Megapolitan

Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta

Redaktur: Muhammad Izzul Mutho
Mengikuti Uji Coba Publik Moda Raya Terpadu Jakarta - Megapolitan

KALI PERTAMA - Para penumpang naik MRT Jakarta fase 1 rute Lebak Bulus-Bundaran Indonesia. Foto: Nasuha/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Masyarakat antusias mengikuti uji coba publik moda raya terpadu (MRT) Jakarta fase 1 rute Lebak Bulus-Bundaran Indonesia (HI). Mereka manfaatkannya di antaranya berswafoto di stasiun maupun di dalam moda transportasi masal pertama di Indonesia itu.

NASUHA, Jakarta

Hari masih pagi. Calon penumpang uji coba MRT Jakarta mulai berdatangan ke Stasiun MRT Bundaran HI. Ada yang sendiri, ada pula yang berkelompok. Tampak sekelompok pemuda datang dengan menyeberangi pelican crossing di Bundaran HI. Kali ini INDOPOS berkesempatan mengikuti uji coba MRT Jakarta.

Setibanya di pintu masuk atau entrance, calon penumpang disambut ramah oleh petugas keamanan. "Silakan, mau ikut uji coba ya. Tolong diperlihatkan pendaftaran online-nya," ujar salah seorang petugas keadaan para calon penumpang ujicoba MRT Jakarta.

Sekadar diketahui, pemesanan tiket uji coba publik MRT rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia dibuka secara online sejak 5 Maret 2019. Uji coba publik dilakukan selama dua pekan, 12 Maret hingga 24 Maret 2019. Uji coba bersama masyarakat, dilakukan pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Koran ini masuk dalam antrean, sembari menunjukkan ponsel pintar, para penumpang pun menuruni anak tangga ke lantai dua (concorde). Kedalaman lantai ini 24 meter di bawah permukaan tanah. Penumpang lanjut usia (lansia) sebaiknya disarankan menggunakan lift. Karena cukup tinggi meniti anak tangga untuk tiba di concorde. Ada empat susun anak tangga tersebut dengan kemiringan kurang lebih 45 derajat.

Lantai concorde cukup luas. Ada beberapa fasilitas di sana, seperti musala, ruang laktasi hingga kamar kecil (toilet). Untuk menuju lantai platform, penumpang lagi-lagi harus melalui proses pemeriksaan. Seorang petugas dengan alat metal detector memeriksa satu per satu penumpang.

“Selamat pagi, kami periksa dulu ya?," ujar petugas keamanan di lantai concorde.
Setelah melintasi pintu X ray, penumpang menuju lantai platform melalui gate. Di sana, ada dua orang petugas. Kembali penumpang harus melakukan scan barcode tiket online. Kemudian, petugas memberikan pin atau stiker berlogo MRT Jakarta untuk ditempel.

Menuju lantai platform, penumpang harus meniti anak tangga. Setibanya di platform, menunggu sejenak. Waktu tidak dibuang sia-sia oleh para penumpang uji coba MRT Jakarta. Mereka habiskan waktu untuk berswafoto dengan angle yang berbeda-beda. Ada yang memanfaatkan gate masuk MRT sebagai latar belakang berswafoto, ada pula yang memanfaatkan tiap sudut dinding ruang platform untuk back ground foto selfi.

Sayang, di ruang platform tidak ada kursi untuk menunggu kereta. Sehingga penumpang menghabiskan waktu untuk bercengkrama sembari berswafoto. Sesaat penumpang menunggu, MRT pun tiba pukul 11.07 WIB. Menunggu penumpang turun, secara bergantian penumpang memasuki MRT Jakarta.

Memasuki MRT, sepintas, tak ubahnya kita memasuki kereta listrik (KRL) commuter line. Ada delapan pintu masuk, yang masing masing sisi rangkaian terdapat empat pintu masuk. Ada yang berbeda dengan MRT Jakarta. Kereta MRT terlihat lebih kecil tetapi kekar. Interior dibalut warna dominan putih, satu rangkaian terdiri atas enam set kursi berwarna biru. Yang terbagi di sisi bagian kanan tiga set dan bagian kiri tiga set, masing-masing set terdiri dari tujuh tempat duduk.

