Headline

Marak Peredaran Narkoba di Lapas, BNN Desak Reposisi Dirjenpas

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Marak Peredaran Narkoba di Lapas, BNN Desak Reposisi Dirjenpas - Headline

HARAM - Caption : BNNP DKI menggelar barang bukti narkoba dari lapas, Senin (4/3/2019). Foto : Iqbal/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pengungkapan kasus pengiriman paket 37.799 butir ekstasi ternyata melibatkan seorang bandar yang menghuni sebuah lembaga pemasyarakatan (lapas) di Jakarta, Senin (4/3/2019).

Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Irjen Pol Arman Depari menduga petugas Lapas kurang perhatian dan kontrol, sehingga narapidana bebas melakukan apa saja dari dalam penjara. "Sangat sering (komunikasi). Tapi, kalau komunikasi saja tanpa aksi, tanpa keinginan untuk lebih baik, ya percuma," tegas Arman di Kantor BNNP DKI Jakarta di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (4/3/2019).

Arman menerangkan, jika BNN sudah melakukan semua upaya untuk mencegah praktik kriminal dari dalam penjara kembali terulang, termasuk inspeksi mendadak (sidak). Atas semua permasalahan itu, sambung Arman, pihaknya meminta menteri Hukum dan HAM untuk mereposisi dirjenpas.

"Apalagi kami sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan dirjenpas, namun tetap saja kami masih menemukan napi yang mengendalikan penyelundupan narkotika," tegasnya. Dengan melakukan reposisi, sambung Arman, pastinya peredaran narkotika yang akan masuk ke Indonesia bisa berkurang.

Arman berharap petugas-petugas Lapas dapat memperbaiki integritasnya. "Seharusnya, kita masing-masing harus perbaiki. Kalau tidak bisa diperbaiki, ya dikoreksi. Koreksi juga tidak bisa, evaluasi. Itu juga tidak bisa, reposisi," kata dia.

"Ini tentang semua masyarakat Indonesia, bukan perorangan. Jadi kami punya kepentingan. Kalau tidak ngapain kita bermalam-malam, berminggu-minggu ditungguin. Ya, supaya ini jangan masuk ke tengah-tengah masyarakat," katanya.

Sebelumnya diberitakan seorang pengedar ditangkap. "Iya, PHS pengedar dan saat ditangkap berniat mengedarkan," kata Kapolsek Tanah Abang, Jakarta Pusat, AKBP Lukman Cahyono. PHS ditangkap pada Selasa (19/2/2019) lalu di Jakarta. Dari tangan tersangka, polisi menyita narkotika jenis sabu seberat 101.07 gram yang diduga akan diedarkan oleh tersangka.

"Sabu itu dimasukkan ke dalam bungkus makanan ringan," terang Lukman. Setelah tersangka di interogasi, ternyata tersangka masih memiliki sabu di rumahnya. Akhirnya polisi menggeledah rumah PHS di wilayah Jakarta Barat dan berhasil mengamankan beberapa barang bukti.

"Ditemukan barang bukti satu bungkus snack berisi satu plastik klip besar yang berisi dua paket plastik klip sedang serbuk kristal warna putih bening diduga sabu seberat bruto 100.89 gram dan 100.86 gram," ungkap Lukman.

Total semua barang bukti yang berhasil disita polisi ialah sabu seberat 503.89 gram, dua buah timbangan digital dan handpohone pelaku. Kepada polisi, tersangka mengaku mendapatkan narkotika itu dari salah seorang napi yang masih mendekam di Lapas di Jakarta.

"Dari hasil pendalaman, tersangka mendapat arahan dari salah satu napi yang ada di Lapas Salemba. Barang bukti yang diambil di salah satu hotel yang ada di Pasar Baru," tegas Lukman. (ibl)

Berita Terkait

Megapolitan / BNN Sita 200 Kg Sabu

Megapolitan / Ombudsman Soroti Dugaan Jual Beli Remisi

Megapolitan / Ringkus Pengguna Narkoba di Rumah Kontrakan

Megapolitan / Modus Family Gathering, Pesta Narkoba Digerebek

Nasional / Butuh Pemimpin Tegas Atasi Persoalan Lapas

Megapolitan / Jaringan Narkotika Abu Ditangkap 


Baca Juga !.