Lifestyle

Tanam Lidah Buaya, Petani Bogor Raup Omset Miliaran Rupiah Tiap Tahun

Redaktur: Novita Amelilawaty
Tanam Lidah Buaya, Petani Bogor Raup Omset Miliaran Rupiah Tiap Tahun - Lifestyle

BERPOTENSI - Suhendi, petani Desa Cimande, ketika memperlihatkan lahan lidah buayanya yang kini seluas 3000 meter yang berada di kebunnya, Bogor, Rabu (13/3/2019). Foto : Zulhaidah Bahar/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Bermodalkan lahan seluas 3000 meter, petani Desa Cimande, Bogor, Suhendi meraup omset miliaran rupiah pertahun dari tanaman Lidah Buaya. 

Kepada wartawan ia menceritakan ketertarikannya mengembangkan bisnis lidah buaya. Apalagi setelah mengetahui khasiatnya dan mendapat dukungan pelatihan dari Pusat Pelatihan Pertanian - Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian di Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP)

"Lidah buaya tidak hanya bermanfaat untuk perawatan rambut dan kecantikan, juga untuk kesehatan. Obat untuk berbagai macam penyakit seperti maag kronis, panas dalam, pilek, diabetes, masuk angin, meningkatkan stamina, dan antioksidan. Khasiatnya luar biasa," kata Suhendi di kebunnya, Rabu (13/3/2019).

Menurutnya, mengembangkan bisnis lidah buaya tidak cukup hanya ulet dan tekun, tetapi juga kreatif khususnya dalam pengolahan dan pemasaran. Hasilnya, dia memasarkan hasil produksi lahan pertaniannya dalam bentuk bahan baku dan olahan.

"Saya menjual pelepah lidah buaya untuk peminat yang ingin membeli bahan baku. Kalau produk olahan ada pilihan berupa pil dan teh lidah buaya," kata Suhendi yang sosok kesehariannya mencirikan petani milenial.

Sebelumnya, Suhendi menanam buah pepaya, namun setelah tahu banyak khasiat yang terkandung di dalam Lidah Buaya dan harganya bagus akhirnya ia memilih untuk fokus ke Lidah Buaya. 

Ketua Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Nasional ini mengatakan bahwa Lidah Buaya dijual dalam tiga bentuk. Pertama, menjual lidah buaya dalam bentuk Pelepah, kedua dalam bentuk olahan Pil Lidah Buaya dan terakhir dalam bentuk olahan Teh Lidah Buaya. 

"Satu pelepah Harganya Rp 6 ribu, satu Minggu bisa 5-7 kwintal, satu bulan kurang lebih 2,4 ton. Sehingga total dalam sebulan omset Rp 14,4 Juta," katanya.

Sementara itu dari produk olahan, Suhendi mampu menjual 500 botol pil lidah buaya, satu botol berisikan 50 pil dan harganya Rp 50 ribu per botol sehingga dia dapat meraup omset Rp 25 juta per bulan.

Omset Rp 500 miliar per tahun diperolehnya dari cara pemasaran konvensional, dari mulut ke mulut lantaran masih menjual kepada lingkungan sekitar dan hanya orang yang dikenalnya saja. 

Selanjutnya dari olahan Teh Lidah Buaya, dia bisa mendapatkan omset sekitar Rp 4.5 juta dari hasil penjualan 300 wadah Teh Lidah Buaya dengan harga Rp 15 ribu. "Satu wadah harganya Rp 15 ribu," katanya.

Pada kesempatan itu, dia juga menjelaskan bahwa pelepah lidah buaya hanya diambil ketika sudah masak dan setiap bulan maksimal hanya diambil 3 pelepah untuk perpohon.

"Setiap pohon lidah buaya kita ambil satu pelepah satu pelepah. Minimal sebulan saya panen sekali atau dua atau tiga kali," kata Suhendi. (zbs)

Berita Terkait

Daerah / Omzet Telur Puyuh Capai Rp 1,5 Miliar Perhari


Baca Juga !.