Sementara di bagian depan dan belakang rangkian terdapat tiga set tempat duduk prioritas. Yang terbagi dua set berhadapan di bagian depan rangkaian dan satu set di belakang rangkian. Pada bagian belakang rangkaian tersebut terdapat tempat untuk para difabel pengguna kursi roda.

Dalam satu rangkaian kereta juga dilengkapi dengan dua kamera CCTV yang berada di tiap ujung rangkaian. Selain itu terdapat pula empat interkom untuk keadaan darurat (SOS) dan pegangan tangan dengan warna bervariasi, bagi penumpang dengan tempat duduk berdiri. Hanya, dalam kereta MRT tidak ada bagasi atas yang biasa ditemukan di dalam KRL.

Sehingga penumpang terpaksa harus memangku masing-masing barang bawaannya. Lagi-lagi, waktu untuk menunggu semua penumpang masuk dimanfaatkan untuk berswafoto. Mereka terlihat sangat senang. Memanfaatkan tiap sudut interior MRT untuk berswafoto. Tepat pukul 11.13 WIB MRT berangkat.

Hawa dingin dari pendingin udara di kereta MRT cukup membuat rileks setelah meniti anak tangga dari entrance hingga lantai platform. Tidak banyak penumpang yang naik dari Stasiun Bundaran HI, saat itu. Kereta dengan enam rangkaian tersebut melaju cukup kencang, tidak ada goncangan. Tetapi, suara mesin masih terdengar berisik dari dalam kereta.

Menyelusuri lorong di bawah tanah, tidak tampak pemandangan, hanya terlihat samar-samar dinding lorong yang tidak dilengkapi penerangan. Hanya butuh waktu satu menit untuk tiba di Stasiun Dukuh Atas. Kereta hanya berhenti satu menit untuk naik turun penumpang. Pada pukul 11.16 kereta berangkat dan tiba di Stasiun Setia Budi pukul 11.17 WIB.

Kereta melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Bendungan Hilir tepat pukul 11.18 WIB. Hanya butuh waktu satu menit kereta tiba di Stasiun Bendungan Hilir. Pada pukul 11.20 WIB kereta berangkat menuju Stasiun Istora. Dan hanya satu menit saja kereta untuk tiba di stasiun Istora.

Usai penumpang naik, kereta berangkat pada pukul 11.22 WIB, dan tiba di Stasiun Senayan pada pukul 11.23 WIB. Mendekati Stasiun Sisingamangaraja kereta keluar dari jalur bawah tanah. Sejak berangkat dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Senayan penumpang hanya bisa memasuki kereta dari pintu masuk sebelah kiri.

Sejak masuk di Stasiun Sisingamangaraja penumpang hanya bisa memasuki kereta dari pintu sebelah kanan. Tiba di Stasiun Sisingamangaraja tepat pukul 11.26 WIB dan melanjutkan perjalanan lagi pukul 11.27 WIB. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di Stasiun Blok M. Di stasiun yang memiliki empat peron, kereta masuk di peron satu.

Keluar dari jalur bawah tanah, dimanfaatkan penumpang untuk melihat pemandangan di kanan dan kiri kereta. Sebagian penumpang mendokumentasikan pemandangan sepanjang jalan. “Asyik, lihat pemandangannya,” ujar Andre, 45, salah seorang penumpang yang mengajak Arka, 8, putranya.

Andre mengaku senang mengikuti uji coba publik MRT Jakarta. Penumpang yang tinggal di Pondok Labu, Cilandak, ini mengaku sudah menunggu lama beroperasinya MRT Jakarta. Pasalnya, selama ini dia bisa melihat dan merasakan MRT hanya di Singapura. “Saya sudah tunggu sejak pertama MRT Jakarta dibangun 2014. Saya sudah tidak sabar untuk merasakan naik MRT,” ungkapnya.

