Akses Modal untuk Pelaku Ekraf Dipermudah

INDOPOS.CO.ID – Ekonomi kreatif (ekraf) terus berkembang. Munculnya startup-startup baru di sektor ini mendorong pemerintah untuk mempermudah akses permodalan.

Pertumbuhan di sektor ekraf tidak main-main. Saat ini pertumbuhannya mencapai 5,76 persen.

Baca Juga :

DKV Tumbuh Paling Besar di Ekraf

Angka itu berada di atas pertumbuhan sektor listrik, gas dan air bersih, pertambangan dan penggalian, pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, jasa-jasa,  dan industri pengolahan. Di bidang IT, hingga 2020, potensi industri aplikasi, game, hingga Internet of Things (IoT) di Tanah Air misalnya, diproyeksikan bisa mencapai USD 130 miliar atau setara Rp 1.734 triliun.

“Besarnya potensi ini tentu harus dimanfaatkan oleh para pelaku ekonomi digital. Agar Indonesia bisamenjadi tuan rumah di negeri sendiri,” jelas Deputi Akses Permodalan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Fadjar Hutomo di Jakarta, pekan lalu.

Di tengah era industri 4.0 saat ini, lahirnya startup di bidang IT bakal sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi global. Maka itu, untuk terus mendorong lahirnya unicorn-unicorn di bidang digital, pihaknya memastikan akan mempermudah akses permodalan untuk pengembangan konten-konten kreatif.

“Kami akan memberikan akses yang mempertemukan para pelaku usaha ekonomi kreatif tersebut dengan sektor perbankan. Sebab, berdasarkan survei yang pernah dilakukan oleh Bekraf, mayoritas para pelaku UMKM sektor ekonomi kreatif dalam menjalankan usahanya masing menggunakan modal sendiri,” sebutnya.

Sementara, lanjut dia, sebanyak 22-25 persen menggunakan modal dari perbankan. Dan ironisnya, baru satu persen yang mendapat modal dari dana ventura. 

”Kami mendorong untuk pelaku usaha supaya lebih baik dalam mengelola keuangan. Kehadiran perbankan diharapkan bisa menghasilkan kerja sama dengan pelaku usaha,” harapnya.

Selain akses permodalan, pihaknya juga memberi kesempatan kepada pelaku ekraf untuk mencari nama di ajang internasional. Pihaknya mengirimkan pelaku industri kreatif ke Festival South by Southwest (SXSW) 2019 di Austin, Texas, Amerika Serikat yang berlangsung 10 hingga 17 Maret 2019 dan Game Connection America (GCA) 2019 yang dihelat di San Francisco, 18-22 Maret 2019. 

Para startup digital itu tergabung dalam delegasi Archipelageek 2019. Disana mereka berkesempatan mengenal pasar Amerika dan dunia, sekaligus diharapkan membuka peluang pasar global.

Deputi Akses Jaringan dan Permodalan Asosiasi Game Indonesia (AGI) Cipto Adiguno menjelaskan, GCA menjadi ajang bagi lebih dari 2.700 pengembang, penerbit, distributor, serta penyedia jasa berkumpul untuk mendapatkan rekan bisnis baru. Hal ini menjadi sarana pengembangan bisnis paling efektif bagi industri game. 


”Hal tersebut menunjukkan semakin berkembangnya industri ini. Produk kreatif anak bangsa yang beragam kami harapkan mampu merepresentasikan kualitas industri game Indonesia di ajang bergengsi ini,” tambahnya, pekan lalu.


Sementara itu, Head of Committee Archipelageek Andi Sadha menyebut, para pelaku industri yang berpartisipasi tahun ini telah melalui proses kurasi dari para ahli. ”Yang akan mewakili berjualan di SXSW sudah melalui proses kurasi dari para ahli. Ada tujuh startup yang ikut serta (tahun ini). Ini kali ketiga kami akan ke SXSW, festival konvergensi terbesar di dunia,” bebernya.


Mereka yakni, MTarget.co adalah marketing automation software dan 100 persen karya Indonesia. Sebagai satu-satunya marketing automation software berstandar global di Indonesia, MTarget.co memiliki fitur membuat website tanpa coding dan melakukan kegiatan email marketing serta manajemen media sosial. 


Hadir sejak Februari 2017, perusahan perintis ini telah memiliki 1.500 users dengan demografi beragam. Mulai dari Indonesia, Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Eropa. 


Mimpi terbesar MTarget.co adalah memasuki pasar global dan membantu para UKM di seluruh dunia agar dapat Iebih maju dan berkembang. Lalu, ada Dicoding.


Sebuah platform yang menjembatani para developer tanah air dengan peluang pasar global melalui tiga pilar, yaitu Academy, Challenge, dan Event. Dicoding mengapresiasi setiap langkah keberhasilan dalam perjalanan seorang developer melalui penghargaan berupa Dicoding Points. 


Points dapat ditukar dengan berbagai Rewards di platform Dicoding. Hal ini tentunya memberi kesempatan bagi 117 ribu member di seluruh Indonesia untuk terus belajar, dan akhirnya dapat membuat karya lebih baik. 


Berkolaborasi dengan para mitra perusahaan IT dunia, Dicoding menawarkan kurikulum terdepan dalam bidang pemrograman IT, mulai dari materi Android Pemula, pengembangan game, Artificial Intelligence, hingga Blokchain. Pengembangan kurikulum ini memastikan Dicoding Academy mencetak lulusan developer unggul dengan karya digital berorientasi global. 


Ada pula Nodeflux, platform Analisis Video Cerdas pertama milik Indonesia. Salah satu solusi Nodeflux adalah teknologi pengenalan wajah (face recognition) yang dipasang di perangkat CCTV, yang terhubung dengan database pencarian sesuai fungsi. 


Misalnya, data kependudukan atau data catatan kriminal. Saat ini Nodeflux terus mengembangkan berbagai produk sebagai solusi isu-isu populis yang masih menanti untuk dipecahkan. Seperti pengelolaan sampah, pendataan kendaraan, keamanan, manajemen lalu lintas, hingga Iayanan kota pintar terpadu (smart city). 


Bekraf juga memboyong Hello Dangdut. Sebuah program yang didukung oleh Bekraf untuk memperkenalkan Dangdut (genre musik d3″ budaya), menanamkan citra dangdut ke target pasar, serta membangun kesadaran di target pasar untuk mencari tahu lebih dalam “Apa itu Dangdut”. (dew)


loading...

Komentar telah ditutup.