Daerah

Bulog Tulungagung Fokus Serap Beras Komersil

Redaktur:
Bulog Tulungagung Fokus Serap Beras Komersil - Daerah

STOK - Tim Koordinasi Bansos Pangan Rastra Aceh Utara, menginspeksi kualitas beras rastra di gudang Bulog Drive Lhokseumawe, Aceh, Jumat (8/2/2019). ANTARA FOTO/Rahmad/foc.

INDOPOS.CO.ID - Perum Bulog Subdivre Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), fokus menyerap beras komersial ketimbang penugasan. Alasannya, saat ini harga lebih mahal dari patokan harga pembelian pemerintah (HPP).

”Untuk serapan beras petani dengan skema PSO (public service obligation atau penugasan) saat ini belum memungkinkan dilakukan karena harga pasar lebih tinggi dari HPP yang menjadi patokan Bulog,” tutur Kepala Perum Bulog Subdivre Tulungagung Krisna Murtiyanto di Tulungagung, Selasa (12/3/2019).

Krisna menjelaskan, Bulog secara fungsional mengemban dua tugas pokok dari pemerintah. Pertama, menyerap beras petani melalui mekanisme penugasan dengan pembelian subsidi pemerintah untuk tujuan menjaga harga beras tetap stabil. Tugas kedua, menyerap beras komersial untuk beras berkualitas baik dengan harga pasar lebih tinggi dibanding HPP. ”Selama pengadaan PSO tidak bisa dilakukan karena terbentur harga, maka kita dibebaskan untuk membeli beras dengan harga pasar. Namun, kami dibatasi pengelolaan pembelian beras komersial maksimal 30 hari untuk dijual kembali,” tegasnya.

Menurut Krisna, penyerapan beras komersial itu bisa dilakukan apabila harga beras di pasaran lebih tinggi dari HPP. Ia juga menuturkan tahun ini, pihaknya ditargetkan melakukan pengadaan gabah setara beras 20.546 ton. Jumlah itu terbagi menjadi dua yaitu PSO 13.959 ton dan komersial 6.587 ton. Sejak Januari 2019, Bulog sudah melakukan penyerapan beras komersial 233 ton. ”Target serapan tahun ini menurun 42 persen, dibanding tahun lalu 35.500 ton dan hanya bisa tercapai 19 ribu ton,” ulas Krisna.

Dia menjelaskan, Bulog menyerap beras komersial karena saat ini harga gabah kering panen (GKP) di pasaran mencapai Rp 4.500-4.700 per kilogram (kg). Sedang harga beras medium di pasaran mencapai Rp 8.600-8.900 per kg atau lebih tinggi dibanding HPP. Berdasar Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah, HPP GKP di tingkat petani Rp 3.700 per kg.

Sementara, harga gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan Rp 4.600 per kg, GKG di gudang Bulog Rp 4.650 per kg, dan HPP beras di gudang Bulog Rp 7.300 per kg. Dengan fleksibilitas harga 10 persen, maka HPP beras di gudang Bulog maksimal Rp 8.030 per kg. ”Harga itu masih lebih rendah dari harga pasar saat ini,” paparnya.

Namun, Krisna berkeyakinan pada akhir Maret hingga awal April 2019, harga beras akan turun karena memasuki masa puncak panen. (ant)

Berita Terkait

Ekonomi / Bulog Telah Gulirkan 190 Ribu Ton Beras

Ekonomi / Salurkan Beras CBP Korban Banjir Jatim

Ekonomi / Bulog Serap Jagung Rp 3.150 Per Kg

Nasional / Bulog Lakukan Penyerapan Jagung Lokal


Baca Juga !.