Kesra

Perkawinan Usia Anak Hambat Capaian IPM

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Perkawinan Usia Anak Hambat Capaian IPM - Kesra

PENYADARAN- Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA Lenny N Rosalin, di Jakarta, Jumat (8/3/2019). Foto: Syamsiah/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA Lenny N Rosalin mengatakan bahwa perkawinan anak merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) juga dapat menghambat capaian indeks pembangunan manusia (IPM).

"Perkawinan anak tidak hanya berpengaruh pada capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG's tetapi juga berpengaruh untuk mewujudkan sasaran Indonesia Layak Anak 2030, yang merupakan target pembangunan," tutur Lenny di Jakarta, Jumat (8/3/2019).

Lenny mengatakan perkawinan anak dapat menghambat wajib belajar 12 tahun, menyebabkan gizi buruk pada anak yang dilahirkan dari seorang anak yang rahim masih rentan, serta memunculkan pekerja anak, dan upah rendah.

Akibat perkawinan anak kata Lenny, pertumbuhan pola pikir dan kemampuan pengetahuan anak menjadi tidak sempurna. "Itu berarti perkawinan anak sangat besar berpeluang melanggar hak-hak anak, yaitu hak atas pendidikan dan hak atas kesehatan, serta ikut menyumbang angka kematian ibu," tegas Lenny.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan prevalensi perkawinan anak menunjukkan satu dari empat atau 23 persen perempuan menikah pada usia anak. Sekitar 340 ribu anak perempuan di bawah usia 18 tahun menikah setiap tahun. Pada 2017, persentase perkawinan anak sudah mencapai 25,17 persen. "Bila dilihat sebaran wilayah, terdapat 23 provinsi  yang memiliki angka perkawinan anak di atas angka nasional," tutupnya. (yah)

Berita Terkait

Nasional / Perlindungan Sosial Bagi Lansia Jadi Perhatian Serius

Nasional / Miris! 5,6 Juta Anak Terpapar Masalah


Baca Juga !.