Jakarta Raya

Air Meluap dari Saluran

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Air Meluap dari Saluran - Jakarta Raya

BUTUH PENANGANAN-ITC Mangga Dua, Jakarta Utara, dan jalan raya di depan pusat perbelanjaan itu,  mengalami banjir, beberapa hari lalu. Foto : Joesvicar Iqbal/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Banjir masih menjadi persoalan di Jakarta. Setidaknya terlihat beberapa hari lalu. Sejumlah wilayah banjir dan tergenang. Lihat saja di kawasan ITC Mangga Dua, Selasa (5/3). Dari pantauan INDOPOS, pada hari itu, areal parkir ITC Mangga Dua dan ruko-ruko di sekitarnya hingga traffic light Mangga Besar, banjir masih menggenang.

"Jadi ada dua pompa di depan traffic light Mangga Besar rusak. Sehingga ITC Mangga Dua banjir," ujar Jaka, maintenence ITC Mangga Dua. Jaka menuturkan, air mulai masuk pada Selasa (5/3), sekitar jam 02.00 WIB. Terakhir banjir, seingat dia, pada 2017. Tapi dia mengaku tak separah kali ini. Sejak Senin (4/3) malam, hujan deras mengguyur Jakarta. Hingga Selasa pagi sekitar pukul 07.00 WIB hujan masih berlanjut. 

Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Yusmada Faizal menuturkan bahwa pompa sedang dalam perbaikan. "Saat ini menggunakan 3 unit pompa mobile," ujar Yusmada dikonfirmasi saat itu.

Selain Mangga Dua, dari informasi yang dihimpun INDOPOS, terdapat sejumlah titik banjir lainnya ketika itu. Di antaranya, Pluit, Kedoya, Marunda, Greenville, Penjaringan, dan Green Garden. " Kita berharap tidak lagi ada genangan seperti ini. Harus ada penyelesaian dari petugas terkait ya," ujar Danar, 36, karyawan swasta, beberapa hri lalu. 

Danar mengaku aneh dengan genangan Green Garden. Sebab banjir di kawasan ini terakhir kali terjadi pada 2014. Kala itu sejumlah warga sempat meninggalkan rumah karena genangan masuk ke dalam. "Banjirnya sampai 3 harian," tambahnya mengenang 2014.

Kasudin Tata Air Jakarta Barat Imron Syahrin menegaskan, banjir di kawasan Green Garden disebabkan debit air yang tinggi dari hulu. Kondisi ini diperburuk dengan Kali Angke. Guna mengantisipasi genangan, pihaknya telah menyiapkan pompa mobile dengan kapasitas 1.000 liter per detik. Pompa itu kemudian di tempatkan di dekat kali untuk membantu penyedotan.

Lurah Ancol Rusmin mengatakan, sejak Rabu (6/3), banjir sudah mulai surut. Namun butuh waktu hingga seluruh kawasan Ruko Textile Mangga Dua kering. "Memang karena daerah ini tekstur tanahnya agak rendah, jadi butuh waktu agak lama untuk menguras airnya hingga kering. Hanya sebenarnya sejak semalam sudah dapat terkendali," kata Rusmin.

Pasca banjir Rusmin saat ini fokus untuk melakukan pembersihan sampah di jalan dan di saluran-saluran air. "Supaya nanti jika hujan deras datang, saluran air tidak mampet, sehingga harapannya banjir bisa cepat teratasi," katanya. Rusmin juga meminta kepada masyarakat dan manajemen ITC Mangga Dua untuk bersama-sama pemerintah mengendalikan sampah.

Menanggapi itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan menyebutkan, jumlah titik yang tergenang banjir sudah berkurang. Dia menilai, sensasi di media sosial yang memperlihatkan kondisi banjir tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.  "Teman-teman lihat saja. Saya berharap teman-teman yang nulis melihat jumlah RT-nya berapa, durasinya berapa. Sensasinya di media sosial enggak sebanding dengan kondisinya," kata Anies di Balai Kota, Jakarta, Selasa, (5/3). Sayang, Anies tak mau berkomentar lebih jauh soal banjir tersebut.

Yusmada mengatakan, pencegahan munculnya genangan atau banjir dilakukan dengan meningkatkan daya serap tanah. Sehingga, semua air hujan tidak semuanya mengalir di saluran air, sungai dan laut."Hujan belakangan ekstrem. Jadi air meluap dari saluran. Dan muncul genangan," ujar Yusmada Faisal kepada INDOPOS, Jumat (8/3).

