Megapolitan

Tanggulangi Banjir dengan Program 1.000 Polder

Redaktur: Syaripudin
Tanggulangi Banjir dengan Program 1.000 Polder - Megapolitan

Ilustrasi Foto

INDOPOS.CO.ID - Musim banjir di Kota Bekasi perlahan hilang. Buktinya, banjir tahunan hampir sudah tidak ada. Air yang merendam sebagian warga Kota Bekasi selama musim hujan pada November 2018 lalu, tahun ini nyaris tak menyisakan bekas. Pasalnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi gencar membangun program 1.000 polder.

Saat ini, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi bersama jajaran Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Bekasi telah menanggulangi titik banjir sekitar 50 persen di wilayahnya. Banjir yang awalnya diperkirakan sekitar 40 titik, kini telah berkurang karena keberadaan polder air atau kolam retensi di sejumlah titik rawan banjir.

Kepala Dinas BMSDA Kota Bekasi Arief Maulana mengatakan, pencapaian kerja ini tidak terlepas dari peran kepala dinas sebelumnya, yakni Tri Adhianto Tjahyono yang sekarang menjadi Wakil Wali Kota Bekasi periode 2018-2023. Bersama Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, keduanya menggalakkan program pembangunan 1.000 polder seperti halnya di Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Tengah.

Hingga saat ini, kata dia juga, pemerintah daerah telah membangun 11 polder untuk menanggulangi banjir dan genangan yang melanda permukiman warga. Contohnya, polder Aren Jaya, Danita, Pengasinan, Galaxy, Kali Mati, Rawa Pasung, IKIP, Bendung Koja, Perumahan Pondok Mitra Lestari (PML) dan Villa Indah Permai (VIP) dan Rawabebek.

Saat ini, Pemkot Bekasi tengah mengerjakan pembuatan polder air di Perumahan Fajar, Bekasi Selatan. "Arti program 1.000 polder, bukan berarti jumlahnya 1.000 unit. Tapi jumlah polder yang dibangun sangat banyak sehingga mampu menanggulangi banjir dan genangan air," katanya kepada INDOPOS, Minggu (10/3/3019).

Menurutnya juga, keberadaan polder air sangat efektif dalam menanggulangi banjir. Hal ini mengingat elevasi topografi Kota Bekasi terhadap permukaan air laut yang hanya 2 derajat atau 27 meter. Tidak hanya itu, asal mula wilayah Kota Bekasi adalah hamparan rawa, namun sekarang menjelma jadi permukiman.

Pada musim hujan, polder berfungsi sebagai daerah resapan dan penampungan air sehingga tidak menggenangi atau membanjiri permukiman warga. Bila kapasitas polder telah penuh, akan dilakukan penyedotan melalui pompa atau membuka pintu air. ”Karena itu Kota Bekasi rawan banjir, tapi bukan berarti kita diam. Pemkot tetap berupaya menanggulanginya," ujarnya lagi.

Dia juga menjelaskan, biaya pembangunan polder cukup bervariasi tergantung dari luas lahan dan alat tambahan seperti penyediaan alat pompa. Namun pada umumnya, pembangunan polder menghabiskan sekitar Rp 30 miliar hingga Rp 45 miliar. "Dana bukan hanya digunakan untuk pengerukan saja, tapi pembelian pompa dan pembangunan rumah pompa," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perencanaan pada Dinas BMSDA Kota Bekasi Teresia Rosalina menambahkan, manfaat pembangunan polder tidak hanya dirasakan oleh warga Kota Bekasi, namun daerah lain seperti Kabupaten Bogor. Dia mencontohkan, polder Bendung Koja seluas tiga hektare yang berada di sekitar Kelurahan Jatisari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi ditujukan untuk menanggulangi banjir di bantaran Kali Bekasi.

Polder ini untuk menanggulangi banjir di Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Kemang Ivy, Villa Jatirasa, Pondok Mitra Lestari, Kemang Pratama, hingga ke Kelurahan Telukpucung, Bekasi Timur. Keberadaan polder ini juga dirasakan masyarakat Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunungputeri, Kabupaten Bogor karena wilayahnya masuk daerah perbatasan bebas banjir.

Posisi Bendung Koja yang tepat berada di hulu Kali Bekasi menjadi simpul pertemuan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas, sehingga kerap menimbulkan luapan di titik pertemuan Kali Bekasi apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di bagian hulu.

"Untuk itu, volume air Sungai Cikeas bisa kita tekan dengan adanya Bendung Koja dengan cara 'memarkir' sementara debit air yang timbul akibat hujan di Kabupaten Bogor sebelum pertemuannya dengan Sungai Cileungsi di hulu Kali Bekasi," ujar Rosalina.

Menurut dia juga, penataan infrastruktur lainnya yang dilakukan Kota Bekasi juga dirasakan oleh daerah Kabupaten Bekasi. Melalui penambahan crossing Sasak Jarang di bawah ruas tol Jakarta-Cikampek dan Kalimalang, Bekasi Timur, warga Perumahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi merasakan manfaatnya bebas dari banjir.

Tujuan pemerintah membangun crossing itu untuk mengantisipasi banjir di wilayah Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi terutama di Perumahan Taman Narogong dan Pondok Hijau Permai (PHP) di Rawalumbu. Banjir setinggi 50 sentimeter hingga 1,5 meter itu bukan air kiriman dari Kabupaten Bogor, namun hujan lokal yang terjadi di wilayah setempat.

Namun Perumahan Jatimulya di Kabupaten Bekasi juga ikut merasakan dampaknya karena letak geografisnya berdekatan dengan Kecamatan Rawalumbu. ”Pembangunan crossing Sasak Jarang memang sangat mendesak untuk menanggulangi banjir di wilayah Rawalumbu,” jelasnya.

Rosalina meyakini, banjir yang selama ini melanda warga setempat akan teratasi dengan crossing Sasak Jarang, karena dimensinya sudah disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Selama ini, kapasitas crossing yang tersedia hanya 1,2 meter kubik per detik, namun dengan adanya penambahan ini maka daya tampung bertambah menjadi 4,4 meter kubik per detik.

Dia merinci, crossing memiliki kedalaman hingga 12 meter dengan panjang 48 meter di bawah aliran Kalimalang, dan panjang 59 meter di bawah ruas tol Jakarta-Cikampek. "Crossing ini untuk melancarkan air di daerah aliran sungai (DAS) Sasak Jarang, karena selama ini ada yang tersendat. Pemicunya, debit air tidak sebanding dengan saluran,” cetusnya juga.

Dengan adanya penambahan ini, kata Rosalina, maka debit air di wilayah hulu saluran tersebut, dapat segera dialirkan ke hilir yaitu Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL). Adapun pembangunan crossing menelan dana Rp 30 miliar dengan rincian dari APBD murni Kota Bekasi Rp 20 miliar dan bantuan Provinsi Jawa Barat Rp 10 miliar. (adv)

Berita Terkait

Megapolitan / Bus di Bekasi Bakal Berbasis Online

Megapolitan / Ragam Masalah Akses Mudik, Masih Ada Jalan Rusak

Megapolitan / Timbulkan Kemacetan, Proyek TOD Diprotes


Baca Juga !.