Headline

Indonesia Butuh 600.000 SDM Talenta Digital

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Indonesia Butuh 600.000 SDM Talenta Digital - Headline

PROSPEK-Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara (kedua kanan).FOTO:DERI/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur  seperti jalan tol, bandara, pelabuhan laut, dan sebagainya. Namun juga infrastruktur telekomunikasi. Seperti palapa ring yang menghubungkan   wilayah Barat dan Timur.

"Ke depan, kita juga akan membangun satelit sendiri," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara saat diskusi Forum Merdeka Barat  9 bertajuk "Membangun Sumber Daya Manusia Menyongsong Era Industri 4.0: Memastikan Infrastruktur TIK, Industri Manufaktur, SDM Riset, dan Skema Dukungan Anggaran,"  di Ruang Serba Guna Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika,  Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Dengan adanya palapa ring, dan juga nanti satelit, menurutnya  tidak ada lagi pendidikan yang tertinggal karena tidak terhubung dengan internet. Juga tidak ada lagi Puskesmas yang tidak terhubung dengan internet agar kecepatan pelayanan kesehatan bisa maksimal. Pesantren dan madrasah yang jumlahnya ada 2.000 lebih saat ini  sudah terhubung dengan internet. "Bahkan, kantor desa juga sudah terhubung dengan internet. Semua harus terhubung, seperti kantor koramil dan kantor polsek. Ini sesuai arah APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kita,"  ujar  Rudiantara.

Lebih lanjut dia mengatakan, pada  tahun 2015-2020, kita membutuhkan digital talent masuk ke ekonomi Indonesia. "Saat ini pemerintah fokus pada skill atau vokasional. Setiap tahun kita butuh 600.000 digital talent,” ujar Rudiantara.

Pihaknya kata dia,  membuat akademi digital talent. Pesertanya lulusan SMK, D3 atau S1. "Yang penting usianya tidak lebih dari 29 tahun. Tahun ini disiapkan 20.000 peserta. Memang terhitung masih sedikit jika dibandingkan kebutuhannya yang mencapai 600.000 digital talent," ujar Rudiantara.

Semua ekosistemnya kata dia,  sudah disiapkan dengan platform karir. Platform ini kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan digital talent.

"Sehingga, tidak hanya melatih peserta, tapi juga menyalurkan lulusan digital talent ini ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan," pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ainun Na'im mengatakan, pihaknya juga mendukung perkembangan teknologi.  "Konten kurikulum Perguruan Tinggi juga kita ubah. Semua program studi harus menguasai dasar-dasar tentang data science dan teknologi.

Bagaimana mengolah data sesuai disiplin ilmunya. Humanitis juga perlu," ujarnya. MenurutAinun Na'im program-program terutama politeknik dan vokasi, mahasiswa tidak hanya dapat ijazah. Tapi juga sertifikat kompetensi-diakui oleh asosiasi industri. Baik nasional maupun internasional

"Politeknik harus punya partner industri. Supaya bisa praktek. Kita juga lakukan revitalisasi politeknik, sehingga relevan dengan industri. Dan bisa kerja. Kita punya politeknik Batam, partnership dengan Lion Air dan Garuda. Juga politeknik perkeretaapian di madiun, partnership dengan kereta api. Selain itu, kita juga meningkatkan kualifikasi peneliti," pungkasnya. (dai)  

Berita Terkait

Nasional / Harkitnas Momen Pemersatu Bangsa

Nasional / Ada Upaya Adu Domba TNI-Polri

Nasional / Kampanye di Masa Tenang, Ini Ancaman Buat Netizen dan Buzzer

Nasional / 2020, Indonesia Merdeka Sinyal

Ekonomi / Startup Gagal karena Nafsu Ingin Cepat Kaya

Ekonomi / Startup Gagal karena Nafsu Ingin Cepat Kaya


Baca Juga !.