Megapolitan

Hujan Tiba, Banjir Lagi

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Hujan Tiba, Banjir Lagi - Megapolitan

TERGENANG - Pengendara menerobos genangan air setinggi 30cm di Jalan Panjang, Kawasan Green Garden, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa (5/3/2019). Foto: Ismail Pohan/INDOPOS 

INDOPOS.CO.ID - Hujan deras yang mengguyur Jakarta belakangan ini, menyebabkan sejumlah kawasan banjir dan tergenang. Di antaranya di kawasan ITC Mangga Dua, Selasa (5/3/2019). "Kita terganggu dengan adanya banjir ini dan ini mau menyeberang jalan jadi males. Sepatu takut basah," ujar Fahriati, 65, ibu rumah tangga (IRT) ditemui di lokasi.

Perempuan paruh baya itu menambahkan, kondisi itu jelas mengganggu. Apalagi dirinya sudah tua. "Saya apalagi sudah nenek-nenek ini. Pasti takut gatal-gatal dan alergi. Kan ini air kotor," keluhnya. "Dari rumah Sunter, nggak tahu kalau banjir begini. Semalem hujan lebat memang," imbuhnya.

Dari pantauan INDOPOS di areal parkiran ITC Mangga Dua dan ruko-ruko di sekitarnya hingga traffic light Mangga Besar, kemarin, banjir masih menggenang. "Jadi ada dua pompa di depan traffic light Mangga Besar rusak. Sehingga ITC Mangga Dua banjir. Dari semalam. Ruko pada tutup dan karyawan pada pulang dan hanya Bank BCA masih buka melayani pengunjung," ujar Jaka, maintenence ITC Mangga Dua.

Jaka menuturkan, air mulai masuk pada Selasa (5/3/2019), sekitar jam 02.00 WIB. "Air masuk juga ke gedung Indosurya dan ruko-ruko," ujarnya.

Terakhir banjir, seingat dia, pada 2017. Tapi dia mengaku tak separah kali ini. "Kita sudah cek juga, kata petugas di sana rusak pompanya," ungkapnya.

Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) yang juga Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Setda DKI Jakarta Yusmada Faizal menuturkan bahwa pompa saat ini sedang dalam perbaikan. "Saat ini menggunakan 3 unit pompa mobile," ujar Yusmada.

Selain Mangga Dua, dari informasi yang dihimpun INDOPOS, terdapat sejumlah titik banjir lainnya. Di antaranya, Green Garden, Pluit, Kedoya, Marunda, Greenville, Penjaringan, Pluit, Mangga Dua, Kampung Melayu, Kedoya, Grogol, Tanjung Duren, Kamal Muara, Kapuk, Cengkareng, Pesing, dan Kelapa Gading. Hanya Yusmada tak banyak memberikan penjelasan untuk penanganan banjir di Jakarta. “Saya masih rapat,” singkatnya.

Sedangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menyebutkan, jumlah titik yang tergenang banjir sudah berkurang. Dia menilai, sensasi di media sosial yang memperlihatkan kondisi banjir tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

"Teman-teman lihat saja. Saya berharap teman-teman yang nulis melihat jumlah RT-nya berapa, durasinya berapa. Sensasinya di media sosial enggak sebanding dengan kondisinya," kata Anies di Balai Kota, Jakarta, Selasa, (5/3/2019).

Namun, Anies tak mau berkomentar terlalu jauh soal banjir tersebut. Dia tidak merinci bagaimana kondisi sebenarnya banjir yang melanda Jakarta. Sejak Senin malam, hujan deras mengguyur Jakarta. Hingga Selasa pagi sekitar pukul 07.00 WIB hujan masih berlanjut.

Terpisah, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, Pemprov DKI perlu mengubah program untuk menangani banjir di Jakarta. Nirwono Joga mengatakan banjir di Jakarta dapat teratasi dengan penambahan ruang terbuka hijau (RTH) yang cukup.

"Prinsip pemerintah kita pada waktu musim hujan, seperti hujan seperti sekarang supaya dia tidak banjir. Prinsip yang dilakukan itu adalah membuang air hujan secepat-cepatnya ke laut. Itu prinsip dasar yang salah. Musim hujan itu harus dilihat sebabnya. Untuk menampung air sebanyak-banyaknya agar bisa diserap sebesar-besarnya ke dalam tanah. Karena itulah yang harus dibangun tadi, waduk, situ, empang, supaya air hujan sekarang ditampung sebelum dibuang ke saluran air atau ke sungai," kata Nirwono.

Nirwono mengatakan, ruang terbuka hijau di Jakarta masih mencapai total 9,98 persen dari yang seharusnya 30 persen. Dia mengatakan, benyak permukiman yang dibangun di atas jalur hijau menambah sulit proses penghijauan Jakarta.

"Kita perlu memperbanyak daerah resapan air berupa ruang terbuka hijau. Nah kalau kondisi sekarang hanya 9,98 persen. Padahal idealnya kita 30 persen dari total luas wilayah DKI. Dan justru banyak permukiman-permukiman justru tumbuh atau dibangun di atas daerah ruang terbuka hijau," jelasnya.

Untuk mengembalikan ruang terbuka hijau, Nirwono meminta Pemprov DKI terus melakukan penertiban di permukiman warga yang berada di jalur hijau. Dia juga mengusulkan Pemprov DKI fokus membangun rusunawa sebagai lokasi untuk warga yang dipindahkan.

"Kalau itu dilakukan naturalisasi sungai tadi, mau tidak mau relokasi warga di bantaran kali. Pada 2012-2017 semestinya, ada empat sungai yang ditargetkan selesai yaitu Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, dan Sunter. Dan sampai dengan 2017 kemarin rata-rata pembangunannya itu belum mencapai 50 persen. Jadi banyak PR yang harus dilakukan, karena kendala utama adalah pembebasan lahan tadi," jelasnya.

Nirwono juga memberikan solusi paling realistis bagi Pemprov DKI dalam menghadapi banjir dalam waktu dekat. Di antaranya adalah mempersiapkan pompa-pompa untuk membuang air, menyiapkan tempat evakuasi warga, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat jelang terjadinya banjir musiman tersebut. "Ini paling realistis, tapi ini tidak menyelesaikan persoalan," tandasnya. (ibl/wok)

TAGS

Berita Terkait

Banten Raya / Banyak Turap Rusak, Banjir Jadi Ancaman Serius

Megapolitan / Banjir Menyapa saat Sahur Perdana


Baca Juga !.