Headline

Larangan Diperpanjang

Redaktur: Juni Armanto
Larangan Diperpanjang - Headline

POLEMIK-Sebuah pesawat Boeing 737 Max 8 bersiap mendarat di Bandara Internasional Fort Lauderdale Hollywood, Florida, Amerika Serikat, Senin (11/3/2019) lalu. Foto : Joe Raedle/AFP

INDOPOS.CO.ID - Larangan pengoperasian sementara pesawat Boeing 737 Max 8 di Indonesia kemungkinan akan diperpanjang setelah otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat (AS) atau Federal Aviation Administration (FAA) resmi mengeluarkan pernyataan pembekuan jenis pesawat tersebut. ”Ini kan ada perkembangan dinamis, bahkan FAA melakukan pelarangan. Jadi kita evaluasi tidak hanya satu minggu,” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi usai peresmian Terminal Bandara Depati Amir oleh Presiden Joko Widodo di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Kamis (14/3/2019).

Dengan adanya kemungkinan perpanjangan, Budi mengaku tidak akan mengganggu operasi penerbangan nasional. Sebelumnya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubunan (Kemenhub) telah menetapkan pembekuan sementara seluruh unit pesawat Boeing 737 Max 8 di Indonesia selama satu pekan.

Terkait kemungkinan adanya penarikan unit pesawat Boeing 737 Max 8, Menhub mengatakan hal itu dilakukan untuk memastikan keselamatan. ”Segala kemungkinan ada sebaiknya harus optimistis. Kita harus menciptakan iklim yang kondusif juga untuk para operator. Jangan konservatif untuk memangkas atau meniadakan. Kita juga punya semangat untuk tetap ada dengan suatu perbaikan keselamatan tetap nomor satu,” tegasnya.

Budi mengatakan, pihaknya juga akan membahas kecelakaan tersebut dengan regulator internasional, baik Uni Eropa (UE) maupun FAA. ”Kita akan berkoordinasi dengan EU dan FAA sebagai ‘international regulator’ untuk membahas kasusnya seperti apa,” tandasnya.

Ia menilai kasus yang terjadi dengan Ethiopian Airlines ET 302 di Addis Ababa dengan Lion Air JT 610 tidak bisa disamakan. ”Mereka baru enam menit dan baru 1.000 kaki ketinggiannya, ‘landing gear’ juga belum naik,” katanya.

Menhub juga sudah memanggil pihak Boeing, namun mereka belum memenuhi panggilan tersebut. ”Kita sudah panggil kemarin, tapi nggak tahu datang kapan,” tandasnya.

Sementara FAA akhirnya secara resmi membekukan sementara Boeing 737 Max 8 setelah kecelakaan fatal unit pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines. Pembekuan tersebut termasuk untuk Boeing 737 Max 8 dan 737 Max 9 sementara menunggu analisis dan data dari pihak FAA.

Adapun, Boeing juga telah mengeluarkan larangan terbang terhadap armada 737 Max di seluruh dunia setelah menemukan bukti baru di lokasi jatuhnya Ethiopian Airlines di Boshaftu, sekitar 50 kilometer dari Addis Ababa, Ethiopia, Minggu (10/3/2019) pagi waktu setempat. Manajemen Boeing akan menangguhkan semua pesawat Boeing 737 Max yang telah digunakan berbagai maskapai dengan total 371 unit.

Sementara Kemenhub melalui Ditjen Perhubungan Udara mempertegas larangan beroperasi bagi seluruh pesawat Boeing 737 Max 8 di wilayah udara Indonesia. Keputusan itu  berlaku sejak Kamis (14/3/2019). Keputusan tersebut ditempuh memperhatikan Continuous Airworthiness Notification to the International Community (CANIC) yang diterbitkan FAA pada 13 Maret 2019 perihal ‘updated information regarding FAA continued operations safety activity related to the Boeing Model 737-8 and 737-9 (737 Max) fleet’. "Larangan beroperasi ini berlaku sampai dengan adanya pemberitahuan lebih lanjut, dengan mempertimbangkan terpenuhinya keselamatan penerbangan," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Polana B. Pramesti dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Menurutnya, hal itu demi terpenuhinya keselamatan penerbangan di Indonesia. "Kami memutuskan untuk melarang terbang seluruh pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan operator penerbangan di wilayah uang udara Indonesia berlaku sejak 14 Maret 2019,” ujar Polana.

