sepak bola Indonesia.

Peneliti Hukum Olahraga, Eko Noer Kristiyanto mengatakan, masalah kriteria yang penting track record-nya bersih, baik di sepak bola atau anggaplah di catatan kriminal nasional itu bebas. Selain itu masalah integritas dan sang calon tidak menjadikan jabatan ketua umumnya sebagai pendukung ambisi politiknya.

"Seperti Edy Rahmayadi ini 'kan terbuktilah. Dia itu mantan ketua umum PSSI, tapi ternyata dijadikan modal buat mencalonkan diri di Sumatera Utara. Karena kalau tujuannnya dia di PSSI ya sudah, ngapain dia nyalonin jadi gurbernur, jadi tujuan besarnya ternyata dia adalah kepala daerah," ujarnya, di Jakarta, Sabtu (2/3/2019).

Nah, dari nama-nama kandidat tersebut, mereka sangat dekat dengan Presiden RI Joko Widodo. Sebenarnya apa peran sang kepala negara dalam organisasi PSSI?

Eko menegaskan, PSSI sebenarnya hanyalah komunitas yang tidak dikendalikan langsung negara. Sosok wasitlah yang berperan di sini. Presiden sebenarnya tidak boleh ikut campur urusan organisasi sepak bola.

"Kalau dikatakan sepak bola di bawah kendali negara itu keliru. Negara itu hanya memfasilitasi saja, karena penguasanya atau kedaulatannya itu di komunitas. Jadi bukan dibentuk negara atau pemerintah. PSSI ini membawahi kehormatan, identitas, jadi bukan diperintah negara," terangnya.

Di lain hal, di saat kekosongan kursi jabatan ketua umum PSSI, malahan Timnas U-22 Indonesia baru saja menjadi juara Piala AFF melawan Vietnam. Nah, seberapa penting sosok adanya ketua dalam organisasi PSSI?

Peran ketua umum, menurut Eko, sangatlah dibutuhkan. Namanya organisasi pasti membutuhkan figur ketua, karena secara teknis bisa membawahi jajarannya. "Jadi keliru kalau ketua enggak ada, kita malah juara. Para pemain ini 'kan jago di lapangan karena hasil pembinaan juga," pungkas Eko.

Sementara itu, Dedy Gumelar atau Miing "Bagito" yang juga mantan anggota Komisi X DPR RI mengatakan, figur ketua umum PSSI sebaiknya tidak rangkap jabatan. Dia harus fokus mengurus sepak bola saja.

"Ketua umum ini juga menguasai manajemen leadership yang baik dan tidak ada irisan dengan kekuasaan politik manapun," tutur Miing, yang dihubungi terpisah.

Bahkan, Miing menolak keras jika figur calon ketua umum PSSI ini datang dari kalangan politisi atau yang pernah jadi pejabat. Seharusnya paradigma masyarakat Indonesia terkait pergantian ketua tersebut diubah.

Mestinya, tambah Miing, bakal calon ketua umum tersebut datangnya dari kalangan profesional independent. Bisa dari mantan atlet yang menguasai leadership, pengamat, atau malah wartawan senior olahraga yang mumpuni.

"Nantinya orang yang mau jadi pengurus harus jujur. Niatnya apa dulu. Karena kisruh PSSI bukan sekarang saja, tapi dari dulu seperti ini," pungkasnya. (mdo)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.