Menurut Andre, MRT Jakarta bisa menjadi moda transportasi masal yang cukup diandalkan. Karena, laju kereta yang kencang dan tidak mengalami kemacetan. Namun ia menyayangkan, beberapa petunjuk di stasiun masih belum tertangkap mata penumpang. “Kalau petunjuk sih ada, tapi tidak tertangkap mata. Jadi kita harus mencari-cari lagi,” ucapnya.

Ia berharap, penerapan tarif parkir nanti tidak membebankan pengguna MRT Jakarta. “Ya kalau tarifnya masih berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu sih masih oke. Apalagi fasilitasnya juga oke,” katanya.

Dari Stasiun Blok M, kereta berangkat pukul 11.29 WIB dan tiba di Stasiun Blok A pukul 11.30 WIB. Memasuki Stasiun Haji Nawi terdapat satu tikungan leter S, kereta pun menurunkan kecepatannya. Tiba di Stasiun Haji Nawi pukul 11.33 WIB dan menuju Stasiun Cepete Raya pukul 11.34.

Setibanya di Stasiun Cipete Raya pukul 11.35 WIB, kereta hanya berhenti satu menit dan melanjutkan ke Stasiun Fatmawati pukul 11.36 WIB. Untuk tiba di Stasiun Fatmawati kembali kereta harus menyusuri tikungan tajam berbentuk leter L. Kereta tiba di Stasiun Fatmawati pukul 11.38 WIB, dan menuju Stasiun Lebak Bulus pukul 11.39 WIB.

Kembali saat mendekati Stasiun Lebak Bulus MRT menyusuri jalur menikung. Tepat pukul 11.41 WIB, tiba di Stasiun Lebak Bulus. Setibanya di Stasiun Lebak Bulus, penumpang berpindah ke peron dua untuk kembali ke Stasiun Bundaran HI. Kereta berangkat dari Stasiun Lebak Bulus pukul 11.49 WIB.

Menuju arah Stasiun Bundaran HI, penumpang terus bertambah. Masuk Stasiun Blok M pukul 12.02 WIB, tampak penumpang menumpuk untuk naik kereta MRT. Saking banyaknya, penumpang berseloroh,”Wuuih banyak yang naik dari Blok M.’’ Lagi-lagi penumpang yang baru naik memanfaatkan interior MRT untuk berswafoto. “Baca doa, kita nggak pakai asuransi,” celetuk salah seorang penumpang memecah suasana diikuti gelak tawa penumpang lainnya.

Memasuki terowongan usai Stasiun Sisingamangaraja, lagi-lagi salah satu penumpang berseloroh. ’’Ini terowongan bukan terowongan Casablanca ya,’’ diikuti gelak tawa penumpang yang lain. Kereta tiba di Stasiun Bundaran HI pukul 12.17 WIB. Penumpang kembali keluar dengan mengantre.

Kepada INDOPOS, Merris Yakob, 70, seorang penumpang, mengaku penasaran ingin mencoba MRT Jakarta. Kemudian ia mengajak rekannya, Siti Rahayu, 64, mengikuti ujic oba MRT Jakarta. “Kemarin yang daftarin online anak. Pengen tahu saja rasanya naik MRT Jakarta,” ujar lansia yang tinggal di Kebon Jeruk tersebut.

Ia mengaku bangga dengan MRT Jakarta. Dia menuturkan, biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak rugi dengan semua perlengkapan dan kecanggihan MRT Jakarta. Ia berharap, MRT Jakarta menerapkan kartu lansia seperti pada bus Transjakarta. “Kita ingin untuk lansia gratis dengan kartu lansia seperti di bus Transjakarta,” ujarnya. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Komisaris Utama BUMN ini Punya Hobi Bermain Golok

Megapolitan / Banyolan Pemain Lenong Bikin Perut Sakit di Festival Budaya Betawi

Headline / Ali Mochtar Ngabalin, dari Loper Koran jadi Komisaris AP I

Headline / Di Balik Kesuksesan Pegadaian, Ada Peran Para Komisarisnya

Megapolitan / Ramai-ramai Mengawasi Renovasi Masjid Istiqlal


Baca Juga !.