Meski begitu, lanjut dia, larangan beroperasi ini dikecualikan bagi penerbangan Boeing 737 Max 8 yang bertujuan non-komersial, tidak membawa penumpang, dan ferry flight dalam rangka kembali ke lokasi perawatan atau penyimpanan pesawat terbang. "Keselamatan penerbangan menjadi hal terpenting dalam pelayanan penerbangan. Bagi kami, keselamatan merupakan ‘no go item’  yang tidak dapat ditawar,” tegas Polana.   

Saat ditanya wartawan pada Selasa (13/3/2019) lalu, apakah akan menuntut Boeing? Polana enggan menjawab hal itu. "Tapi yang jelas pada saat awal kecelakaan JT 610 (Lion Air, Red) melalui menteri, kami sudah berkomunikasi dengan Boeing maupun FAA," ujar Polana.

Namun disampaikan Boeing bahwa otoritas penerbangannya adalah FAA, maka pihaknya berkomunikasi dengan FAA. "Salah satu komunikasi tersebut intinya ingin memberikan keyakinan. Rekomendasi FAA terkait aspek-aspek, terutama safety di pesawat Boeing 737 Max 8," jelas Polana.

Selain itu, lanjut dia, sehari setelah kejadian JT620, Boeing bersurat kepada Ditjen Perhubungan Udara. Intinya menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. "Satu poin positifnya Boeing sudah membuka diri dan standby jika ada pertanyaan-pertanyaan atau klarifikasi," ujar Polana.

Terkait delivery apakah pemerintah akan men-suspend atau menunda pembelian Boeing? Polana mengatakan, operator sudah menunda sendiri pengirimannya. Ini sampai ada hasil dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Jadi tidak perlu kita menyarankan. Sudah di-suspend oleh Lion Air saat kejadian," pungkasnya.

Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Akhsara menyatakan, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan membatalkan pemesanan sebanyak 49 unit pesawat Boeing 737 Max 8. "Kami belum melihat ke sana, tetapi kemungkinan membatalkan itu ada, seperti contoh Lion sudah ada suratnya di media untuk membatalkan pesanan," katanya saat ditemui di Kementerian BUMN Jakarta, kemarin.

Total pesawat Boeing 737 Max 8 yang dipesan Garuda sebanyak 50 unit, sekitar 49 unit akan datang secara bertahap mulai 2021 sampai 2030. Sementara satu unit pesawat di-grounded. Sebelum insiden kecelakaan dua pesawat jenis sama yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines, Garuda sudah melakukan negosiasi dengan Boeing untuk mengurangi jumlah pesanan menjadi hanya 20 unit. Rencananya, Garuda akan menukar pesanan Boeing 737 Max 8 dengan pesawat Boeing 787 yang dinilai memiliki ‘value’ yang sama. Satu unit pesawat Boeing 737 Max 8 senilai dengan USD 60 juta-70 juta.

"Kami akan melakukan negosiasi dengan menggunakan Boeing yang lain karena yang penting bagi Garuda, bagaimana mendapat pesawat yang 'safety' dan 'reliable' pada 2021 on board," kata Ari.

Ia menambahkan bahwa operasional Garuda tidak terganggu setelah  menghentikan sementara pengoperasian satu unit pesawat Boeing 737 Max 8 menyusul Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan oleh Kemenhub. Satu unit pesawat Boeing 737 Max 8 yang dimiliki Garuda umumnya beroperasi dengan tujuan ke Singapura. "Total pesawat seluruhnya dengan Sriwijaya, ada 251 unit pesawat, sekarang kebetulan sedang 'low season' jadi tidak terlalu bermasalah untuk saat ini," katanya.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengaku kebijakan larangan terbang pesawat  jenis Boeing 737 Max 8 sudah tepat. Karena larangan tersebut untuk menjamin keamanan pengguna jasa penerbangan di Indonesia. Apalagi, jumlah pesawat jenis tersebut tidak banyak. Di Indonesia sendiri jumlah hanya 11 armada. ”Larangan itu tidak akan menganggu jadwal penerbangan yang ada, jadi itu sudah tepat,” ungkapnya kepada INDOPOS, Kamis (14/3/2019).

