All Sport

Doping, Dea Batal Tampil di Olimpiade

Redaktur: Maximus thomas woda Wangge
Doping, Dea Batal Tampil di Olimpiade - All Sport

Sri Wahyuni

INDOPOS.CO.ID  – Empat lifter putri baru resmi berlatih di Mess Kwini, Jakarta Pusat, pekan ini. Keempatnya adalah Rizka Nur Amanda dan Lisa Setiawati (45 kg), Windi Cantika (49 kg), dan Juliana Klarissa (59 kg). Mereka menggantikan Acchedya Jagaddhita untuk terjun di SEA Games maupun berbagai event kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020.

Pergantian itu dilakukan karena, pada akhir bulan lalu, lifter yang akrab disapa Acchedya Jagaddhita yang karib dengan panggilan Dea dicoret dari pelatnas. Dea gagal melewati tes doping saat mengikuti EGAT’s Cup International Championships di Chiang Mai, Thailand, pada Februari lalu. Itu terungkap dari laman resmi Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) yang diunggah 28 Februari lalu.

Dalam pernyataan IWF tertulis bahwa dalam tes yang dilakukan terhadap lifter kelas 59 kg itu, ditemukan kandungan 17?-hydroxymethyl-17?-methyl-18-norandrost-1,4,13-trien-3-one. Ada substansi terlarang Metandienone (S1.1 agen anabolik) dalam sampel dia. Sementara waktu status Dea sebagai atlet ditangguhkan hingga penyelidikan lebih lanjut.

Pelatih kepala pelatnas Dirja Wiharja mengatakan, Dea sangat kooperatif terhadap penanganan kasus yang menjeratnya. Dea telah menjalani pemeriksaan IWF. ’’Kemarin kami sudah berkumpul dan berdiskusi. Kami kecolongan sampai bisa ada kasus ini. Per 1 Maret, Acchedya sudah tidak lagi tercatat dalam skuad pelatnas,’’ papar Dirja.

Buntut dari kasus itu, perunggu yang diperoleh Dea di EGAT’s Cup dicabut. Meski belum ada sanksi resmi, PB PABBSI sudah pasrah. Berkaca kepada kasus doping yang selama ini menimpa lifter, sanksi yang dijatuhkan biasanya empat hingga tujuh tahun. Bergantung kepada kadar zat terlarang yang ditemukan.  ’’Peta kekuatan kami berkurang. Kami kehilangan dua lifter putri dalam waktu yang berdekatan,’’ jelas Wakil Ketua PB PABBSI Joko Pramono.

Kasus itu memang sangat merugikan pelatnas. Sebab, awal tahun ini Sri Wahyuni mundur karena hamil. Karena itu, harapan diletakkan di pundak Dea. Peringkat Dea cenderung stabil untuk kualifikasi Olimpiade Tokyo. Dari update terakhir tadi malam, Dea berada di urutan kedelapan untuk kelas 59 kg.

’’Ini yang bikin pusing. Seperti disambar petir siang bolong. Setelah Sri hamil, Dea sudah kami setting untuk ke Olimpiade. Sudah di-ranking. Tapi, kalau sudah begini, mau bilang apa,’’ ucap Dirja. Matanya menerawang.

Ibunda Dea sekaligus pelatih pelatnas Supeni mengungkapkan, saat ini kondisi putrinya tidak baik. Sejak terjerat kasus tersebut, Dea meminta pulang ke Bekasi. ’’Shock dia belum selesai. Butuh dukungan keluarga. Pak Dirja meminta nggak usah pulang. Tapi, dia ngotot. Pasti ada rasa malu dan kecewa,’’ tutur Peni.

Memang sudah punya empat lifter putri pelapis. Namun, level mereka masih sangat jauh untuk bisa diharapkan menembus kualifikasi Olimpiade. Tetapi, Dirja memilih optimistis. Setidaknya, mereka harus berusaha dulu. ’’Setidaknya menjadi pengganti untuk meraih tiket ke Olimpiade. Bukan pengganti kelas, lho, ya. Kami masih berusaha,’’ ujar Dirja. (bam)

Baca Juga


Berita Terkait

Raket / Tunggal Putri Jalan di Tempat

All Sport / Panahan Loloskan Dua Atlet ke Olimpiade Tokyo

All Sport / 10 Atlet Panjat Tebing Berebut Tiket Olimpiade

All Sport / Pelatih Sebut Zohri Bisa Bersaing di Olimpiade


Baca Juga !.