Ia menjelaskan, air tidak tertampung oleh saluran air. Karena tidak terserap oleh tanah. Untuk itu, dikatakan Yusmada harus ada program lintas sektoral terkait penyerapan tanah. "Bisa saja penyerapan tanah dengan perluasan ruang terbuka hijau (RTH)," katanya.

Dari banjir yang muncul beberapa hari lalu, masih ujar Yusmada, pihaknya akan melakukan evaluasi operasional pompa air. Ia menyebutkan, seluruh pompa air yang tersedia dalam keadaan baik. 

Sementara untuk meningkatkan penanganan banjir, lanjut Yusmada, pihaknya menyiapkan pompa mobile. "Kita siagakan 144 rumah pompa dan lebih dari 450 pompa air," bebernya.

Yusmada menegaskan, untuk mendukung program normalisasi Kali Ciliwung, pihaknya membantu pembebasan lahannya. Sementara untuk program naturalisasi, lanjutnya, menjadi prioritas Pemprov DKI. "Normalisasi kami hanya membantu pembebasan lahannya, untuk naturalisasi menjadi tugas Pemprov DKI. Saat ini menyasar waduk dan embung di wilayah Jakarta," terangnya.

Sebelumnya, beberapa pekan lalu, di Komplek Polri Pondok Karya, dan kawasan Kemang Utara dan Pasar Kambing, Jakarta Selatan, juga banjir.

Terpisah, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, Pemprov DKI perlu mengubah program untuk menangani banjir di Jakarta. Nirwono Joga mengatakan banjir di Jakarta dapat teratasi dengan penambahan ruang terbuka hijau (RTH) yang cukup.

"Prinsip pemerintah kita pada waktu musim hujan, seperti hujan seperti sekarang supaya dia tidak banjir. Prinsip yang dilakukan itu adalah membuang air hujan secepat-cepatnya ke laut. Itu prinsip dasar yang salah. Musim hujan itu harus dilihat sebabnya. Untuk menampung air sebanyak-banyaknya agar bisa diserap sebesar-besarnya ke dalam tanah. Karena itulah yang harus dibangun tadi, waduk, situ, empang, supaya air hujan sekarang ditampung sebelum dibuang ke saluran air atau ke sungai," kata Nirwono.

Nirwono mengatakan, ruang terbuka hijau di Jakarta masih mencapai total 9,98 persen dari yang seharusnya 30 persen. Dia mengatakan, benyak permukiman yang dibangun di atas jalur hijau menambah sulit proses penghijauan Jakarta.

"Kita perlu memperbanyak daerah resapan air berupa ruang terbuka hijau. Nah kalau kondisi sekarang hanya 9,98 persen. Padahal idealnya kita 30 persen dari total luas wilayah DKI. Dan justru banyak permukiman-permukiman justru tumbuh atau dibangun di atas daerah ruang terbuka hijau," jelasnya.

Untuk mengembalikan ruang terbuka hijau, Nirwono meminta Pemprov DKI terus melakukan penertiban di permukiman warga yang berada di jalur hijau. Dia juga mengusulkan Pemprov DKI fokus membangun rusunawa sebagai lokasi untuk warga yang dipindahkan.

"Kalau itu dilakukan naturalisasi sungai tadi, mau tidak mau relokasi warga di bantaran kali. Pada 2012-2017 semestinya, ada empat sungai yang ditargetkan selesai yaitu Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, dan Sunter. Dan sampai dengan 2017 kemarin rata-rata pembangunannya itu belum mencapai 50 persen. Jadi banyak PR yang harus dilakukan, karena kendala utama adalah pembebasan lahan tadi," jelasnya.

Nirwono juga memberikan solusi paling realistis bagi Pemprov DKI dalam menghadapi banjir dalam waktu dekat. Di antaranya adalah mempersiapkan pompa-pompa untuk membuang air, menyiapkan tempat evakuasi warga, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat jelang terjadinya banjir musiman tersebut. "Ini paling realistis, tapi ini tidak menyelesaikan persoalan," tandasnya. (nas/ibl)

Berita Terkait

Nasional / Drainase Buntu, 35 Rumah di Rangkasbitung Terendam Banjir

Daerah / Banjir dan Longsor Ancam Wilayah Utara Indonesia

Daerah / Curah Hujang Tinggi, Waspadai Banjir dan Longsor

Banten Raya / Banyak Turap Rusak, Banjir Jadi Ancaman Serius

Megapolitan / Banjir Menyapa saat Sahur Perdana

Megapolitan / Banjir yang Terdalam, Nyaris Menyamai Kejadian pada 2007


Baca Juga !.