All Sport

IJC Nilai Keputusan Pelatnas Judo Janggal

Redaktur: Maximus thomas woda Wangge
IJC Nilai Keputusan Pelatnas Judo Janggal - All Sport

Legenda hidup judo Indonesia Krisna Bayu saat berbagi ilmu kepada judoka muda usia di Festival judo Indonesia HUT IJC 1 2019 di Karawang Jabar. Foto: IJC for INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Dengan semangat untuk bersama-sama membangun dan meningkatkan prestasi judo Indonesia di tingkat even internasional, Indonesia Judo Community (IJC) menyampaikan kajian seputar pelatnas judo SEA Games 2019 Filipina kepada Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB.PJSI).

Surat resmi IJC terkait kajian seputar pelatnas SEA Games 2019 yang ditandatangani Sekjen IJC Budi Setianto S.Pd itu mempertanyakan beberapa keputusan PB.PJSI yang dinilai janggal dan membingungkan.

Menurut Kepala Divisi Media IJC, Aji Kusmantri kepada wartawan, kemarin setelah Kejurnas Judo Junior dan Senior yang berlangsung 22-24 Pebruari lalu di GOR Kelapa Gading Jakarta Utara itu ada beberapa hal janggal dirasakan oleh sebagian pemerhati dan pencinta olahraga judo di Indonesia.

Apalagi setelah keluarnya surat PB.PJSI Nomor PB/39/SJ-38 Judo/1/2019 tentang pemanggilan dan pemulangan beberapa atlet pelatnas judo yang bermarkas di Padepokan Judo Indonesia , Ciloto, Jabar.

Dalam surat IJC yang ditembuskan kepada Presiden Komisaris IJC, President IJC dan Seluruh Pengprov PJSI itu, lanjut Aji Kusmantri juga menekankan beberapa hal yang harusnya menjadi perhatian di tingkat pengambil keputusan (Ketum, Ketua Harian, Sekjen, Wakil Sekjen, Ketua 1 dan Kabid Binpres)

Ada lima hal penting yang menjadi sorotan sekaligus dikritisi oleh IJC. Pertama, Kejurnas yang biasanya dan umumnya dilaksanakan pada penghujung tahun, namun untuk saat ini digelar pada awal tahun.

 Padahal dalam kalendert-kalender sebelumnya Kartika Cup lah yang dilaksanakan awal tahun.

Kedua, atlet atas nama Budi Prasetyo (-66 kg) yang pada saat kejurnas dianggap gagal tetapi dipertahankan di pelatnas dengan predikat pendamping, di mana di kelas ini runner-up-nya Putu Sukaryasa dari Bali justru tak dipanggil.

Ketiga, atlet potensial di kelas -60 kg Alfiansyah dari DKI dipulangkan. Sebenarnya apabila PB.PJSI tidak memulangkannya, atlet tersebut lebih layak dijadikan sebagai pendamping di kelas 66 kg, mengingat usianya jauh lebih muda dibandingkan Budi Prasetyo.

Pada Kartika 2018 dan Kejurnas Seniot dan Junior 2019, Alfiansyah mampu mengalahkan seniornya yang merupakan juara SEA Games dan PON 2016 Toni Irawan (Jabar)

Keempat, kejanggalan lainnya juga terjadi di kelas -90 kg juara 1 atas nama Rekyanda dari Bali tidak dipanggil sedangkan juara 2 atau runner-upnya atas nama Toni Ricardo (Jatim) dan atlet yang tidak ikut bertanding atas nama Jeremy Pantouw (DKI)  justru dipanggil masuk pelatnas.

Kelima, ini lebih membingungkan lagi karena status Venny Pantouw sebagai Kepala Pelatih Pelatnas Judo SEA Games 2019, padahal yang bersangkutan menjabat Kabid Binpres PB.PJSI. 

 Adanya rangkap jabatan seperti ini apalagi untuk posisi strategis karena terkait prestasi, jelas akan menjadi rumit bila ada kesalahan atau kekeliruan dalam mengambil keputusan.

Kepala pelatih yang juga Kabid Binpres akan mempertanggungjawabkan kepada siapa atau langsung diambil alih oleh Ketua 1, Sekjen, Ketua Harian atau Ketua Umum.

Sementara Itu, terkait pelaksanaan Festival Judo Indonesia FJI yang berlangsung 23-24 Pebruari lalu di Karawang Jabar, IJC menyampaikan terima kasih atas dukungan Taspen, Taspen Life, Mandiri Taspen, BRI, SONICE, Indosat, VKool dan donasi pribadi yang peduli terhadap pembinaan dan pengembangan judo secara nasional. (bam)

 

 

 

Baca Juga


Berita Terkait

All Sport / Deria Nur Haliza Bidik Podium Tertinggi

All Sport / Voli Pantai Ditargetkan Sabet Medali Emas

All Sport / PB Forki Bidik Tiga Emas di Filipina


Baca Juga !.