Megapolitan

Kantong Parkir Belum Siap, Di Stasiun MRT Fatmawati dan Lebak Bulus

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Kantong Parkir Belum Siap, Di Stasiun MRT Fatmawati dan Lebak Bulus - Megapolitan

Ilustrasi Foto

INDOPOS.CO.ID – Moda raya terpadu (MRT) Jakarta fase 1 sudah uji coba publik. Rencananya, tak lama lagi, moda transportasi masal tersebut akan beroperasi secara komersial. Keberadaan MRT diharapkan semakin mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi masal. Hanya, hingga saat ini kantong parkir tersedia.

Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhamad Kamaludin mengatakan, mengenai lahan parkir masih dibahas bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan DPRD DKI. "Ya. Benar lagi dibahas bersama dengan Pemprov DKI dan pemangku kepentingan juga pemilik lahan," katanya kepada INDOPOS, Kamis (14/3/2019).

Dia menambahkan, pihaknya mengusulkan beberapa titik. "Untuk saat ini, yang baru konfirmasi di Stasiun Fatmawati di Jalan Kaimun Jaya, Jakarta Selatan. Untuk yang di Stasiun Lebak Bulus belum konfirmasi," jelasnya.

Idealnya, lanjutnya, lokasi parkir di daerah tersebut, daerah penunjang MRT. Tujuannya, membatasi kendaraan pribadi masuk ke tengah kota. Dari wilayah Jakarta Selatan sendiri sudah langsung disekat.

Pihaknya juga belum dapat memastikan berapa luas lahan yang akan digunakan sebagai tempat kantong parkir tersebut.

"Nanti kita umumkan berapa luas lahannya dan tiket parkirnya. Sekarang masih proses perjanjian," ujarnya.

Ke depan, areal parkir MRT tersebut akan dikelola oleh PT MRT Jakarta. Sehingga para pengguna MRT akan menggunakan kartu. "Tetap pembayaran nontunai, untuk tarifnya masih dibahas," sambungnya lagi.

"Yang jelas, jaraknya sesuai dengan Pergub Transit Oriented Development (TOD), jarak kantong parkir dari stasiun atau transit ke moda transportasi lainnya adalah sekitar 350 - 750 meter.

Selain itu, ada juga pertimbangan arus kendaraan. Jangan sampai fasilitas tersebut mengganggu arus kendaraan masyarakat," imbuhnya.

Selain menyediakan kantong parkir, PT MRT Jakarta memfokuskan pengadaan lapangan parkir di wilayah Lebak Bulus dan Fatmawati sebagai dua stasiun terjauh dari jalur fase I Lebak Bulus-Bundaran HI. Pihak MRT juga mengaku telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan operator ojek ojek online (ojol) agar tidak terjadi kepadatan di pintu masuk stasiun.

"Agar tidak ada kepadatan di pintu masuk stasiun. Kami juga mengonsep agar ada lokasi naik dan turun penumpang ojol dan angkutan lainnya. Ini juga sedang dibicarakan dengan Pemprov DKI karena terkait dengan lahan yang akan digunakan sebagai titik naik dan turun," tambah dia.

Sebelumnya diberitakan, Kamaludin mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan dua kantong parkir. Kedua kantong parkir tersebut berada di Lebak Bulus dan daerah Fatmawati.

“Kantong parkir kita prioritaskan untuk pinggiran Jakarta dari kota pendukung. Jadi penumpang MRT bisa parkir kendaraan dan melanjutkan perjalanan menggunakan MRT Jakarta,” terangnya. Kamaludin memastikan kantong parkir tersebut akan menyesuaikan kebutuhan warga.

Mengenai tarif, belum diputuskan. Pemprov DKI Jakarta mengusulkan Rp 10 ribu. Angka ini sudah disampaikan ke DPRD Jakarta. "Saya tinggal di Bintaro, kerjanya di Jakarta Selatan. Pengennya sih naik MRT. Namun untuk harga harusnya ditetapkan dahulu. Karena kan belum tahu apakah tarifnya Rp 10 ribu dah diketuk palu belum. Melihatnya besaran nominal itu dari mana, apakah dari hitungan jarak jauh -dekat, per kilometer atau gimana. Kalau harga Rp 10 ribu jarak Lebak Bulus - HI ya lumayan juga ya. Kemudian di mana letak parkirnya kalau mau naik MRT," kata Raisa, 26, karyawati swasta, Kamis (14/3/2019).

Selain MRT, Raisa juga angkat bicara soal tarif LRT Jakarta rute Rawamangun-Kelapa Gading yang diusulkan pemrov Rp 6 ribu. Menurutnya, untuk naik LRT (Velodrome - Kelapa Gading) tarifnya Rp 6 ribu juga lumayan. Tidak mahal. ’’Tapi kalau bisa dikurangi lagi tarifnya untuk MRT dan juga LRT," harapnya.

Sementara itu, setelah fase 1, dilanjutkan MRT fase II (Bundaran HI-Kota). Depo fase II antara Ancol Barat dan Ancol Timur masih dalam proses pengkajian. "Kemungkinan groundbreaking fase II dengan pembangunan gardu listrik bawah tanah di Monas dilakukan setelah MRT fase I resmi beroperasi," tandas Kamaludin saat dihubungi (13/3/2019).

Kamaludin menambahkan, untuk melakukan groundbreaking di kawasan Monas, tentunya harus ada izin dari Kementerian Sekertaris Negara lantaran kawasan tersebut merupakan objek vital. Menurutnya, proses adminsitrasi perizinan tersebut sudah lengkap dan tinggal menunggu persetujuan.

Dalam penetapan lokasi yang diputuskan dengan surat keputusan (SK) gubernur, sambung Kamal, MRT fase II akan dibangun terlebih dahulu dari Bundaran HI ke Kota. Kemudian baru dilanjutkan ke depo yang saat ini masih dalam proses kajian studi.

"Depo di Ancol Timur atau Barat itu lebih panjang dari depo yang direncanakan sejak awal di Kampung Bandan. Nah, makanya kita kerjakan ke Kota dulu sambil menyelesaikan kajian studinya," katanya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menuturkan, rendahnya masyarakat menggunakan angkutan umum itu karena belum terjangkaunya jaringan transportasi yang mencakup keberangkatan dan tujuannya. Untuk itu, Pemprov DKI harus membangun jaringan transportasi yang dapat menjangkau semua wilayah.

"Kita harus membangun infrastruktur transportasi masal di Jakarta lebih banyak, supaya warga mau menggunakan kendaraan umum. Kalau dengan kondisi seperti sekarang, ya berpindah menggunakan transportasi umum masih repot, karena jarak dari rumah ke kendaraan umum masih jauh," terangnya.

Selain itu, sambung Anies, pihaknya juga tengah membangun sistem transportasi terintegrasi yang bisa menjangkau hingga 500 meter dari tempat tinggal warga dan 500 meter dari tempat tujuan. Sehingga warga bisa berangkat dari mana dan ke mana saja menggunakan transportasi masal. (ibl)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / MRT Diperkirakan Mampu Mengurangi 5600 Kendaraan Pribadi

Megapolitan / Layanan MRT Permudah Warga Jakarta ke Car Free Day

Megapolitan / Stasiun MRT Senayan hingga Dukuh Atas Kembali Dibuka

Megapolitan / Alasan Keamanan, Tiga Stasiun MRT di Jakarta Pusat Tutup

Megapolitan / Tarif Normal, Jumlah Penumpang MRT Belum Signifikan

Megapolitan / Berharap Kawasan TOD Memudahkan Angkutan Antarmoda


Baca Juga !.