Tulus mengungkapkan, larangan penerbangan jenis pesawat Boeing 737 Max 8 sudah dilakukan beberapa negara, salah satunya AS. Jaminan keamanan pengguna jasa penerbangan atau konsumen di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah. Yang paling krusial saat ini salah satunya soal harga harus menjadi perhatian. Selain itu juga menyangkut bagasi berbayar. ”Tiket penerbangan masih mahal dan masalah bagasi berbayar. Ini menjadi PR Kemenhub untuk melakukan pengawasan,” katanya.

Ia menilai penerapan bagasi berbayar kepada penumpang merupakan hal yang semena-mena. Di tengah konsumen terbebani tarif yang mahal, kini mereka harus dibebani bagasi berbayar. ”Ini jelas kenaikan tarif pesawat terselubung,” tandasnya.

Tulus menegaskan, sudah semestinya Kemenhub untuk tarif mahal pesawat harus melakukan pengawasan. Karena hal itu merupakan salah satu pemenuhan layanan untuk konsumen di Indonesia. ”Harus ada regulasi untuk mengatur dan mengawasi bagasi berbayar,” tegasnya.

Pilot Mengeluh

akhirnya dunia internasional sepakat melarang pengoperasian sementara pesawat Boeing 737 Max 8. Ini setelah seluruh negara dan terakhir diikuti Amerika Serikat (AS) mengeluarkan perintah penghentian seluruh pesawat Boeing 737 Max 8. Larangan terbang di AS diberlakukan setelah dua kecelakaan fatal dalam lima bulan terakhir yang melibatkan Boeing 737 Max 8. Sebuah penerbangan Lion Air jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat (Jabar), Indonesia pada Oktober 2018 dan disusul pesawat Ethiopian Airlines yang juga jatuh pada Minggu (10/3/2019) lalu. Tak satu pun dari kecelakaan itu yang meninggalkan korban selamat. Ratusan penumpangnya tewas mengenaskan.

Penyelidik masih mencari penyebab kedua kecelakaan tersebut. Penyelidikan awal menunjukkan bahwa pilot dalam kecelakaan Lion Air berjuang untuk mendapatkan kendali atas pesawat setelah hidung pesawat dipaksa turun oleh fitur keselamatan otomatis. CEO Ethiopian Airlines mengatakan, pilotnya juga melaporkan masalah pengendalian pesawat sebelum kecelakaan.

Setelah kecelakaan di Indonesia, serikat pilot mengeluh bahwa pilot belum diberitahu tentang perubahan pada sistem kontrol penerbangan pada pesawat jenis Max yang dapat secara otomatis mendorong hidung pesawat ke bawah dalam situasi tertentu. Perubahan perangkat lunak itu diyakini telah berperan dalam kecelakaan Lion Air dan mungkin juga menjadi faktor dalam kecelakaan pesawat Ethiopia Airlines. Boeing sekarang berencana untuk meluncurkan pembaruan perangkat lunak yang telah bekerja sejak kecelakaan di Indonesia.

Pengenalan fitur kontrol penerbangan baru yang konsekuen tanpa persyaratan untuk pelatihan pilot sekarang lebih banyak menarik perhatian. Perwakilan Peter A. DeFazio, anggota Partai Demokrat dari Oregon, AS dan Ketua DPR Komite Transportasi dalam sebuah wawancara mengatakan bahwa ia berencana untuk melakukan penyelidikan sertifikasi Federal Aviation Administration (FAA) atau lembaga regulator penerbangan sipil AS atas Boeing 737 Max. Fokusnya mengapa FAA tidak memerlukan pelatihan yang lebih substansial bagi pilot untuk belajar menerbangkan versi baru pesawat jenis 737 Max.

