Mantan Dirut Asuransi Jasindo Dituntut 9 Tahun

INDOPOS.CO.ID – Mantan Direktur Utama Korporasi PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Budi Tjahjono dituntut 9 tahun penjara ditambah denda Rp 600 juta subsider 6 bulan kurungan.

Budi terbukti melakukan korupsi sehingga merugikan negara sebesar Rp 8,46 miliar dan USD 766.955 ribu. Tuntutan itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Haerudin saat sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (13/3/2019).

”Menyatakan terdakwa Budi Tjahjono terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan pertama,” katanya saat persidangan.

Tuntutan itu berdasarkan dakwaan pertama dari pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Haerudin juga menuntut Budi Tjahjono membayar uang pengganti sebanyak uang yang ia nikmati. ”Menghukum terdakwa untuk membayar uang pengganti sebesar Rp 6 miliar dan USD 462.795,31 dikurangi dengan uang yang telah dikembalikan kepada penuntut umum KPK sebesar Rp 1 miliar selambat-lambatnya 1 bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap,” ungkapnya.

Jika dalam waktu tersebut tidak dibayar maka harta benda terdakwa disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti. Jika terdakwa tidak punya harta yang cukup untuk membayar uang pengganti, maka akan digantikan dipidana penjara selama 1 tahun.

Terdapat sejumlah hal yang memberatkan Budi dalam tuntutan tersebut. Sebab, Budi Tjahjono diduga sebagai pelaku aktif dan memiliki peran besar dalam kejahatan yang merugikan negara. ”Pelaksanaan kejahatan menunjukkan adanya derajat keahlian dan perencanaan lebih dulu. Terdakwa tidak sepenuhnya mengakui terus terang perbuatannya dan menikmati hasil kejahatan,” papara Haerudin.

Perbuatan Budi juga memperkaya orang lain yaitu Kiagus Emil Fahmy Cornain selaku orang kepercayaan Kepala BP Migas Raden Priyono sejumlah Rp 1,33 miliar, Solihah selaku Direktur Keuangan dan Investasi sebesar USD 198.381 dan Soepomo Hidjazie sejumlah USD 137.

Dalam perkara ini Budi merekayasa kegiatan agen dan pembayaran komisi yang diberikan kepada agen PT Asuransi Jasindo seolah-olah sebagai imbalan jasa atas penutupan asuransi aset dan kontruksi pada BP Migas-KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) pada 2010-2014. Padahal penutupan tersebut tidak menggunakan jasa agen PT Asuransi Jasindo. (ant)

Komentar telah ditutup.