Investasi Bisa Dimulai dari Uang Kembalian

INDOPOS.CO.ID – Data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Mei 2018 mencatat, ada sebanyak 190,5 juta penduduk di Tanah Air berusia 15 tahun ke atas. Namun, hanya 17,8 persen atau sekitar 33,9 juta penduduk yang memiliki setidaknya satu rekening bank.

Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menghimpun jumlah investor reksadana di Indonesia baru mencapai 830 ribu pelaku. Rendahnya jumlah partisipasi pelaku investasi dipengaruhi beberapa faktor. 

Salah satunya sikap skeptis pada investasi dengan anggapan perjudian. Hingga return keuntungan yang didapatkan harus ditunggu dalam jangka waktu panjang.

Namun, tahun ini iklim investasi sedang mengembuskan angin segar sejak beberapa kali rupiah mengalami penguatan. Hal itu diprediksi akan berpengaruh terhadap minat masyarakat berinvestasi di bursa saham. 

Chief Information Officer of Avrist Asset Management Farash Farich menyampaikan, kinerja paling tinggi selama tahun berjalan masih ditempati oleh reksadana saham, yang didukung oleh performa indeks sahamnya yang positif. Pun kinerja IHSG sejauh ini masih lebih unggul dibandingkan LQ45 dan IDX30. 

”Hal itu disebabkan oleh performa saham berkapitalisasi kecil (small caps) yang lebih baik dibandingkan saham berkapitalisasi menengah (mid caps) dan saham berkapitalisasi besar (large caps),” ujarnya di Jakarta, pekan lalu. Untuk berinvestasi, menurut Pengamat Pasar Modal itu, harus menentukan skala prioritas sebelum memilih alternatif investasi. 

Misalnya, kata dia, yang masih berusia di awal 20 tahun, tengah berkarir dan belum berkeluarga, bisa menabung saham dengan jangka waktu panjang yakni lebih dari 10 tahun. “Sedangkan, yang telah berkeluarga dan memiliki prioritas sekolah anak dan kesehatan lebih disarankan untuk berinvestasi lewat pasar uang dengan jangka waktu pendek yang cenderung instan,” saran dia.

Sementara, bagi mereka yang ingin memiliki tabungan masa depan atau sekadar financial freedom (kebebasan finansial) bisa menjajal kendaraan investasi lewat obligasi atau reksadana. Pendapatan tetap dengan jangka waktu menengah yang lebih fleksibel. 

Menepis anggapan bahwa investasi membutuhkan dana yang besar, PT Raiz Invest Indonesia bakal meluncurkan aplikasi yang mengumpulkan selisih dari pembulatan uang belanja penggunanya untuk diinvestasikan melalui reksadana.

Rencananya, aplikasi ini akan diluncurkan pada triwulan III 2019.

Setelah peluncuran, mereka memperkirakan, nilai tranksaksi perhari sebesar Rp 400 juta di akhir tahun 2019. Chief Marketing Officer Raiz Invest Fahmi Arya mengatakan, perkiraan tersebut berasal dari target pengguna aplikasi pada akhir tahun sebanyak 40 ribu. 

Sedangkan dana yang terkumpul per harinya dari satu pengguna, diperkirakan senilai Rp 10 ribu. ”Berarti akan ada 40 ribu transkasi per hari dari user kita, dikali Rp 10 ribu. Itu angka yang mudahnya,” terangnya.

Ada pun, mereka menargetkan dapat menjangkau 400 ribu pengguna pada 2020. Fahmi menjelaskan, cara kerja aplikasi Raiz, dengan mengumpulkan uang pengguna yang diperoleh dari selisih pembelanjaan. 

Saat pengguna mendaftarkan diri, mereka dapat menghubungkan kartu debit atau dompet elektronik mereka di aplikasi. Nantinya, setiap pengguna berbelanja dengan kartu debit atau dompet elektronik tersebut, Raiz akan melakukan pembulatan ke atas pada setiap transaksi ke kelipatan Rp 5.000 terdekat. 

Ketika pembulatan yang terkumpul mencapai Rp 10.000, maka jumlah tersebut akan diinvestasikan secara otomatis ke produk reksadana. Ada pun, portofolio yang dapat dimasukkan oleh pengguna aplikasi tersebut ada tiga jenis sesuai profil risiko. 

Untuk portofolio yang agresif, akan dimasukan pada reksadana saham. Lalu, portofolio moderat akan ditempatkan ke reksadana pendapatan tetap dengan underlying asetnya di obligasi. 

Terakhir, porftofolio konservatif akan ditempatkan di reksadana pasar uang dengan underlaying deposito. Fahmi menjelaskan, pihaknya akan bekerja sama dengan industri perbankan yang memiliki mobile banking agar aplikasi mereka mampu diakses dengan mudah.

Saat ini, mereka tengah melakukan penjajakan dengan bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV dalam negeri. ”Kenapa kami baru masuk ke Indonesia, karena karena aplikasi akan terintegrasi dengan platform mereka,” tandasnya.

Chief Executive Officer Raiz Invest Australia George Lucas menambahkan, pihaknya dalam tahap ekspansi ke negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dia menjelaskan, di Australia, Raiz telah menjadi game changer, khususnya bagi kaum milenial dalam menciptakan kebiasaan berinvestasi. 

”Aplikasi ini juga mendidik masyarakat tentang keuntungan berinvestasi secara teratur dalam jumlah kecil,” tuntasnya. (dew)

Komentar telah ditutup.