Dilansir NYTimes, DeFazio berharap akan adanya komunikasi yang relevan antara Boeing dan FAA di antara dokumen-dokumen lain dan bersedia menggunakan kekuatan pengadilan jika perlu. ”Hal ini membutuhkan investigasi yang kuat,” tandasnya.

Maskapai penerbangan di AS tidak dapat menerbangkan pesawat-pesawat tersebut setelah ada perintah FAA. Maskapai Southwest Airlines dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah melakukan kontak dengan FAA dan Boeing sejak kecelakaan Ethiopian Airlines.  Sebelumnya, pihaknya percaya diri pada 737 Max setelah menerbangkan pesawat selama lebih dari 88.000 jam dalam 41.000 penerbangan tanpa insiden. ”Kami terus memiliki kepercayaan diri yang besar pada armada kami,” tandasnya.

Larangan terbang pesawat Boeing 737 Max 8 di AS dan di tempat lain juga memengaruhi model Boeing Max 9 yang diterbangkan United Airlines. ”Saya tidak ingin menebak,” kata Daniel Elwell, FAA administrator ketika ditanya berapa lama pesawat Boeing mungkin dilarang terbang.

”Harapan saya bahwa FAA, pilot, dan pabrik, serta semua pihak akan bekerja sangat keras untuk membuat larangan terbang ini sesingkat mungkin, sehingga pesawat-pesawat ini dapat kembali ke langit,” ungkapnya.

”Kami mendukung langkah proaktif ini,” kata CEO Dennis Muilenburg dalam pernyataannya. ”Kami melakukan segala hal untuk memahami penyebab kecelakaan dan bekerja sama dengan para penyelidik, menyebarkan peningkatan keselamatan, dan membantu memastikan ini tidak terjadi lagi,” ungkapnya.

Muilenburg sekali lagi menyatakan simpati perusahaan kepada keluarga korban kecelakaan dan perusahaan tidak memiliki prioritas lebih besar daripada keselamatan pesawatnya.

737 Max adalah jet terlaris Boeing yang pernah ada dan diharapkan menjadi pendorong utama laba, dengan lebih dari 4.500 pesawat yang sudah dipesan. Saham perusahaan telah jatuh sekitar 11 persen pada pekan ini. Saham Boeing (BA) turun tiga persen setelah Presiden Donald Trump mengumumkan langkah dari Gedung Putih. Saham-saham itu kemudian melambung sebagai tanda bahwa larangan terbang tersebut sebagian besar telah dihargai untuk saham Boeing. Tetapi setelah berakhir sedikit lebih tinggi pada Rabu, (13/3) saham masih turun lebih dari 10 persen sejak kecelakaan, menghapus lebih dari USD 25 miliar dari nilai pasar perusahaan.

Dilansir CNN, saham tiga maskapai AS yang telah menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8, yaitu American Airlines, Southwest, dan United dengan singkat jatuh sangat rendah, dan kemudian dengan cepat melambung ke wilayah positif. Sangat mungkin bahwa Boeing akan memberikan kompensasi kepada tiga maskapai akibat kehilangan pendapatan. Ada sekitar 67.737 pesawat Max yang beroperasi di antara mereka.

Semua maskapai mengatakan akan berusaha untuk mengakomodasi penumpang yang terkena dampak dari larangan terbang pesawat tersebut. Namun, pesawat-pesawat itu hanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan armada mereka. Pesawat Boeing Max menyumbang kurang dari tiga persen dari kapasitas masing-masing maskapai.

Boeing memiliki sejarah membayar maskapai jika pesawat yang mereka miliki mendarat karena alasan keamanan. Mereka melakukannya setelah tiga bulan pengandangan jet 787 Dreamliner pada 2013. Sebelumnya pada Rabu lalu, CEO European Discount Carrier Norwegian Air mengatakan akan menagih Boeing untuk pendapatan yang hilang akibat adanya larangan terbang sebanyak 18.747 unit pesawat Max 8.

Air Canada memiliki 24 pesawat Max 8, WestJet Airlines Ltd. memiliki 13 Max 8 di armadanya, sedangkan Sunwing Airlines Inc yang berbasis di Toronto memiliki empat pesawat Max 8. Menyusul langkah yang diambil Kanada, AS dan sebagian besar negara lain untuk mengandangkan seluruh armada Boeing 737 Max. ”Saat ini, sebenarnya tidak ada kapasitas cadangan, dan sebagian besar maskapai terbang penuh,” kata Fred Lazar, profesor ekonomi Universitas York.

Peter Fitzpatrick, juru bicara Air Canada mengatakan, maskapai ini sedang mempertimbangkan untuk mengakomodasi pelanggan di maskapai lain. Pihaknya telah menjadwalkan kembali pesawat berbadan lebar untuk melayani Hawaii, sedangkan beberapa penerbangan akan beroperasi sesuai jadwal dengan pesawat Air Canada Rouge atau pesawat lain. ”Rute lain, terutama Halifax-London dan St. John's-London dibatalkan untuk sementara, dengan penumpang dialihkan kembali melalui Montreal dan hub Toronto,” katanya.

”Mengingat besarnya operasi 737 Max kami yang rata-rata membawa 9.000 hingga 12.000 pelanggan per hari, pelanggan dapat memperkirakan keterlambatan dalam memesan ulang dan menghubungi Call Center Air Canada,” kata Peter.

Sementara WestJet mengatakan, pihaknya menukar pesawat terbang dan membuat perubahan penerbangan untuk mengakomodasi sebanyak mungkin orang. Sekitar 1.000 penumpang telah terkena imbas dan setengahnya dipindahkan ke opsi penerbangan pada hari yang sama dan sisanya akan kembali pulih pada Kamis (14/3/2019) dan Jumat (15/3/2019).

”Keputusan ini berdampak pada rencana perjalanan para tamu WestJet dan kami meminta pengertian ketika kami bekerja untuk memesan ulang semua tamu yang terkena dampak secepat mungkin,” kata Ed Sims, CEO West Jet seperti dilansir CBC News.

Tekanan Parlemen AS

Presiden Donald Trump akhirya memerintahkan pelarangan seluruh pesawat Boeing 737 Max 8 dan MAX 9 di Amerika Serikat (AS) pasca insiden nahas di Etopia yang menewaskan 157 penumpangnya. Keputusan tersebut diambil setelah banyaknya tekanan dari anggota parlemen AS dan lainnya untuk bergabung bersama regulator lain di seluruh dunia. "Kami mengeluarkan perintah darurat untuk melarang operasi seluruh penerbangan 737 Max 8 dan 737 Max 9 dan pesawat-pesawat yang sejenis dengan itu," katanya kepada awak media di Gedung Putih.

Adminstrasi Penerbangan Federal menggelar pertemuan darurat pada Rabu lalu terkait sejumlah isu setelah Kanada mengumumkan akan menjadi negara besar terakhir yang mendaratkan pesawat pasca dua kecelakaan fatal. FAA memberitahu maskapai penerbangan beberapa menit sebelum Trump membuat pengumuman.

Boeing mendukung aksi untuk menghentikan sementara operasi pesawat jenis 737 Max setelah berkonsultasi dengan FAA, NTSB, dan pelanggan mereka. Trump mengatakan, pesawat-pesawat di udara dapat terbang ke tujuannya masing-masing. Pembatalan pernyataan tersebut muncul kurang dari sehari setelah regulator penerbangan AS kembali menegaskan bahwa pesawat tersebut aman. Bahkan Menteri Transportasi Elaine Chao terbang dengan menggunakan Boeing jenis 737 Max pada Selasa lalu. "FAA siap untuk membuat pengumuman yang sangat singkat mengenai informasi baru dan bukti fisik yang kami terima dari situs tersebut dan lokasi lainnya, serta melalui beberapa keluhan," pungkas Trump. (dai/fay/nas/ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Boeing Kian Terjepit, Senat AS Bakal Interogasi

Headline / Boeing Terjun Bebas, Garuda Aman


Baca Juga !.